KONTAK SAYA

Email Twitter Facebook

TELUSURI

GALERI FOTO

Kategori Arsip Daftar Isi

MULAI DARI SINI

Pelayanan Portfolio Pembayaran

Jumat, 05 Agustus 2011

GORESAN KUAS DI UJUNG SENJA


     Malam merambat ke dini hari, hawa dingin berhembus menggetarkan gorden-gorden dari sebuah jendela rumah yang masih terbuka, seraut wajah pucat pias dengan tatapan hampa, kosong dan dalam tampak termangu dibalik jendela .
“satuuu.., duuuaaa..tigaaa..empaaatt..”
Suara lirih terdengar dari mulut mungilnya, namun tatapan matanya masih seperti tadi menerawang hampa dan dalam seakan tatapan mata itu datang dari dimensi lain dingin, gelap, sunyi dan misterius.
“limaaa..enammm..tujuuhh..”
Kembali suara parau itu terdengar dari bibir pucatnya, sementara malam semakin larut dingin dan sepi, detak-detak jarum jam dinding seakan tak mengusik sosok tubuh kurus yang masih duduk  termanggu dibalik jendela, sosok ini terus mengarahkan matanya yang sayu keluar jendela, kembali dari bibir keringnya terdengar mulai menghitung angka-angka.

ooooOoooo

“selamat pagi neng dara, apa kabar pagi ini..”
Sapa mang waluyo seorang juru  parkir komplek  berusia tujuh puluh tahun, walau usianya terbilang sepuh mang waluyo ini selalu memakai pakaian nyentrik ala anak muda metal dengan rambut putinnya yang selalu disasak keatas.
Tapi anehnya sapaan ramah itu tidak pernah ada tanggapan dari sosok gadis ini, gadis itu tetap diam dikursinya sambil menghadap keluar jendela kamarnya..
“satuuu…duuuaaa…tiiggaa…emmpatt..”
Kembali  dari bibir mungil gadis ini meluncur sebuah hitungan deret angka-angka, sedangkan mang waluyo dengan senyum-senyum simpul kembali melanjutkan perjalanannya, menggoes sepeda kumbang menuju tempatnya bekerja disebuah pasar induk sebagai juru parkir.

ooooOoooo

     Suasana ruang tengah yang luas itu seakan sempit, mungkin begitu yang dirasakan sepasang suami –istri yang tengah duduk disofa sambil melihat tayangan televisi, sesekali dari sudut mata wanita paruh baya ini mengalir butiran-butiran bening meluncur deras kearah pipinya, sementara sang suami dengan penuh kasih seka butiran-butiran air mata itu.
“sudahlah bu, jangan menangis terus, nanti ibu sakit..”
“tapi pak, bagaimana dengan anak kita dara..kasihan dia, semuda itu harus menanggung beban yang berat, kalau boleh berandai-andai biarlah ibu saja yang menanggungnya..”
“bapak tahu bu, tapi kita sudah berupaya semaksimal mungkin..kita serahkan saja semuaya pada penanganan dokter dan kehendak takdir..”
“apa dokter itu tidak salah mendiagnosis penyakit anak kita pak..”
“bapak juga kurang tahu bu..tapi dari hasil tes darah dan penunjang lainnya, rasanya sudah menjawab semuanya bahwa anak kita dara menderita leukemia atau kangker darah..”
“berarti umur anak kita tinggal seminggu lagi, pak..kasihan dia..”
“bu, itu baru vonis dokter, ajal ditangan gusti Allah..”
“yah, bapak benar..”

ooooOoooo

“neng  dara selamat, pagii..apa kabarnya…”
Sapaan hangat mang waluyo sang juru parkir nyentrik selalu menghiasi suasana pagi dari aktifitas gadis tujuh belas tahun ini, tapi seperti biasa tak ada tanggapan, reaksi, ataupun apapun yang bisa mengalihkan pandangan sayu dara yang selalu menerawang lurus kedepan .
“satuuu..duuuaaa..tigggaaa…emmpattt..”
Seperti biasa meluncur hitungan..hitungan dari bibir gadis ini, awalnya mang waluyo tidak begitu perduli dengan sikap gadis tetangganya ini, namun lambat laun rasa penasarannya tak bisa dibendung lagi, hingga pada satu kesempatan sang juru parkir nyentrik ini bertemu dengan bi.yuli pembantu yang bekerja dirumah dara dipasar, dan dari bi yuli lah satu misteri terungkap.
“bi, ane heran, setiap hari neng dara selalu menghitung..satu sampai sekian, sebenarnya apa yang di hitungnya bi..”
Awalnya bi yuli, Cuma diam agaknya perempuan paruh baya ini menyimpan sesuatu yang dia sendiri yang mengetahui dan tidak mau membaginya pada siapapun, namun karena didesak terus oleh mang waluyo akhirnya bi yuli mau berbagi cerita.
“kuntum-kuntum daun melati ..”ujar bi.yuli bergetar
“kuntum daun melati, maksud bi yuli..”
“neng dara menderita leukemia, dan dokter telah memvonis umurnya Cuma bertahan hingga seminggu..”
“lantas apa hubungannya dengan kuntum daun melati..”
“neng dara tengah menghitung hari kematiannya sendiri…”
“ahh..bi.yuli ini..membuat ane tambah bingung..”
“didepan jendela neng dara tumbuh rumpun melati yang menempel ditembok, setiap hari kuntum melati yang jatuh dan berguguran ditanah selalu dia hitung , dia beranggapan ketika kuntum daun melati terakhir gugur, maka saat itulah dirinya juga akan meninggal..”
“ah..sudah sedemikian putus asanya neng dara..” gumam lirih mang waluyo.

ooooOoooo

Enam hari kemudian
“sattuuu..duuuaaa..tiggaaa..emmpatt..”
“neng dara makan dulu, dari kemarin makanan yang bibi buat tak disentuh sedikitpun..nanti neng dara sakit..”
“saya sakit bii, dan sebentar lagi meninggal seperti gugurnya kuntum daun melati yang tinggal satu itu..” gumam gadis ini sambil menunjuk kedepan.
Bi yuli tersentak, diarahkan pandangan matanya ketembok dimana rumpun melati berada, dan benar saja..disana Cuma tersisa satu kuntum daun melati ditangkainya.
“bi..jika kuntum itu jatuh..saya juga akan meninggal bi..begitukan bi..”
“neng dara jangan bilang begitu, bibi sedih mendengarnya..”

Hari ke Tujuh
     Sinar mentari pagi semburat menembus kisi-kisi jendela dara, pagi itu seperti biasa setelah mandi dan sarpan gadis manis ini membuka jendelanya, sinar mentari menerpa wajahnya yang imut sedang hembusan angin segar mengurai rambutnya yang panjang sebahu, diarahkan mataya kerumpun bunga melati yang menempel didinding gerbang rumahnya, disana satu kuntum daun melati masih tersisa. 

     Dara terus mengawasi kuntum daun terakhir yang masih ditangkainya itu, hari merambat siang dara terus melihat kuntum terakhir dari daun melati, karena lealah akhirnya gadis ini tertidur dikursi rotannya, dan ketika bangun disore harinya kuntum terakhir dari bunga melati itu masih ada ditangkainya.
Hidayah Allah akan datang dari jalan manapun, begitupun dengan gadis ini, perlahan semangat hidupnya mulai bangkit , berjam-jam lamanya menanti gugurnya kuntum daun melati yang sepertinya enggan meninggalkan tangkainya.
“kuntum daun melati itu saja bisa bertahan dan tegar walau tinggal satu, mengapa saya tidak..”
Begitu kira-kira yang ada dipikiran gadis ini
“sudah hari ketujuh, namun saya masih bisa menatap mentari..”gumamnya.
Gadis ini terus merenung, tiba-tiba dia merasakan sesuatu yang kurang dipagi ini..apa ya..fikirnya..
Oh..ya..sapaan hangat dari mang waluyo, juru parkir nyentrik itu pagi ini sampai siang begini belum Nampak wajahnya yang lucu itu dan juga suara deritan sepeda kumbangnya, kemana ya mang waluyo
Entah apa yang dipikirkan dara, namun hari ini dia sangat kangen sama mang waluyo
“bi  yuli..dari mana..”
Teriak dara mana kala dilihatnya bi yuli muncul dari mulut gang
“melayat neng..”
“siapa yang meninggal bi..”
“mang waluyo neng, semalam dia ditabrak truk ketika selesai markir..”
Dengan segera dara berlari keluar rumahnya, dan langsung menuju rumah mang waluyo diikuti bi yuli, disana sudah berkumpul banyak warga didepan rumah juru parkir nyentrik ini, dibawah sebuah pohon mangga dara menemukan sebuah tangga dan sekaleng cat beserta kuasnya.
“apa yang terjadi bi..”
“semalaman, mang waluyo melukis kuntum daun melati ditembok neng dara, mang waluyo tahu kuntum terakhir pasti jatuh, makanya demi menyemangati neng dara dia melukis kuntum melati itu, tapi sayang ketika dia mau menyeberang sebuah truk menabraknya..”
“mang waluyoo..”

SELESAI
Salam Bhumi Deres Mili
Penulis

Kamis, 04 Agustus 2011

Tak sepahit Si Pahit Lidah



Swarna bhumi, awal abad  XXI

     Dari lamping bukit terjal ngarai sihanok sosok lelaki berpakaian hitam ini hentikan langkahnya, hembusan angin timur sesaat menyibak rambutnya yang gondrong sebahu seraut wajah tegas dengan sorot mata setajam sembilu pandang sekeliling ngarai, pandangan matanya lalu membentur sebuah air terjun disebelah utara dan dengan sekali hentakan kaki sosok berpakaian hitam ini telah sampai sepuluh langkah dihadapan air terjun.
“inyiek sam mato ampat, harap unjukan diri awak..”
Gema suara orang ini begitu dahsyat,  memecah gemuruh air terjun dan merontokan daun perdu yang bergayut didinding tebing, sipapun dia sudah dipastikan memiliki tingkat tenaga inti sempurna dalam dirinya, hanya gemuruh air terjun dan kicauan unggas yang terdengar,  orang berpakaian hitam ini tampak gusar, sekali lagi dia berteriak lantang  hingga batu kerikil disekitarnya terangkat beberapa senti dan guyuran air terjun terhenti beberapa menit lalu kembali mengguyur bebatuan gunung dibawahnya.
 “hahahahah, tenaga inti waang bukan gurauan anak kecik..”
Sebuah suara terdengar bergema disesantro ngarai sihanok, disusul sekelebatan bayangan keluar dari dalam derasnya guyuran air terjun, sosok ini tampak jungkir balik diudara kejap berikutnya telah berdiri tiga langkah dihadapan orang berpakaian hitam.
“inyiek,  ambo datang nak jemput dirul anak ambo..”
“hahah..tak usah gusar dia baik-baik sajo..”
“apo sebenarnyo maksud inyiek culik dirut anak ambo..”
“bardat, si pahit lidah..sekian tahun menarik diri dari dunia pesilatan dan insaf setelah  ribuan orang tak berdosa karena kutuk dan sumpah serapah waang mereka menjadi batu, dan samsaro masa depannyo karena ucapan waang,  enak betul waang insaf bagitu sajo..”
“lalu apo mau inyiek..”
“asal waang tahu, salah satu korban waang adalah mamak ambo..”
“jadi inyiek sengajo menculik dirul,  untuk tujuan iko..”
“tepat, hari ini lidah waang yang pahit akan ambo musnahkan..”
“ambo tak mencari lantai tarjungkat, tapi tantangan inyiek pantang dibuat surut..”
Duel kedua  pendekar ini begitu seru, jurus demi jurus berlalu dengan cepat hingga satu ketika sebuah bamboo kuning entah datang dari mana dengan kecepatan yang sulit dihindari dengan telak menancap dimulut bardat, sosok lelaki ini terhuyung kebelakang  dan tercebur kedalam air terjun dengan tubuh menempel didinding air terjun bersama  potongan bamboo kuning masih tertancap dimulut bardat dan. Berakhirlah riwayat bardat sipahit lidah.

ooooOoooo

Ngarai Sihanok, Masa sekarang

     Rembang petang melingkupi wilayah lembah yang menghijau ini, kabut tipis perlahan meluncur dari lereng pegunungan singgalang sebelah barat dan lereng merapi dari sebelah timur
Tak jauh dari lamping bukit disebelah utara air terjun lima orang pemuda dengan cekatan mendirikan sebuah tenda, dan tak lama tenda itu berdiri dengan kokohnya.
“pardede, mau kemana waang..”
“aden nak mandi diair terjun, mau iko kah awak-awak ini..”
“ah, kau sajolah dulu..aden nak buat api unggun..”
Pemuda berperawakan jangkung dengan alis yang tebal ini segera melangkahkan kakinya mendekati air terjun, dan tanpa membuka bajunya pardede ceburkan dirinya kedalam sungai kecil berbatuan dibawah air terjun, entah berapa lama pardede berenang disungai berbatu sebesar kerbau ini, sudut matanya tiba-tiba melihat sesuatu menyembul diantara dinding air terjun, dengan penasaran paedede dekati , setelah diamati ternyata sesuatu yang menyembul didinding air terjun itu adalah seruas bamboo kuning yang menancap dan anehnya dari ujung bamboo itu mengalir dengan deras air yang sangat jernih.
“kata orang air dari pegunungan bisa langsung diminum, kebetulan aden haus…”
Dengan tanpa ragu-ragu pardede teguk air yang mengalir dari ruas bamboo kuning tersebut
 “fffuuuuttt..kenapa rasanya pahit ya..”  dengan bersungut-sungut pardede usap bibirnya beberapa kali, namun satu teguk air dari bamboo kuning telah masuk kedalam tenggorokannya setelah itu pardede kembali menemui teman-temannya ditenda dan menceritakan tentang keberadaan ruas bamboo kuning yang mengeluarkan air pahit.
Keesokan harinya pardede dan keempat kawannya mendatangi air terjun
“dimana waang melihat ruas bamboo itu..”
Dengan segera pardede tunjuk salah satu dinding air terjun yang ada ruas bamboo kuningnya, kelimanya lantas mengerumuni ruas bamboo kuning yang memancarkan air yang sangat jernih itu, satu persatu kawan-kawan pardede meneguk  air yang memancar dari ruas bamboo kuning
 “awak ni gimana, air segar nan sejuk dibilang pahit..” gumam keempat temannya pada pardede
“benar aden nak bohong, kemarin rasanya pahit sekali..”
“coba waang nak rasakan sendiri..”
Dengan ragu pardede tangkupkan kedua tangannya menampung air yang keluar dari ruas bamboo kuning, ketika di teguk …air itu terasa tawar dingin dan menyegarkan.
“aneh..kemarin kenapa pahit ya..”
“apa kata aden, waang mengada-ada sajo..”
“ah..dasar waang –waang ni baruak gadang, semuanyo..” umpat pardede
“Deeeeessssssssssss..!!”
Mendadak segumpal kabut tebal melingkupi tempat tersebut, dan ketika kabut perlahan sirna keempat kawannya telah raib dan yang berada dihadapan pardede sekarang adalah empat ekor baruak gadang atau kera besar tak berekor.
     Pardede tersentak dari lamunannya, begitu sebuah tangan lembut menyentuh pundaknya, wajahnya yang tampak tegang berangsur surut ketika dihadapannya seraut wajah ayu tersenyum manis  pada dirinya.
 “uda sedang melamun apa..”
“ah, tak ado yang uda lamunin dek sari..”
“mulut uda bilang bagitu, manun mata uda tak bisa bohong..”
Pemuda jangkung dengan alis tebal ini sesaat tarik napas dalam-dalam , peristiwa sepuluh tahun lalu ketika dirinya masih kuliah dan bersama keempat kawannya kemping dingarai sihanok kembali berputar dengan jelas dibenaknya, perlahan  kisah sepuluh tahun lampau itu diceritakan kembali pada sari yang kini menjadi istrinya.
“begitulah ceritanya dek sari, sampai sekarang uda tidak mengerti kenapa setiap sumpah serapah yang uda ucapkan selalu nyata dan merugikan orang lain, setiap perusahaan yang mempekerjakan uda selalu bangkrut, ketika uda menyumpahi direkturnya yang menurut uda tidak adil..apa salah  uda hingga menanggung azab seperti ini..”
Sari, sang istri tampak terdiam, direngkuhnya tubuh pardede suaminya dalam pelukannya, wanita anggun ini tak menyangka kisah perjalanan sang suami begitu sulit dipahami dengan nalar namun kenyataan memang  terjadi seperti itu.
 “dek sari, yang lebih menyakitkan justru terjadi pada sutan alit keponakan uda..”
“maksud uda sutan alit yang sekarang bekerja diluar negri..”
“benar itu semua terjadi karena sumpah serapah uda..”
“maksud uda..”
“ketika kito baru setahun menikah, uda memelihara beberapo ikan diempang..”
“yaa..adek, ingat..lalau hubungannya dengan sutan alit..”
“satu ketika bocah itu bersama kawan-kawannya bermain dengan ikan yang menyebabkan banyak ikan uda yang mati, uda marah..uda sumpahi dia agar menjadi pembantu selamanya diluar negri, dan sumpah serapah itu terjadi..entah sekarang nasib sutan alit bagaimana di luar negri..”
 “astagfirullah..uda, jadi begitu ceritanyoo..”
“benar dek, dan sekarang bekas direktur yang perusahaannya bangkrut gara-gara sumpah serapah uda, tengah berupaya menjebloskan uda kepenjara..”

ooooOoooo

 Sebulan kemudian

     Seorang sipir penjara buka jeruji-jeruji besi itu dengan kunci yang ada ditangannya
“saudara pardede, hari ini anda bebas silahkan bereskan barang-barang anda..”
“pak sipir, siapa yang membebaskan saya..”
“anda lihat saja diruang tunggu..”
Dengan tergesa pardede langkahkan kakinya meninggalkan sel yang selama ini menjadi tempat tinggalnya, diruang tunggu tampak istrinya sari, kakaknya Mario dan istrinya, ayah dan ibunya serta seorang anak muda gagah berumur duapuluh lima tahun tampak tersenyum kearahnya.
“sutan alit..benarkah waang sutan alit keponakan ambo..”
“mamak pardede..apa kabar..benar ambo sutan alit..”
Dengan segera dipeluknya anak muda ini dengan erat
“sutan..maapkan mamak, karena mamak sutan menderita dirantau..”
“sudahlah mamak, justru ambo berterimakasih sekali pada mamak..”
“maksud sutan..”
“ucapan mamak  waktu lampau, memacu semangat ambo untuk berjuang dan menjadi lebih baik agar ambo tidak benar-benar menjadi pembantu seperti sumpah serapah mamak, akhirnya gusti Allah mengabulkan cita-cita ambo menjadi seorang pengacara dan sekarang bisa membalas budi dengan membebaskan mamak dari penjara..”
 “Subbahan Allah..tapi mamak benar-benar menyesal..sekali lagi terimakasih sutan alit..”
Pemuda gagah ini hanya mengangguk sambil tersenyum,
“ada sesuatu yang musti waang ketahui..” ucap datuk Marajo ayah dari pardede
“apakah itu ayah..”
“kisah ini diceritakan oleh eyang buyutmu, eyang buyutmu memilki ayah bernama dirul anak dari bardat yang dizamannya dikenal sebagai pendeka gadang dengan julukan sipahit lidah, ketika sipahit lidah tewas ditangan musuhnya dengan diam-diam dirul anaknya pada satu malam meloloskan diri dari tawanan sam mato ampat yang menculiknya, dirul menyelamatkan jenajah ayahnya, namun bamboo kuning yang menancap dimulut bardat sipahit lidah menancap dengan erat tidak bisa dicabut,  dan rupanya setelah puluhan dekade ruas bamboo kuning itu masih menyimpan aura mistis dari sipahit lidah,  maka itulah..kenapa waang memiliki ucapan tajam dan lidah yang pahit setelah meminum air dari pancuran ruas bamboo kuning yang menancap dibatu sepuluh tahun yang lampau ketika waang kemping di ngarai sihanok..”
Datuk Marajo hisap rokoknya yang hampir padam
“lalu apa yang musti waang lakukan agar  lidah saya tidak merugikan orang lain ayah..”
“pergilah kembali kengarai sihanok, kirim basmallah ditujukan pada bardat sipahit lidah, insya Allah lidahmu tak sepahit sipahit lidah lagi..”
“baik ayah, besok waang akan pergi ke ngarai sihanok..”

Selesai
Salam Bhumi Deres Mili
 Penulis



Senin, 01 Agustus 2011

Sisi Kalbu Nan Kelam


     Ratri pandang dengan tajam orang tua buta yang ada didepanya sementara tangan kanan sang dara ini siap menrik platuk pistol yang ada digenggamannya.
“nduk, tunggu apa meneh, balaskan dendam ayahmu..”
Jari-jari ratri tampak gemetar, perasaannya berkecamuk antara menjalankan tugas pimpinannya, atau mengumbar amarahnya untuk menuntut balas pada laki-laki tua yang telah membunuh ayahnya ini.
“kenapa paman tega melakukannya, bukankah ayah ratri adalah kakak paman sendiri..”
Lelaki tua buta ini Cuma tersenyum pahit, sejenak hembusan napasnya terdengar berat
“sebagai seorang polisi yang baik, kamu terikat dengan tugas sedang sebagai anak yang berbakti kamupun berkewajiban melaksanakan amanat terakhir mendiang ayahmu..”
“DOOOORR..!!”
Letusan senjata api menyalak merobek kabut dini hari, suasana subuh kembali hening, hembusan sang bayu dari lereng gede menyibak daun-daun jati yang berjajar menuruni lembah, hampa sunyi dan sepi seakan tak pernah terjadi apapun sebelumnya ditempat teresebut.
                                          ooooOoooo

     Hembusan angin utara menyibak rambut panjang gadis kecil yang tengah digandeng ibunya ini, sementara tangan mungilnya yang lain tergenggam setangkai bunga anggrek bulan berwarna jingga, tak lama sosok keduanya sampai disatu tempat pemakaman, setelah melewati beberapa nisan disalah satu sudut taman pemakaman terlindung pohon kamboja langkah keduanya terhenti
“bunda anggreknya indah ya..”
Perempuan muda ini Cuma tesenyum masgul, setelah mengelus rambut putrinya dengan kasih dengan segera tubuhnya beresimpuh dihadapan makam, sesaat matanya terpejam, setelah selesai mendoakan sang ahli kubur, ditaburkannya beberapa bunga yang sudah dipersiapkannya dari rumah.
“ ratri..taruh anggrek itu diatas makam ayahmu..”
Gadis kecil tujuh tahun ini kemudian letakan tangkai anggrek bulan jingga diatas makam ayahnya.
“bunda..katanya mau ke tempat ayah, tapi ko ayah gak mau nemuin ratri..ayah marah ya ama ratri..”
Wanita mua ini tampak tercekat, sesaat dipandanginya putri kecilnya ini dengan mata yang berkaca-kaca, dipeluknya tubuh mungil putrinya dengan erat tak lama isaknya terdengar
“ayah sangat menyayangimu ratri, gak mungkin marah sama ratri..”
“tapi kenapa ayah, tidak menemui ratri bundaa..
“ayahmu sedang ada tugas..”
Percakapan ibu dan putrinya ini terhenti dengan datangnya sosok lain, seorang laki-laki separuh baya dengan setelan jas hitam dan dikawal beberapa orang yang sepertinya bodyguard
 “hera, aku turut berduka dengan kepergian bang radit, negri ini kehilangan salah satu ilmuwan terbaiknya..”
“terimakasih bang anggara..”
“hera, bang radit adalah kakaku satu-satunya, ketika masih hidup bang radit pernah berpesan bila terjadi sesuatu pada dirinya, semua kebutuhan ratri begitupun pendidikan dan masa depannya akan menjadi tanggung jawabku..bagaimana hera..”
“kalau itu amanat dari mendiang ayahnya ratri, saya menurut saja..tapi apa bang anggara sudah mengetahui pemyebab dari kematian bang radit..”
Sesaat leleki berjas hitam ini tarik napas dalam
“belum ada kabar dari pihak berwajib hera..”
Perempuan muda hanya mampu memeluk ratri putrid kecilnya, sementara rembang petang mulai melingkupi wilayah pekuburan, rinai hujan mulai turun membasahi bumi.

                                        ooooOoooo

Duapuluh lima tahun kemudian
     Dara berkulit hitam manis ini tampak kepalkan tinjunya dengan geram, semenara dua puluh orang anak buahnya dengan seragam yang lusuh terlihat menolong beberapa rekannya yang terluka.
“inspektur ratri, lapor..beberapa anak buah kita terluka, misi penyergapan rupanya telah bocor hingga mereka mempersiapkan serangan dan jebakan..”
“pasti ada penghianat..”
“menurut inspektur siapa..”
“sulit diduga, baiklah kita kembali ke mako..”
“siap perintah..”
     Villa dipuncak bukit itu begitu asri, dimana sejauh mata memandang hamparan perkebunan teh menghijau bagai permadani alam yang tak pernah usang tergerus zaman, ditambah hawa yang sejuk serta kabut tipis yang senantiasa melingkupi seluruh kawasan menciptakan aura alam yang exotic, tapi tidak begitu dangan yang sedang dirasakan sosok dara hitam manis ini, sebuah gemuruh bhatin sedang berkecamuk diotak dan perasaannya hingga kehadiran satu sosok lain mengejutkan sang dara.
 “sepagi ini, apa yang mengganggu pikiran mu ratri..”
Sesaat dara ayu ini terkejut, tapi senyium manisnya mengembang ketika tahu siapa yang menyapanya.
“bundaa..sudah lama disini..”
“selama dirimu menjelajah alam hayalmu..”
“bunda, bisa saja..”
“paman mu kemana..”
“sudah seminggu ini paman ada urusan diluar kota..”
“ratri, kamu harus patuh pada pamanmu, karena dia kamu sukses mencapai cita-citamu menjadi abdi Negara, pembela kebenaran..”
“saya mengerti bunda, namun akhir-akhir ini ada sesuatu yang mengganjal perasaan saya..”
“apa itu ratri, cerita dong sama bundamu ini..”
“tentang misteri kematian ayah..
Perempuan separuh baya ini tampak tercekat, kejadian duapuluh tahun yang lalu seakan dihadirkan kembali dibenaknya, perlahan dari dalam tas sebuah benda dikeluarkan dan diserahkan pada ratri putrinya.
“kotak music..maksud bunda apa..”
“ratri dengar, mendiang ayahmu adalah seorang ilmuwan setaraf professor, tiga hari sebelum kejadian tewasnya , kotak music ini diserahkan ayah pada bunda, dan sempat berpesan agar menyerahkannya padamu ketika usiamu duapuluh lima tahun..”
“terus apa maksudnya bunda..”
“bunda juga kurang tahu, tapi mungkin kotak music ini dapat membuka tabir misteri kematian ayahmu..”

                                            ooooOoooo

     Gemuruh hujan badai diluar gedung yang tampak megah itu tak menyulutkan semangat seorang lelaki gagah berjubah putih yang sedang konsentrasi dengan mikroskop micron, sesekali tampak bergumam sendiri, dilain saat terlihat kerutkan dahinya, tanpa disadari lelaki gagah yang ternyata seorang ilmuwan satu sosok lain tampak berdiri dibelakangnya.
“bang radit, bagaimana kabarmu..”
Lelaki gagah berjubah putih ini hentikan penelitiannya, dipandangnya sesaat orang yang baru datang dan menegurnya ini.
“anggara, mau apa kau datang lagi kemari, apa pernyataan ku tempo hari kurang jelas..”
“ayolah bang, kita ini saudara..kalau abang ikut..hidup kita akan makmur..”
“merusak masa depan anak bangsa dengan barang haram itu..”
“dipasar gelap harganya akan melambung, pikirkan masa depan keluargamu, terutama ratri anakmu..”
“dengar anggara apapun yang terjadi jangan libatkan keluargaku, terutama ratri anakku..”
“ratrikan keponakanku juga bang..”
“kalau tahu pamannya gembong mafia narkoba, entah apa pandangannya kelak pada dirimu.”
Anggara tampak menggeram marah, setelah mencaci maki tanpa arti yang jelas lelaki ini tinggalkan gedung mewah yang ternyata sebuah laboratorium dengan mobilnya, sepeninggal anggara lelaki gagah berjubah putih ini ambil sesuatu yang terselip dibawah meja kerjanya yang kalau diamati mirip seperti sebuah kotak music, dengan cepat ilmuwan ini selipkan sebuah cip pada salah satu sudut didalam kotak music tersebut.
                                                ooooOoooo
     Ratri genggam cip yang baru saja disaksikannya disebuah monitor, wajah ayunya tampak kelam membesi, keesokan harinya dengan izin dari komandannya, gadis ini langsung pimpin kembali tugas penyergapan terhadap gembong narkoba nomer wahid yang ternyata pamannya sendiri sekaligus menuntut balas akan kematian ayahnya, disebuah daerah terpencil akhirnya penyergapan dimulai, dalam baku tembak anggara pamannya sekaligus gembong narakoba terluka dibagian matanya hingga buta, namun dengan lihai gembong narkoba ini bisa melarikan diri.
     Sebulan kemudian tanpa sengaja ratri menemukan tempat persembunyian pamannya, disebuah daerah  pegunungan lereng gede, tanpa membawa anak buahnya inspektur ayu ini akhirnya dapat berhadapan dengan pamannya, sebuah pistol ditodongkan dihadapan anggara yang sekarang buta kedua matanya.
“nduk..tunggu apa meneh, balaskan dendam ayahmu..”
Jari-jari ratri tampak gemetar, perasaannya berkecamuk antara menjalankan tugas pimpinannya, atau mengumbar amarahnya untuk menuntut balas pada laki-laki tua yang telah membunuh ayahnya ini.
“kenapa paman tega melakukannya, bukankah ayah ratri adalah kakak paman sendiri..”
Lelaki tua buta ini Cuma tersenyum pahit, sejenak hembusan napasnya terdengar berat
“sebagai seorang polisi yang baik, kamu terikat dengan tugas sedang sebagai anak yang berbakti kamupun berkewajiban melaksanakan amanat terakhir mendiang ayahmu..”
“DOOOORR..!!”
Suara pistol terdengar memekakan telinga, tak lama dari dalam bangunan ratri melangkah keluar dengan cepat dan tanpa berpaling tinggalkan tempat tersebut, tak lama dari dalam rumah satu sosok lelaki dengan borgol dikedua tangannya yang telah rusak dan terlepas ditanah berjalan terseok-seok dengan tongkatnya  menuju kearah barat berlawanan arah dengan ratri yang kini sosoknya telah sampai dilamping bukit sebelah timur.

Selesai

Salam Bhumi Deres Mili
penulis

Lisensi

Lisensi Creative Commons
BHUMI DERES MILI by BHUMI DERES MILI is licensed under a Creative Commons Atribusi 3.0 Unported License.
Berdasarkan karya di KANG KUSYOTO, KYT.
Permissions beyond the scope of this license may be available at http//:www.bhumideresmili.blogspot.com.

Total Tayangan Halaman

About

Pages

Download

Powered By Blogger

Search Box

Popular Posts

Followers