KONTAK SAYA

Email Twitter Facebook

TELUSURI

GALERI FOTO

Kategori Arsip Daftar Isi

MULAI DARI SINI

Pelayanan Portfolio Pembayaran

Selasa, 13 Desember 2011

KUTUKAN SANG PENDEKAR

     Setelah dhuta dari majapahit yang menyerahkan surat permintaan maap atas tragedy bubat dan abu kremasi prabu linggabuana serta putri dyah pitaloka berlalu dari balerung kraton padjajaran, dari balik singgasana muncul satu sosok pemuda gagah dengan mahkota emas bertengger dikepalanya, dialah niskala wastu kencana yang mempunyai nama kecil rd. anggalarang yang telah ditabalkan sebagai putra mahkota yang kelak menggantikan ayah handanya prabu linggabuana, menjadi prabu di kedaton padjajaran.


“angger anggalarang, paman mengerti akan keputusan mu untuk menantang duel dengan mahapatih gadjah mada tidak bias ditawar lagi, namun seperti tradisi yang telah turun-temurun sebelum memegang tampuk kekuasaan dipadjajaran, dirimu harus melukukan lelaku pengembaraan selama satu tahun,tradisi inipun pernah dilakukan oleh kakek buyut, eyang serta ramandamu dimasa mudanya..”

Anggalarang Cuma diam tepekur dihadapan pamannya, dirinya menyadari betul akan tradisi yang telah berlaku dikerajaannya.

Rabu, 30 November 2011

SANG DURJANA


    Mendung bergulung diatas kedaton majapahit,  sehari setelah tragedy pembantaian kesatria-kesatria padjajaran dimana sang prabu pasundan lingga buana dan putrinya dyah pitaloka ikut tewas belapati demi nama baik padjajaran, siang itu prabu anom hajam wuruk tampak duduk termenung disingasananya, hati raja muda ini seakan tercabik ribuan sembilu, niatnya untuk mempersunting dyah pitaloka sebagai permaisuri pupus sudah, dihadapan prabu hajam wuruk duduk terpekur dengan kepala tertuju ke lantai sang mahapatih gadjah mada.
“paman mada, mengapa berakhir seperti ini, bagaimana tanggung jawabku pada kerabat kerajaan padjajaran..”
Sebelum menjawab, patih berusia lanjut ini tampak menarik napas panjang seakan ada batu sebesar gunung menghimpit dadanya.
“angger prabu, semua kejadian ini tanggung jawab hamba..hamba siap mendapat hukuman..”
“paman mada, bukan masalah siapa yang bersalah dan siapa yang bertanggung jawab, namun setidaknya paman sebagai mahapatih seharusnya tahu niat saya mempersunting putri padjajaran itu bukan sekedar pelengkap sahnya seorang prabu, namun untuk menyambung tali kekeluargaan antara dua kerajaan.bukankah pendiri majapahit terdahulu yakni dyah sanggrama wijaya berasal dari pasundan juga keturunan dari lembu tal yang berasal dari sunda.”
“hamba paham angger prabu, lalu apa yang harus hamba lakukan..”
“satu hal lagi paman mada, saya hargai sumpah palapa paman, namun saya harap jangan terlalu kaku dalam pelaksanaannya..”
“hamba angger prabu…”
Mahapatih gadjah mada hanya bisa rangkapkan kedua tangannya didepan kening, patih yang telah mengabdi selama tiga decade ini haya mampu mengarahkan pandanganya dilantai kedaton.
“sekarang dengar titah saya paman mada, kirim  abu jenazah prabu linggabuana dan putri dyah pitaloka ke padjajaran, sampaikan permohonan maap saya pada rakyat padjajaran dan kerabat kedaton padjajaran, sampaikan pada niskala wastu kencana sebagai adik dari dyah pitaloka dan pamannnya mangkubumi bunisora suradipati..”
“sendika angger prabu, hari ini juga hamba akan mengutus telik sandi untuk berangkat ke padjajaran..”
Setelah merangkapkan kedua tagannya didepan kening, mahapatih gadjah mada langsung beringsut meninggalkan balai singgasana .
Langkah mahapatih gadjah mada ini terhenti ketika sesosok tubuh tampak berdiri sambil menundukan wajahnya ketanah rerumputan halaman istana.
“demung wira, kalau saja aku tidak mempertimbangkan jasamu, saat ini juga kepalamu menggelinding dialun-alun selatan..”
“ampunkan hamba mahapatih, semua ini salah hamba..hamba siap mendapat hukuman…”
“ssrrreeett..!!”
Mahapatih gadjah mada lantas cabut bilah keris dari warangkanya

Jumat, 11 November 2011

TRAGEDI PATREM SAKADOMAS


     Mentari baru saja menampakkan sinarnya yang hangat ketika sekitar lima buah perahu layar besar merapat dipelabuhan tuban, tak lama dari dalam perahu berloncatan beberapa orang bertampang gagah berpakaian prajurit lengkap dengan tameng dan tombak ditangan mengawal satu sosok lelaki dengan mahkota gemerlapan bertengger dikepalanya sedang dibelakangnya berjalan dengan anggun satu sosok dara ayu berpakaian ringkas berwarna merah hati dengan sebilah pedang hijau terselip dipinggang kirinya.
“paman rakyan jalawatra, apa kedaton majapahit masih jauh dari sini..”
“maap gusti prabu, dari pelabuhan tuban kita akan melanjutkan perjalanan berkuda kearah timur, kurang lebih setengah hari kita akan sampai ditapal batas majapahit..”
“baiklah, putriku dyah pitaloka..dirimu dan ibundamu menaiki tandu, sedangkan aku akan berkuda bersama rakyan jalawatra didepan..dan kalian para prajurit kawal kami disamping kanan dan kiri serta belakang..”
“baik gusti prabu..”
Rombongan yang tak lain dari prabu lingga buana, raja agung pasundan yang bermaksud menyelenggarakan pernikahan atas putri padjajaran dyah pitaloka dengan raja majapahit raja sanegara prabu hayam wuruk ini lantas naik keatas punggung kudanya dan tak lama iring-iringan calon pengantin ini bergerak meninggalkan pelabuhan tuban.

Jumat, 28 Oktober 2011

EMBUN MERAH SEMENANJUNG HIMALAYA


     Bulir-bulir salju perlahan menitik dari angkasa menerpa kepala dua sosok tubuh yang tampak duduk bersila diatas sebuah tebing batu yang curam, tak menunggu lama gundukan salju terlihat menyelimuti sekujur tubuh keduanya hingga sebatas leher, namun kedua pemuda berambut gondrong ini seakan tak memperdulikan dinginnya salju dan terpaan angin yang seakan membeset permukaan kulit bak sembilu itu, kedua sosok ini tetap tak bergeming seolah gundukan batu karang yang kokoh.
Tak lama dari empat penjuru mata angin menderu dengan dahsyat kilatan-kilatan berwarna keperakan mengurung kedua sosok ini dengan cepat, saking cepatnya kilatan-kilatan berwarna keperakan ini tampak berpendar kesegala arah
“Dhhhhuuuaaaarrrr…!!”
Dentuman keras menggelegar mengguncang tempat dimana kedua sosok ini masih duduk bersila dengan gundukan salju yang membenamkan keduanya hingga leher, titik-titik salju semakin rapat turun dari langit, detik berikutnya kawasan itu dilanda badai salju yang ganas hingga radius seratus meter.

Tiga bulan kemudian

     Sosok kerempeng dengan selempang kain putih tampak melangkah dengan tenang diantara bulir-bulir salju yang menitik dari angkasa, gundukan salju yang berada didepannya seakan bagai gumpalan kapuk yang lunak diterjangnya dengan mudah, tiga langkah dihadapan sebuah gundukan salju yang besar sosok kerempeng dengan selempang kain putih ini hentikan langkahnya.
“keluarlah, masa pertapaan kalian telah usai..”
Walau pelan ucapan yang keluar dari bibir orang tua berselempang kain putih ini namun mampu menggetarkan gundukan bongkahan salju dihadapanya hingga luruh kebawah, dan dari dalam gundukan salju terlihat dua sosok tubuh  dalam posisi bersila.
“sifu zen..”
Ucap kedua pemuda ini bersamaan, sambil rangkapkan kedua tangan masing-masing didepan dada
Orang tua berselempang kain putih yang dipanggil sifu zein ini Cuma tersenyum simpul
“murid-murid ku.. perlihatkan padaku hasil dari latihan kalian..windu kuntoro kau duluan..”
“baik sifu zen..”
Pemuda gagah bernama windu kuntoro ini lantas rangkapkan kedua tanganya didepan dada detik berikutnya sosoknya tampak melesat keatas jungkir balik beberapa kali diudara dan begitu kebut telapak tangan kanannya kedepan seberkas sinar putih kebiruan melesat dari telapak tanganya dan dengan dahsyat menerpa sebatang pohon pinus hingga menjadi bubuk berwarna biru.
“jurus kuntum kilat melecut ragamu nyaris sempurna, windu kuntoro kau harus banyak berlatih hingga tingkat ketiga bisa kau kuasai..”
“baik sifu..”
“nah sekarang giliran mu lindu bergola..”
Pemuda dengan perawakan jangkung ini rangkapkan kedua tangannya didada dan dalam satu kelebatan sosoknya tampak menjadi tujuh bayangan yang berbeda.
“lindu bergola, jurus tujuh bayanganmu sudah sempurna..murid-muridku kemarilah ada sesuatu yang musti kalian ketahui..”
Kedua pemuda ini lantas duduk bersila diatas salju dihadapan gurunya
Sifu zen lantas memasukan tangannya dibalik kain putih, dua buah benda tampak berada dalam kedua tangannya
“kitab pusaka mustika halilintar ini baru akan aku berikan begitu jurus kuntum kilat melecut raga level pertama bisa kau sempurnakan windu kuntoro, dan batu bintang sangga buana ini bisa dijadikan pedang mustika paling hebat bila jurus tujuh bayangan lindu bergola telah mencapai level ketujuh..sekarang kalian boleh beristirahat..”
“baik sifu..”
Ujar windu kuntoro dan lindu bergola bersamaan, namun begitu orang tua berselempang kain putih ini balikan badan, tak disangka secara bersamaan kedua pemuda ini lancarkan serangan mematikan dan telak mengenai anggota badan yang sangat vital dari sifu zen,  tubuh orang tua ini seketika ambruk diatas salju genangan merah terlihat menetes dari sela-sela bibir orang tua ini menetes diatas hamparan putihnya salju, yang seketika menjadi merah.
“durjana apa..apa..yang..kalian lakuka..kan..”
Ujar orang tua berselempang kain putih ini terbata-bata
Tapi tanpa belas kasihan kedua pemuda ini kembali menyerang secara serentak, hingga detik berikutnya sifu zen terkapar diatas salju, nyawanya putus sudah dengan meninggalkan tanda Tanya dalam hatinya, mengapa kedua muridnya begitu tega menghabisi dirinya.
Sementara itu, setelah membunuh sang guru windu kuntoro dengan cepat ambil kedua benda yaitu kitab pusaka mustika halilintar dan batu bulan sangga buana .dan dengan cepat lesatkan badannya keudara tanpa memperdulikan teriakan dan caci maki dari lindu bergola.
Wiku dharma persada sesaat usap wajahnya
“begitulah ceritanya sanjaya, setelah aku kembli ketanah jawadwipa batu bulan sangga buana secara gaib raib dan hilang dari tanganku, dan entah bagaimana ceritanya batu bulan itu berada dimajapahit dan dimiliki seorang pembesar keraton, tapi mudah-mudahan dengan kau menyerahkan batu bulan yang sekarang sudah jadi sebilah pedang,  lindu bergola atau pertapa sapta raga bisa maklum dan berkenan mengangkatmu menjadi muridnya..”
Wejangan dan cerita wiku dharma persada pada sanjaya yang akan berangkat ketanah Hindustan itu masih terngiang ditelinga sanjaya yang kini telah berada ditanah Hindustan dalam rangka menyambangi pertapa sapta raga agar dirinya dapat diangkat menjadi murid dari sang pertapa untuk menandingi jurus kuntum kilat melecut raga level ketiga kepunyaan manggala si arit iblis.
(harap baca episode pertama: Rajah Kala Cakra, pen)

ooooOoooo

     Senja temaram melingkupi kawasan jurang tanpa dasar semenanjung Himalaya, ketika sanjaya dan pemuda yang baru dikenalnya rajes menginjakan kaki disebuah tebing yang curam dimana sejauh mata memandang hanya hamparan bebatuan yang berlumut tebal, hembusan angin tampak megibarkan rambut gondrong dari sanjaya.
“tuan pendekar saya hanya bisa mengantar sampai disini..”
“rajes engapa dirimu seperti ketakutan..”
“tuan pendekar, seperti yang pernah saya katakana ditempat inilah pertamakali saya bersekutu dengan iblis dan mendapat kutukan , tuan pendekar saran saya urungkan saja niat anda..”
Seperti tak mengacuhkan ucapan rajes, pemuda gagah dengan parut melintang dipipi kirinya ini langkahkan kaki lebih dekat kebibir jurang, diambilnya sebongkah batu yang cukup besar lalu dilemparnya kebawah, lama pemuda ini menunggu namun suara yang diharapkannya tak kunjung terdengar, yang menandakan betapa dalamnya jurang yang menganga dihadapannya ini
Dengan hati-hati sanjaya melongok kan kepalanya dibibir jurang, sebersit hawa sedingin es langsung menyergapnya.
“rajes ceritakan padaku tentang iblis yang bersekutu dengan dirimu itu..”
“baiklah tuan pendekar, mungkin setelah mendengar kisah saya, tuan pendekar akan mengurungkan niat berurusan dengan mahluk ditempat ini….”

Rabu, 12 Oktober 2011

PRAJA PATI WILWATIKTA


     Hembusan angin timur dari lereng pegunungan arjuna begitu menyejukan, dari lamping bukit seorang pemuda berparas gagah terlihat berdiri dipinggir tebing yang menjorok kelembah dimana sebuah perdikan yang dikelilingi hutan pinus tampak meremang tersaput kabut senja hari, sesaat pemuda berbaju hitam ini betulkan letak buntalannya di punggung sebelah kiri, matanya terus mengawasi perdikan dikaki gunung arjuna itu.
“welangun, inikah perdikan dimana aku dilahirkan..”
Gumam pemuda berbaju hitam yang tak lain dari sungging prabangkara, setelah beberapa hari lalu dari kota raja majapahit dimana pemuda ini tanpa sengaja memperoleh anugrah dari prabu hajam wuruk yang merasa berkenan dengan lukisan putri  padjajaran dyah pitaloka yang dilukis sungging prabangkara.
“seperti apakah kondisi biungku sekarang..lebih baik aku segera keperdikan itu..”
Dengan sekali jejekan kakinya ketanah sosok sungging prabangkara dalam sekejap terlihat menuruni bukit dengan ringannya, pemuda ini tak menyadari sekelebatan bayangan dengan sebat mengikutinya dari belakang, ketika pemuda berbaju hitam ini mulai memasuki perbatasan perdikan sosok bayangan yang menguntitnya raib diatara rimbunnya pokok-pokok pinus yang melingkar mengelilingi perdikan welangun.
Sungging prabangkara tapak melangkah pelan memasuki gerbang perdikan welangun, dada pemuda gagah ini serasa sesak oleh perasaan rindu terhadap sosok seorang ibu yang selama belasan tahun hanya berada dalam bayangannya saja sesuai dengan yang diceritakan gurunya ketika masih berada dipuncak pegununga semeru.
Disebuah pinggir hutan kecil sungging prabangkara hentikan langkahnya, terpaut sepuluh tombak dihadapanya berdiri satu pondok panggung yang keseluruhanya terbuat dari rotan, di halaman depan terlihat seorang perempuan kurus paruh baya tengah membelah pokok-pokok pinus dengan sebilah golok, sungging tampak tercenung ditempatnya berdiri, kelopak matanya terasa panas dan ketika menarik napas dirasakannya buliran air bening meluncur dipipinya.
“inikah biungku..kasihan dalam umurnya yang mulai sepuh semuanya dikerjakan sendiri..”
Sungging prabangkara seakan terpaku ditempatnya berdiri, matanya terus mengawasi perempuan yang adalah biungnya sendiri itu dengan berbagai perasaan yang berkecamuk  sampai perempuan yang bernama welas ini menyadari ada seseorang yang berdiri mengawasinya, welas lantas berjalan menghampiri sungging prabangkara.

Minggu, 18 September 2011

PINANGAN BERDARAH


     Lereng bukit terjal,  dimana terdapat sebuah bangunan yang keseluruhannya terbuat dari batu granit itu tampak sunyi tersaput halimun tipis dipagi hari, tapi bilamana angin berhembus dari puncak bukit lapat-lapat terdengar sura berdesing bersiur berkepanjangan, itu mungkin suara angin yang terpesat masuk kecelah kecil dipunggung bukit yang tidak bisa kembali keatas.
Mentari perlahan menyemburatkan sinarnya yang hangat menyapa mayapada membuyarkan tetesan-tetesan embun yang bergayut ditengah daun keladi hutan, namun suasana pagi haripun tetap tak ada perubahan tempat itu tetap sunyi senyap bahkan suara burung dan serangga yang lajim mendendangkan suara alampun seakan sirap, yang terdengar hanya suara hembusan angin yang semakin kencang dan suara desingan dipunggung bukitpun semakin keras terdengar memecah kesunyian.
Dari kaki bukit terjal satu bayangan tampak dengan ringan berlompatan diantara bebatuan yang berlumut,  siapapun sosok bayangan itu dipastikan memiliki kapasitas ringan badan yang sempurna, karena jika salah perhitungan menjejak bebatuan runcing berlumut dan sampai terpeleset,  dibawah sana jurang lebar menganga dengan bebatuan runcing bak tombak siap melumatkan tubuhnya.
Hanya butuh beberapa lompayan saja, akhirnya sosok bayangan ini dengan ringan jejakan kakinya dipuncak bukit dimana sepuluh tombak didepan berdiri dengan angker sebuah bangunan yang keseluruhan dinding dan atapnya terbuat dari batu granit yang keras.
Bangunan ini sungguh aneh, hampir keseluruhannya dari batu granit dan yang lebih aneh lagi bangunan ini tak memiliki pintu masuk ataupun jendela buat sirkulasi udara, sosok tubuh tegap ini sesaat usap wajahnya yang berpeluh, satu goresan panjang melintang terlihat dipipi sebelah kirinya, sosok yang tak lain dari sanjaya calon penguasa dunia prsilatan dengan menghalalkan segala cara ini raba didnding batu granit dengan telapak tangan kanannya dan begitu tusukan kelima jarinya diantara celah kecil perlahan sebuah dinding batu bergeser kebawah amblas kedalam tanah dengan cepat sanjaya lesatkan badannya kedalam bangunan tersebut bersamaan dengan menutupnya kembali pintu batu disusul gemuruh samar dan tak lama berselang keseluruhan bangunan yang terbuat dari batu granit itu amblas kedalam tanah, suasana kembali hening dan sunyi seakan tak terjadi apapun sebelumnya ditempat itu.
Didalam bangunan batu granit yang ternyata berpungsi seperti lif dizaman modern itu sanjaya tampak berdiri dengan sebelah tangan kanannya mengapit sebilah pedang yang tak lain dari pedang sangga buana hasil rampasan dari seorang mpu dengan cara menyamar sebagai murid dari sang mpu dan akhirnya dibunuhnya juga mpu tsb  dengan pedang ciptaannya sendiri oleh sanjaya ( baca eps. Balada cinta dyah citraresmi pitaloka, pen) .
Sanjaya merasakan bangunan dari batu granit yang membawanya meluncur kebawah berhenti, kembali pemuda gagah ini tempelkan telapak tangan kanannya dan begitu kepalkan jari-jarinya secara otomatis lempengan batu granit itu terbuka keatas dan sanjaya dengan cepat lesatkan badannya keluar dari bangunan batu granit  dan didepan sana seorang lelaki berjubah dengan bulatan-bulatan hitam berjumlah enam buah tampak tersenyum simpul kearahnya.
“luar biasa, kau berhasil sanjaya..”
“romo guru, tak susah bagi diriku untuk mendapatkan pedang mustika ini..”
Gumam sanjaya sambil menyerahkan bilah pedang mustika sangga buana pada orang tua dihadapannya yang tak lain dari wiku dharma persada, pemimpin partai lintas aliran halilintar sewu
“aku percaya sanjaya, dan kau lihat seluruh senjata mustika yang berada dikuburan mustika ini, kelak akan aku wariskan kepadamu..”
“dan bila waktu itu tiba aku telah menjadi penguasa rimba persilatan tanah jawa ini..”
Sentak sanjaya, hingga gema suaranya menggetarkan dinding-dinding gua kuburan mustika
“hahaha..tepat sanjaya tepat..tapi  ada sesuatu yang mengganjal dibenakku..”
“apa itu romo guru..”
“kau masih ingat dengan ceritaku tentang  manggala..”
“orang yang akan membunuhku ketika orok, dan  karena dia juga wajahku menjadi cacat”
Sentak sanjaya sambil kepalkan kedua tangannya
“benar sanjaya..”
“aku akan memburunya, walau dia bersembunyi dilubang semut pun..”
“kau tak perlu melakukannya, karena aku yakin dia akan datang lagi kemari menuntut balas”
“kebetulan..jadi aku tidak susah-susah memburunya..”
“namuh ada hal yang musti kau ketahui, manggala telah membawa lari kitab mustika andalan halilintar sewu, dan aku yakin seluruh kitab itu telah dia kuasai..”
“aku tidak gentar romo guru..”
“asal kau tahu sanjaya, semua jurus dan olah kanuragan yang aku turunkan padamu, baru tingkat pertama dan bila manggala telah berhasil menyempurnakan isi kitab sampai tingkat tiga kau akan dilibasnya dengan mudah..”
“lalu apa rencana romo guru selanjutnya..”
“pergilah ke jurang tanpa dasar semenanjung himalaya, bergurulah pada pertapa sapta raga, dengan ajian yang dimilikinya dirimu akan mampu menandingi jurus kuntum kilat melecut raga tingkat tiga yang dikuasai manggala si arit iblis..”
“maap, romo guru..apa pertapa itu bersedia mengangkatk ku sebagai murid..”
“serahkan pedang mustika sangga buana pada pertapa sapta raga, niscaya dirimu akan diangkatnya menjadi muridnya..”
“jadi ini tujuan guru mengutus ku, merampas pedang sangga buana..”
“tepat sanjaya..nah sekarang pergilah..ke jurang tanpa dasar semenanjung Himalaya di negri Hindustan..”
(catatan: bagi pembaca yang penasaran dengan tempat bernama jurang tanpa dasar semenanjung Himalaya, di hindustan, kini india. harap baca karya KYT sebelumnya di blog Bhumi deres mili Eps: Mustika Lembah Cimanuk, pen)
“baik romo guru, hari ini juga aku akan berangkat ke nagri Hindustan..”
Ucap sanjaya, lalu rangkapkan kedua tanganya didada, setelah itu kembali masuk kedalam bangunan batu granit yang akan membawanya kembali keatas permukaan tanah.
Setelah kepergian sanjaya wiku dharma persada tampak sandarkan dirinya didinding gua  matanya tampak kosong menerawang langit-langit gua kuburan mustika yang tampak memancarkan warna lembayung dari bongkahan stalagtit diatas gua.
“kalau saja sanjaya tahu, aku pun dulu menginginkan nyawanya..mungkin ceritanya akan lain..”
Membatin wiku dharma persada dalam hati, kemudian lelaki tua plontos dengan bulatan hitam berjumlah enam dikepalanya ini pejamkan kedua matanya, tak lama pemimpin partai halilintar sewu ini larut dalam semadinya.

Selasa, 13 September 2011

PETAKA PEDANG SANGGA BUANA


     Bukit pualam biru meremang dalam kabut dini hari, semilir angin tenggara meliuk meningalkan gemerisik berkepanjangan manakala menerpa beberapa daun pohon siwalan yang banyak tumbuh berderet melingkari sebuah pedataran luas di lamping bukit pualam biru, sosok renta Mpu.Palwa tampak duduk bersila di atas sebuah lempengan batu pipih, semalaman Mpu pembuat berbagai senjata mustika ini terpekur besemadi mengheningkan cipta, rasa, karsa dan raganya dalam sentuhan akhir penyempurnaan sebuah senjata mustika pesanan orang penting dari kedaton Wilwatikta, di pangkuan Mpu. Palwa terlihat bilah sebuah pedang tipis berwarna perak kebiruan berpendar menyelimuti badan pedang, bilamana semilir angin berhembus terdengar desingan halus dari badan bilah mustika itu.

“duh Gusti yang maha Agung..terimakasih, atas kehendak MU, bilah pusaka ini dapat saya rampungkan..”
Gumam Mpu. Palwa sambil usap bilah pedang mustika itu dengan pelan kemudian secara perlahan dan penuh perasaan ditempelkannya bilah pedang mustika itu di kening nya, bersamaan dengan itu dari dalam pondok beratapkan sirap satu sosok pemuda dengan rambut di gelung di atas kepala muncul sambil membawa warangka dari kayu pohon siwalan.

“Mpu, warangka untuk pedang itu sudah saya selesaikan…”
gumam pemuda dengan rambut di gelung keatas, mpu. Palwa lantas angsurkan kedua telapak tanganya menyambut warangka yang di sodorkan sang pemuda.
“terimakasih Mangkurat..pedang pesanan kiageng Wanabaya ini bernama Sanggabuana…”
Kata Mpu. Palwa sambil perlahan memasukan bilah pedang mustika itu dalam warangkanya, kembali desingan halus terdengar manakala bilah pedang menyentuh bibir warangka.
“Sanggabuana, maknanya apa itu Mpu…” sela Mangkurat.
“Sangga artinya menjaga melindungi dan mengayomi, sementara Buana adalah alam semesta beserta isinya, pilosofinya siapapun yang memiliki pedang mustika ini di harapkan dapat membawa kemaslahatan bagi orang banyak dan menjaga keseimbangan tatanan alam semesta..”
gumam Mpu. Palwa sambil memeluk bilah mustika itu dalam dekapan nya.
“mangkurat, bilah mustika Sanggabuana ini seyogyanya akan di hadiahkan kiageng Wanabaya pada Gusti Prabu Hayam Wuruk, semoga dengan memiliki bilah mustika ini beliau dapat menjadi seorang raja yang selalu melindungi, mengayomi dan mengopeni rakyatnya dengan penuh welas asih..”
“maap Mpu, bolehkah saya memegang pedang mustika itu..” sela mangkurat
Mpu. Palwa hanya tersenyum, perlahan diangsurkannya bilah mustika Sanggabuana yang langsung di terima oleh Mangkurat.
“Mpu.apa keistimewaan mustika Sanggabuana ini..”
“Mangkurat..dengar, sejatinya di dunia ini setiap benda baik benda hidup atau mati tidak memiliki keistimewaan apapun, hanya dengan izin sang Maha kuasalah keistimewaan itu terwujud…”
“jadi buat apa Mpu selama itu menempa lempengan batu bulan ini hingga berwujud bilah pedang kalau tidak ada keistimewaan..”
“anak muda, semua benda pusaka dan mustika sejatinya tiada daya dan guna, hanya wadah yang telah ditempa yang mampu mencipta apakah sebuah senjata bisa membawa berkah atau petaka.. paham yang aku maksud mangkurat..”
“saya belum memahami sepenuhnya akan hal itu Mpu..”
“kelak kau akan menemukan jawabannya Mangkurat..”
“baiklah Mpu, apa saya sudah bisa membawa pedang ini..”
“tunggulah sampai matahari tepat di ubun-ubun mangkurat, karena aku belum mengisi khodamnya..”
“terlalu lama Mpu, menurut saya sebuah senjata mustika akan berarti bila sudah di butikan..”
“maksud kamu apa..mangkurat..”
“maksud saya adalah ini….”
“brreeesssss…!!”

Mpu Palwa terpana dalam kebisuan, matanya nyalang memandang orang di hadapannya, dirasakannya tubuhnya dingin membeku, bibirnya tampak bergetar namun tak ada satu patah katapun yang terlontar dari mulut Mpu uzur ini.
darah terlihat menyembur membasahi jubah putihnya manakala dengan tanpa perasaan Mangkuat anak muda yang selama sepekan membantunya merampungkan bilah mustika Sanggabuana menusukkan lebih dalam bilah pedang mustika itu sampai tembus ke punggung kirinya.

“heeekkk…!!”
hanya erangan halus yang terdengar dari bibir Mpu. Palwa manakala Mangkurat dengan cepat mencabut bilah pedang itu dari tubuh Mpu. Palwa lalu menendang nya.
“Mpu Bodoh..agar arwahmu tidak penasaran..lihat siapa aku sebenarnya…” sentak pemuda ini sambil perlahan melepas topeng tipis dari wajahnya, mpu palwa yang tengah sekarat hanya sempat memandang sebentar orang yang selama ini di kenalnya sebagai utusan dari kiageng. Wanabaya itu, sosok angkuh terlihat disana dengan guratan bekas luka melintang panjang di pipi sebelah kirinya, dan dengan cepat lesatkan tubuhnya kearah barat sambil menjinjing bilah mustika pedang sangga buana ditangan kananya.
bersamaan dengan lenyapnya sosok pemuda ganas tadi, dari balik bukit karang terjal melesat satu sosok lain yang anehnya baik pakaian, rambut dan perawakannya mirip dengan pemuda yang barusan pergi setelah membunuh dengan kejam Mpu. Palwa dengan pedang ciptaannya sendiri.
“Mpu.Palwa apa yang terjadi…”
sentak sosok pemuda yang barusan datang, perlahan kelopak mata Mpu. Palwa membuka dan sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya..
“kau..kau..” ujar Mpu. Palwa terbata-bata..
“saya Mangkurat Mpu, utusan kiageng Wanabaya..”
“pedang itu..pedang itu..”
……………………………………………
kelopak  mata Mpu. Palwa perlahan meredup, napasnya terlihat tersengal-sengal dan ketika butiran-butiran air dari langit mulai membasuh bumi, roh mpu palwa meninggalkan zasadnya.

     Setelah selesai mengurus zasad Mpu.Palwa dalam guyuran hujan yang semakin deras menyiram bumi pemuda yang memang benar bernama Mangkurat salah satu telik sandi yudha Majapahit utusan kiageng. Wanabaya ini menancapkan warangka dari pedang Sanggabuana yang ditemukannya tergeletak di tanah basah di lempeng batu tempat abu dari zasad Mpu. Palwa disimpan.

“kemana saya harus mencari sang durat mata itu, sebelum Mpu. Palwa menghembuskan napas terakhirnya beliau sempat mengucapkan satu kata..kalau tidak salah Rajah..kala..rajah kala cakra…yah..durjana itu memiliki rajah kala cakra di dadanya..jadi siapapun yang memiliki rajah kala cakra di dadanya dialah sang durat mata itu…”

Mangkurat lantas berdiri dari duduknya, pemuda dengan rambut di gelung keatas ini lantas jejakkan kakinya ke tanah yang dalam sekejap sosoknya kini terlihat jauh meninggalkan kaki bukit pualam biru dalam hujan badai yang seakan mengguncang mayapada.

ooooOoooo

selanjutnya: Pinangan Berdarah



Sabtu, 10 September 2011

BALADA CINTA DYAH CITRARESMI PITALOKA


     Embun bergantung diujung daun disaat sang surya memancarkan sinarnya, hembusan angin timur meliuk disela rumpun melati, titik embun itu tampak bergulir menetes kearah telaga mengguratkan pesona alam nan abstrak dipermukaan kolam berair jernih.
Tatapan mata bening itu terus menerawang seakan menembus ruang dan waktu yang tak terbatas,  perlahan desahanya terdengar berat disela gemuruhnya pancuran air ditengah telaga.
“gusti ayu, tidak baik seorang putri agung terlena dalam hayalan..”
Suara berat emban pengasuh membuyarkan lamunan dara ayu yang masih menatap kosong ketengah telaga.
Pemilik mata bening itu adalah Dyah citraresmi pitaloka, putri dari sang maharaja agung pasundan prabu. Lingga buana, seorang raja yang bertahta di tatar sunda  penguasa keraton pakuan padjajaran.
“mbok mban, salahkan jika seorang putri raja jatuh cinta..”
Gumam dara ayu ini lirih
“tentu tidak gusti ayu, rasa cinta dan tertarik dengan seseorang adalah hal yang wajar dan alami karena setiap insan ditakdirkan berpasangan oleh sang maha pemilik hidup, kalau boleh tahu..gusti ayu sedang jatuh cinta pada siapa..”
Dara ayu berkulit kuning langsat ini sesaat arahkan pandangannya kearah selatan dimana puncak sebuah gunung tersaput kabut dipagi hari
“dilereng gunung salak itu pertama kali kami bertemu, gagah, tampan, dan tatapan matanya begitu menyejukan kalbu..”
“siapa pemuda itu gusti ayu, pangeran dari kerajaan mana..” ujar mban pengasuh ini antusias
“namanya Sungging prabangkara..dan dia berjanji akan melamar saya mbok..”
“gusti ayu sudah dewasa..sudah pantas berkeluarga..”
“tapi…”
 raut wajah dara ayu ini kembali muram..
“ada apa gusti…”
“saya tidak tahu dimana dia tinggal, dan siapa dia sebenarnya..”
“maksud gusti ayu..”
“saya bertemu dia dialam mimpi..mbok..”
Gumam dyah pitaloka tertunduk lesu, membuat wanita pengasuh ini tercenung sesaat
“tapi saya terlanjur mencintainya mbok..saya lebih baik mati bila tidak bertemu dengan dia..”
Sentak dara ayu ini sambil berlalu meninggalkan mban pegasuhnya yang tampak bengong ditempatnya.

ooooOoooo

Senin, 05 September 2011

BHUMI DERES MILI "Pendekar Sada Lanang" RAJAH KALA CAKRA



Episode: Rajah kala cakra


     Bantaran sungai berantas meremang dalam kabut dini hari, deru suaranya begitu dahsyat manakala menerpa bebatuan gunung yang banyak berjajar disepanjang alirannya, dari lamping bukit sebelah timur terlihat asap tebal berwarna hitam membumbung diudara sepertinya sebuah perkampungan dilanda kebakaran hebat, tak lama puluhan penunggang kuda dengan wajah rata-rata bertampang sangar hentikan laju tunggangannya tepat dipinggiran sungai berantas.
“jarot, coba kau hentikan tangis orok itu..bisa gila aku mendengarnya..”
Sentak seorang penunggang kuda dengan cambang bawuk meranggas diwajahnya, orang ini bernama manggala dedengkot perampok lereng gunung wilis bergelar arit iblis.
“aku sedang upayakan manggala..”
 sela jarot sambil membolang baling orok yang terbungkis kain hitam dalam bedungannya, bukannya diam malah tangis orok ini semakin keras  melengking-lengking seakan merobek dinginya hawa pagi hari.
“apa susahnya membuat diam seorang orok, biar aku bereskan..!!”
Semprot manggala yang dalam satu kelebatan tubuh,  orok ini telah berada dalam cengkeraman tangannya lalau pada sebuah batu pipih orok yang masih merah ini dibaringkan.
“manggala apa yang akan kau lakukan..” teriak jarot manakala dilihatnya manggala mencabut arit iblisnya dan dengan pandangan dingin sabetkan arit iblis kearah batang leher sang orok
“crrrasss…”
Darah tampak mengucur dari pipi sebelah kiri sang orok, rupanya arit iblis hanya sempat menggores pipi kiri orok ini karena dengan kecepatan kilat jarot lelaki jangkung ceking ini berhasil merebut kembali orok yang barusan akan dibunuh manggala.
“manggala, apa kau sudah gendeng atau bagaimana..jika orok ini tewas kepala kita jadi taruhannya..”
sentak jarot lalu bebat pipi kiri orok yang terus mengucurkan darah, sedang manggala dengan gusar gebrak kudanya menyebrangi aliran sungai berantas kearah barat diikuti puluhan anak buahnya, sedang dengan segera jarot kembali melompat keatas kudanya lalu ikut menyeberangi aliran sungai berantas yang bergemuruh.

Jumat, 05 Agustus 2011

GORESAN KUAS DI UJUNG SENJA


     Malam merambat ke dini hari, hawa dingin berhembus menggetarkan gorden-gorden dari sebuah jendela rumah yang masih terbuka, seraut wajah pucat pias dengan tatapan hampa, kosong dan dalam tampak termangu dibalik jendela .
“satuuu.., duuuaaa..tigaaa..empaaatt..”
Suara lirih terdengar dari mulut mungilnya, namun tatapan matanya masih seperti tadi menerawang hampa dan dalam seakan tatapan mata itu datang dari dimensi lain dingin, gelap, sunyi dan misterius.
“limaaa..enammm..tujuuhh..”
Kembali suara parau itu terdengar dari bibir pucatnya, sementara malam semakin larut dingin dan sepi, detak-detak jarum jam dinding seakan tak mengusik sosok tubuh kurus yang masih duduk  termanggu dibalik jendela, sosok ini terus mengarahkan matanya yang sayu keluar jendela, kembali dari bibir keringnya terdengar mulai menghitung angka-angka.

ooooOoooo

“selamat pagi neng dara, apa kabar pagi ini..”
Sapa mang waluyo seorang juru  parkir komplek  berusia tujuh puluh tahun, walau usianya terbilang sepuh mang waluyo ini selalu memakai pakaian nyentrik ala anak muda metal dengan rambut putinnya yang selalu disasak keatas.
Tapi anehnya sapaan ramah itu tidak pernah ada tanggapan dari sosok gadis ini, gadis itu tetap diam dikursinya sambil menghadap keluar jendela kamarnya..
“satuuu…duuuaaa…tiiggaa…emmpatt..”
Kembali  dari bibir mungil gadis ini meluncur sebuah hitungan deret angka-angka, sedangkan mang waluyo dengan senyum-senyum simpul kembali melanjutkan perjalanannya, menggoes sepeda kumbang menuju tempatnya bekerja disebuah pasar induk sebagai juru parkir.

ooooOoooo

     Suasana ruang tengah yang luas itu seakan sempit, mungkin begitu yang dirasakan sepasang suami –istri yang tengah duduk disofa sambil melihat tayangan televisi, sesekali dari sudut mata wanita paruh baya ini mengalir butiran-butiran bening meluncur deras kearah pipinya, sementara sang suami dengan penuh kasih seka butiran-butiran air mata itu.
“sudahlah bu, jangan menangis terus, nanti ibu sakit..”
“tapi pak, bagaimana dengan anak kita dara..kasihan dia, semuda itu harus menanggung beban yang berat, kalau boleh berandai-andai biarlah ibu saja yang menanggungnya..”
“bapak tahu bu, tapi kita sudah berupaya semaksimal mungkin..kita serahkan saja semuaya pada penanganan dokter dan kehendak takdir..”
“apa dokter itu tidak salah mendiagnosis penyakit anak kita pak..”
“bapak juga kurang tahu bu..tapi dari hasil tes darah dan penunjang lainnya, rasanya sudah menjawab semuanya bahwa anak kita dara menderita leukemia atau kangker darah..”
“berarti umur anak kita tinggal seminggu lagi, pak..kasihan dia..”
“bu, itu baru vonis dokter, ajal ditangan gusti Allah..”
“yah, bapak benar..”

ooooOoooo

“neng  dara selamat, pagii..apa kabarnya…”
Sapaan hangat mang waluyo sang juru parkir nyentrik selalu menghiasi suasana pagi dari aktifitas gadis tujuh belas tahun ini, tapi seperti biasa tak ada tanggapan, reaksi, ataupun apapun yang bisa mengalihkan pandangan sayu dara yang selalu menerawang lurus kedepan .
“satuuu..duuuaaa..tigggaaa…emmpattt..”
Seperti biasa meluncur hitungan..hitungan dari bibir gadis ini, awalnya mang waluyo tidak begitu perduli dengan sikap gadis tetangganya ini, namun lambat laun rasa penasarannya tak bisa dibendung lagi, hingga pada satu kesempatan sang juru parkir nyentrik ini bertemu dengan bi.yuli pembantu yang bekerja dirumah dara dipasar, dan dari bi yuli lah satu misteri terungkap.
“bi, ane heran, setiap hari neng dara selalu menghitung..satu sampai sekian, sebenarnya apa yang di hitungnya bi..”
Awalnya bi yuli, Cuma diam agaknya perempuan paruh baya ini menyimpan sesuatu yang dia sendiri yang mengetahui dan tidak mau membaginya pada siapapun, namun karena didesak terus oleh mang waluyo akhirnya bi yuli mau berbagi cerita.
“kuntum-kuntum daun melati ..”ujar bi.yuli bergetar
“kuntum daun melati, maksud bi yuli..”
“neng dara menderita leukemia, dan dokter telah memvonis umurnya Cuma bertahan hingga seminggu..”
“lantas apa hubungannya dengan kuntum daun melati..”
“neng dara tengah menghitung hari kematiannya sendiri…”
“ahh..bi.yuli ini..membuat ane tambah bingung..”
“didepan jendela neng dara tumbuh rumpun melati yang menempel ditembok, setiap hari kuntum melati yang jatuh dan berguguran ditanah selalu dia hitung , dia beranggapan ketika kuntum daun melati terakhir gugur, maka saat itulah dirinya juga akan meninggal..”
“ah..sudah sedemikian putus asanya neng dara..” gumam lirih mang waluyo.

ooooOoooo

Enam hari kemudian
“sattuuu..duuuaaa..tiggaaa..emmpatt..”
“neng dara makan dulu, dari kemarin makanan yang bibi buat tak disentuh sedikitpun..nanti neng dara sakit..”
“saya sakit bii, dan sebentar lagi meninggal seperti gugurnya kuntum daun melati yang tinggal satu itu..” gumam gadis ini sambil menunjuk kedepan.
Bi yuli tersentak, diarahkan pandangan matanya ketembok dimana rumpun melati berada, dan benar saja..disana Cuma tersisa satu kuntum daun melati ditangkainya.
“bi..jika kuntum itu jatuh..saya juga akan meninggal bi..begitukan bi..”
“neng dara jangan bilang begitu, bibi sedih mendengarnya..”

Hari ke Tujuh
     Sinar mentari pagi semburat menembus kisi-kisi jendela dara, pagi itu seperti biasa setelah mandi dan sarpan gadis manis ini membuka jendelanya, sinar mentari menerpa wajahnya yang imut sedang hembusan angin segar mengurai rambutnya yang panjang sebahu, diarahkan mataya kerumpun bunga melati yang menempel didinding gerbang rumahnya, disana satu kuntum daun melati masih tersisa. 

     Dara terus mengawasi kuntum daun terakhir yang masih ditangkainya itu, hari merambat siang dara terus melihat kuntum terakhir dari daun melati, karena lealah akhirnya gadis ini tertidur dikursi rotannya, dan ketika bangun disore harinya kuntum terakhir dari bunga melati itu masih ada ditangkainya.
Hidayah Allah akan datang dari jalan manapun, begitupun dengan gadis ini, perlahan semangat hidupnya mulai bangkit , berjam-jam lamanya menanti gugurnya kuntum daun melati yang sepertinya enggan meninggalkan tangkainya.
“kuntum daun melati itu saja bisa bertahan dan tegar walau tinggal satu, mengapa saya tidak..”
Begitu kira-kira yang ada dipikiran gadis ini
“sudah hari ketujuh, namun saya masih bisa menatap mentari..”gumamnya.
Gadis ini terus merenung, tiba-tiba dia merasakan sesuatu yang kurang dipagi ini..apa ya..fikirnya..
Oh..ya..sapaan hangat dari mang waluyo, juru parkir nyentrik itu pagi ini sampai siang begini belum Nampak wajahnya yang lucu itu dan juga suara deritan sepeda kumbangnya, kemana ya mang waluyo
Entah apa yang dipikirkan dara, namun hari ini dia sangat kangen sama mang waluyo
“bi  yuli..dari mana..”
Teriak dara mana kala dilihatnya bi yuli muncul dari mulut gang
“melayat neng..”
“siapa yang meninggal bi..”
“mang waluyo neng, semalam dia ditabrak truk ketika selesai markir..”
Dengan segera dara berlari keluar rumahnya, dan langsung menuju rumah mang waluyo diikuti bi yuli, disana sudah berkumpul banyak warga didepan rumah juru parkir nyentrik ini, dibawah sebuah pohon mangga dara menemukan sebuah tangga dan sekaleng cat beserta kuasnya.
“apa yang terjadi bi..”
“semalaman, mang waluyo melukis kuntum daun melati ditembok neng dara, mang waluyo tahu kuntum terakhir pasti jatuh, makanya demi menyemangati neng dara dia melukis kuntum melati itu, tapi sayang ketika dia mau menyeberang sebuah truk menabraknya..”
“mang waluyoo..”

SELESAI
Salam Bhumi Deres Mili
Penulis

Lisensi

Lisensi Creative Commons
BHUMI DERES MILI by BHUMI DERES MILI is licensed under a Creative Commons Atribusi 3.0 Unported License.
Berdasarkan karya di KANG KUSYOTO, KYT.
Permissions beyond the scope of this license may be available at http//:www.bhumideresmili.blogspot.com.

Total Tayangan Halaman

About

Pages

Download

Powered By Blogger

Search Box

Popular Posts

Followers