KONTAK SAYA

Email Twitter Facebook

TELUSURI

GALERI FOTO

Kategori Arsip Daftar Isi

MULAI DARI SINI

Pelayanan Portfolio Pembayaran

Sabtu, 24 November 2012

JALAN PEDANG JALAN KSATRYA

Sungging Prabangkara sapukan pandangannya dari atas bukit. Tiga hari yang lalu Manggala yang kini mengangkat dirinya menjadi ketua partai arit iblis menemui dan meminta Sungging Prabangkara beserta keluarga meninggalkan perguruan silat sekaligus sanggar melukis bagi anak-anak di sekitar perdikan welangun untuk mengakui kedaulatan partai arit iblis. Tentu saja Sungging Prabangkara tidak menggubris permintaan Manggala.
“Tiga hari di muka. Kau harus putuskan jika tidak keselamatan keluargamu ada di tangan partai arit iblis..” ancam Manggala.
“Sekarang pun keputusan itu tetap sama kisanak Manggala..” ujar Sungging Prabangkara tenang.

“Baiklah kalau itu yang kalian inginkan. Jangan salahkan partai arit iblis jika perdikan ini rata dengan tanah. Sentak Manggala gusar.
“Kisanak ini urusan antara saya dan partai arit iblis. Jadi saya harap jangan bawa-bawa keluarga saya dan perdikan welangun ini..”
“Sekarang menjadi urusan dirimu, keluarga dan perdikan ini. Kecuali kau serahkan perdikan ini dengan suka rela dan meninggalkannya. Aku jamin dirimu dan keluarga mu akan selamat..”
“Kisanak Manggala. Apa yang kau harapkan dari perdikan ini..”
“Itu urusan ku. Ingat tiga hari di muka kami menunggu jawaban mu..” ujar Manggala lantas tinggalkan Sungging Prabangkara yang masih tertegun.
Sungging Prabangkara yang masih terpesat pada alam lamunannya tersentak kaget manakala dirasakannya desiran angin dingin melintas di samping kanannya di susul sekelebatan bayangan yang kini telah berdiri tiga langkah di hadapan pemuda gagah ini.
“Andika Mangkurat. Ada angin apa menyambangi perdikan kami..”
Sosok pemuda dengan rambut di gelung diatas kepalanya ini cuma tersenyum.
“Kisanak Sungging. Tidak disangka sang maha welas asih mempertemukan kita lagi. Dan siapa yang menyangka Putri agung Padjajaran yang di kabarkan bela pati di palagan bubat kini menjadi pendamping hidup mu..” ujar Mangkurat yang membuat Sungging Prabangkara tertegun.
“Andika Mangkurat mengetahui tentang hal itu..” ujar Sungging Prabangkara masih dalam rasa keheranannya.
“Kisanak Sungging tidak usah heran. Dalam pengembaraan aku menyirap kabar raibnya senjata mustika bilah pedang sanggabuana yang berada di tangan Sanjaya. Satu waktu aku ditemui oleh sosok astral Mpu. Palwa sang pembuat bilah pedang dahsyat itu.  Dari beliaulah semua tabir gelap teka-teki semua yang terjadi terungkap. Termasuk keberadaan Sanjaya. Saudara kembar mu. Kisanak Sungging..”
“Saudara kembar saya. Andika Mangkurat..” ujar Sungging Prabangkara antusias.
“Benar. Dari sosok astral Mpu. Palwa kisah perjalanan saudara kembarmu terungkap..”
Tanpa di minta dua kali. Mangkurat mengisahkan sebuah cerita kelam tentang Sanjaya yang kini telah menanggung kutuk dan dunia persilatan mengenal nya dengan sebutan Sada Lanang.
“Jadi saudara kembar saya itu sekarang tengah menjalankan lelaku Dharmabakti Penawar kutuk..” ujar Sungging Prabangkara pelan.
“Begitulah yang diceritakan sosok astral Mpu. Palwa pada ku. Kisanak Sungging..” ujar Mangkurat yang mendadak terkejut begitu menengok ke samping kiri satu sosok anggun telah berada diantara dirinya dan Sungging Prabangkara.
“Tuan Putri Dyah Pitaloka..” ujar Mangkurat sambil merapatkan kesepuluh jari tangannya di depan keningnya.
“Tuan Mangkurat. Tidak usah menyembah begitu. Saya sekarang hanya rakyat jelata..” ujar sosok anggun yang tak lain dari Dyah Pitaloka. Putri Padjajaran.
“Bagi hamba. Tuan putri bagai kuntum teratai di tengah belukar..” ujar Mangkurat takjim.
“Sudahlah tuan Mangkurat. Lupakan semua peradaban. Cukup panggil Pitaloka saja..”
“Baiklah gusti putri..ada sesuatu yang musti saya sampaikan..”
“Apa itu tuan Mangkurat..”
“Tentang Mahapatih Gajah Mada yang menyerahkan bilah keris mustikanya pada Raden Niskala Wastu Kencana..”
“Gajah Mada menyerahkan kerisnya pada Anggalarang adik saya. Apa maksud patih wilwatikta itu..” ujar Pitaloka penasaran.
“Hamba sendiri kurang paham. Tapi hemat saya secara tidak langsung gusti patih Gajah Mada membuka peluang dan bertanggung jawab jika raden Niskala mau menuntut balas atas peristiwa di palagan bubat..”
“Angalarang harus mengurungkan niatnya. Menantang duel dengan Gajah Mada. Kawula Padjajaran memerlukan dirinya..” ujar Dyah Pitaloka Khawatir.
“Nyimas. Pitaloka apa yang kau khawatirkan..” sela Sungging Prabangkara manakala dilihatnya raut wajah istrinya menegang.
“Kakang Sungging. Gajah Mada bukan lawan Anggalarang. Bagaimana dengan trah penerus Padjajaran jika Anggalarang tewas sia-sia di tangan Gajah Mada..”
“Lalu apa yang akan nyimas lakukan..” ujar Sungging prabangkara sambil mengusap wajahnya.
“Tuan Mangkurat. Boleh saya minta tolong..” ujar Dyah pitaloka pelan.
“Silahkan. Pertolongan apa yang gusti putri perlukan..”
“Sekarang ini mungkin Anggalarang tengah menghabiskan sisa pengembaraannya selama satu tahun sebagai prasyarat menjadi prabu di padjajaran. Saya mohon sudilah kiranya tuan Mangkurat mencari Anggalarang dan menyuruhnya datang ke perdikan welangun ini. Sebab kami tidak mungkin mencarinya perdikan welangun membutuhkan kami..”
“Baiklah gusti putri. Tapi kalau boleh hamba tahu apa yang tengah terjadi di perdikan welangun..”
“Kami sedang dapat musibah. Sekar wangi anak kami di culik orang-orang partai arit iblis..” sela Pitaloka masgul.
“Arit iblis..hem.. hamba tahu siapa pemimpinnya..” ujar Mangkurat geram.
“bagaimana kalau hamba sekalian mencari keberadaan Sekar wangi..” pungkas Mangkurat.
“Terimakasih andhika Mangkurat. Tapi biarlah urusan itu menjadi tanggung jawab kami..” kata Sungging Prabangkara bergetar.
“Baiklah kalau begitu saya pamit. Mudah-mudahan urusan kalian cepat selesai..” ujar Mangkurat. Lalu tak menunggu lama sosoknya telah berada puluhan mil di kaki bukit sebelah tenggara.
“Kakang sungging. Mari kita melacak keberadaan Sekar..”
“Mari nyimas..”
Keduanya lantas jejakan kaki ke tanah yang dalam sekejap sosok keduanya telah raib di balik lebatnya pepohonan.

ooooOoooo

Debur ombak terdengar bergemuruh memecah pantai Eretan. Menghempaskan apa saja yang berada di atasnya. Dari arah utara garis cakrawala puluhan titik hitam tampak terombang ambing di sapu gelombang lautan. Begitu mendekati bibir pantai barulah di ketahui puluhan titik-titik hitam itu ternyata perahu-perahu sejenis vinisi. Tak lama puluhan prahu vinisi itu merapat di pantai Eretan yang landai itu. Dari dalam perahu berloncatan beberapa orang berbaju zirah. Tampaknya para pendatang itu adalah pasukan-pasukan yang terlatih. Tampak dari cara mereka berloncatan dengan ringan dan menjejak tanah berpasir tanpa bersuara. Seorang pemuda gagah berselempang dodot sutra berwarna coklat dengan luka lebar berbentuk cakaran di punggungnya terlihat menghampiri seseorang dengan akar bahar melingkar di ke dua lengannya.
“Kanda Gegar Wahana. Apakah baik-baik saja..” ujar pemuda dengan luka cakaran di punggungnya ini pelan.
“Aku baik-baik saja dinda Platik Waja. Bagaimana dengan pasukan kita..”
“Badai semalam telah memporak-porandakan armada kita kanda. Hanya puluhan perahu saja yang selamat sisanya tertelan gelombang samudra hindia yang ganas itu..”
“Syeh Idlopi harus bertanggung jawab akan semua ini..”
“Kanda Geger Wahana. Apakah kita telah sampai di Jawadwipa..”
“Aku tidak yakin dinda. Tapi menilik dari kondisi pantai yang landai ini dipastikan kita semua telah terdampar di pulau Jawadwipa..”
“Lalu langkah kita selanjutnya apa kanda ..”
“Seperti tujuan awal. Kita cari sampai dapat Syeh Idlopi dan putrinya Zahra..”
“Lalu bagaimana dengan pemuda berparut di pipi kirinya itu kanda..”
“Maksudmu Sada Lanang..”
“Benar kanda..”
“Kita tidak ada urusan dengan pemuda berparut itu..”
Pemuda gagah dengan dodot sutra berwarna coklat keemasan itu hanya menganggukkan kepalanya. Puluhan orang berbaju perang dengan persenjataan lengkap ini tak lain dari pasukan perang dari tanah seberang pegunungan Rinjani kepulauan Lombok di bawah komando dua raja kakak beradik Prabu Gegar Wahana dan Prabu Platik Waja yang beberapa waktu lalu dalam pengejaran seorang Syeh dari tanah Gujarat yang di sinyalir berada di tanah Jawadwipa.
Pasukan gabungan di bawah komando dua Prabu itu perlahan tinggalkan bibir pantai Eretan menuju kearah selatan. Kedua prabu ini seharusnya bergerak kearah timur. Karena tujuan dari syeh idlopi adalah Caruban. Sebuah daerah yang kelak akan menjadi kesultanan termasyur di zamannya Kesultanan Cirebon.
Belum beberapa langkah pasukan yang di pimpin dua prabu ini bergerak meninggalkan bibir pantai Eretan. Mendadak suasana alam yang semula terang benerang perlahan meredup. Hembusan angin pantai terdengar bergemuruh disusul munculnya gumpalan kabut tebal menutupi jarak pandang. Begitu kabut perlahan memudar. Samar-samar dihadapan pasukan gabungan ini tampak pasukan lain dengan dandanan yang aneh. Pasukan yang baru datang bersamaan gumpalan kabut ini memakai pakaian perang yang seakan menyatu dengan kulit mereka dan bersenjatakan perisai serta tombak panjang berujung runcing lengkap dengan pengaitnya. Salah seorang dari mereka maju tiga langkah di hadapan prabu Geger Wahana dan prabu Platika Waja.
“Ratu kami ingin bertemu dengan kalian. Harap ikuti langkah kami..” ujar sosok ini datar.
“Maap siapa kalian ini..” menimpali prabu Platik Waja.
“ Kami prajurit kerajaan Sumur Tiris..”
“Kerajaan Sumur Tiris. Dimanakah letak kerajaan kalian itu..” ujar prabu Geger Wahana pelan.
“Kalian semua telah berada di depan pintu gerbang kerajaan kami..” ujar sosok ini bergetar.
Prabu Gegar Wahana dan prabu platik Waja tertegun mendengar jawaban sosok ini. Tak menunggu lama semua prajurit gabungan dari pegunungan Rinjani kepulauan Lombok ini di buat tercengang. Dihadapan mereka yang semula bibir pantai dengan hamparan pasir putih. Kini tampak sebuah pintu gerbang kokoh terlihat tegak memancarkan sinar keperakan. Kabut tipis terlihat melayang perlahan di sekitarnya.
“Silahkan masuk..Ratu kami telah menunggu kalian semua..” ujar sosok prajurit berbusana aneh ini pelan.
Seperti terkena kekuatan hipnotis. Prabu Gegar Wahana dan prabu Platik Waja beserta seluruh prajurit gabungannya melangkah mengikuti puluhan prajurit yang mengaku dari kerajaan Sumur Tiris ini memasuki pintu gerbang kokoh yang memancarkan sinar keperakan itu. Begitu semua orang telah memasuki pintu gerbang. Secara perlahan pintu gerbang kokoh yang memancarkan sinar keperakan itu memudar dari pandangan lalu lenyap berganti dengan suasana tepi pantai yang landai dengan pasir berwarna putih.

ooooOoooo

Prabu Gegar Wahana dan Prabu Platik Waja tertegun. Degup jantung kedua prabu dari kepulauan Lombok ini berdebar kencang. Desiran aneh merambah simpul-simpul saraf mereka. Dihadapan keduanya duduk dengan anggun di sebuah singgasana terbuat dari gading bertatahkan mutiara serta gemerlap intan permata satu sosok wanita dengan kecantikan yang luar biasa dengan mahkota kerang mutiara serta busana kebesaran layaknya seorang Ratu dari Khayangan. Perlahan sosok wanita cantik ini berjalan menghampiri ke dua prabu yang masih tercengang mengagumi kecantikannya.
“Selamat datang di kerajaan Sumur Tiris..Kedatangan kalian telah lama saya tunggu selama dua ratus tahun yang lalu..” ujar wanita anggun ini pelan.
“Apakah anda Ratu di kerajaan ini..”  sela Prabu Platik Waja tergagap.
“Benar. Saya nyai Rara Denok. Penguasa kerajaan Sumur Tiris ini..”
“Maap Ratu…Apa kami tidak salah dengar. Ratu barusan mengatakan telah menunggu kami selama dua ratus tahun yang lalu…jangankan kami. Mungkin ayah dan ibu kami pun belum tentu terlahir pada masa itu..” ujar Prabu Gegar Wahana dengan nada keheranan.
Wanita anggun ini cuma tersenyum di kulum menanggapi pertanyaan prabu Gegar wahana.
“Baginda..Tiada yang tidak mungkin di mayapada ini. Sudahlah tidak usah merisakan tentang semua pernyataan saya tadi. Yang jelas baginda berdua kami undang untuk sebuah penawaran..”
“Penawaran..maksud Ratu..” ujar Prabu Platik Waja.
“Saya tahu tujuan paduka berdua datang ke tanah Jawadwipa ini. Bukankah paduka berdua sedang dalam pengejaran seorang buronan..”
“Benar Ratu. Kami sedang dalam pengejaran buronan. Seorang Syeh dari nagri Gujarat..” sela prabu Gegar Wahana.
“Itu mudah. Pasukan kami akan membantu paduka berdua mencari buronan itu. Tapi dengan satu syarat..”
“Apa syaratnya Ratu..” ujar kedua prabu ini berbarengan.
“Bergabunglah dengan Kerajaan Sumur Tiris dan paduka berdua bersedia menjadi suami-suami saya..bagaimana.  Paduka berdua setuju..”
Prabu Gegar Wahana dan prabu Platik Waja tertegun. Namun pandangan tajam Ratu Rara Denok ini kembali membuat kedua Prabu ini seperti terkena kekuatan hipnotis yang amat dahsyat hingga keduanya entah sadar atau tidak menyanggupi persyaratan aneh tersebut.
Kedua Prabu dari kerajaan pegunungan Rinjani kepulauan Lombok ini tidak pernah mengetahui bahwa sebenarnya mereka semua telah terpesat ke sebuah alam astral. Dimana Kerajaan Sumur Tiris ini sebenarnya adalah Kerajaan Siluman.
Sungguh tragis nasib dari kedua Prabu dari kerajaan pegunungan Rinjani kepulauan Lombok ini. Kesepakatan dengan siluman adalah persekutuan. Konsekuensinya adalah jiwa-jiwa mereka yang tertahan dan terkatung-katung sampai hari penghabisan tiba.

ooooOoooo

Anggalarang hentikan laju kuda tunggangannya begitupun dengan Mangkurat. Pemuda telik sandi yudha Majapahit ini lantas menghampiri Anggalarang.
“Ada apa raden..”
“Andika Mangkurat tidak merasakan sesuatu..”
Mangkurat sesaat hela napasnya dalam-dalam. Dongakan kepalanya ke atas lalu  endus udara sekitar perlahan. Kening pemuda ini tampak berkerut.
“Sebuah tenaga inti yang dahsyat saling bertumbukan. Raden..”
“Andika mangkurat. Baiknya kita tinggalkan dahulu kuda-kuda di sini..mari kita melacak energi tenaga inti yang sangat dahsyat ini..”
“Mari Raden..”
Keduanya lantas turun dari kuda masing-masing. Setelah mengikat tali pengekang kuda di sebuah pohon. Anggalarang dan mangkurat jejakkan kaki ke tanah yang dalam sekejap sosok keduanya tampak melayang menembus rimbunnya pepohonan hutan.

 Gadis kecil berusia enam tahun ini miringkan badannya kesamping kiri. Lesatan rantai maut lewat satu senti dari keningnya lalu menghantam sebongkah batu padas hingga hancur luluh menjadi debu.
“Sangaran cepat tangkap kembali bocah itu. Perjalanan kita masih jauh..”
“Sedang aku upayakan manggala. Tapi gadis cilik ini tangguh juga..”
“Huh..melawan satu bocah saja kerepotan..Warok sampar Kombayoni cepat bantu Sangaran..”
Tanpa di komando dua kali. Warok dari hutan roban ini lesatkan badannya keatas. Bersalto beberapa kali diudara lalu kembangkan telapak tangan kanannya berusaha mencengkeram kerah baju gadis cilik ini.
Menyadari ada seseorang yang berusaha menangkap dirinya dari udara. Gadis kecil pemberani ini gulingkan badannya sejajar dengan tanah. Begitu dirasakan sambaran angin keras dari atas. Dengan sigap lentingkan badannya ke udara mendahului tubuh Warok Sampar kombayoni. Begitu tubuhnya setengah tombak diatas sang warok. Bocah perempuan ini dengan cepat hujamkan tumitnya tepat mengenai tengkuk lawannya.
“buukk..!!”
Tubuh Warok Sampar Kombayoni terjerembab di tanah dengan keras. Tapi dengan sigap bangun kembali sambil menghunus senjata andalannya tombak pendek berujung trisula. Lalu kembali menyerang gadis cilik yang kembali berhadapan dengan rantai maut milik Sangaran.
“Urusan ini akan kapiran. Bila gadis kecil ini tidak segera di lumpuhkan..” memikir sampai di situ. Manggala si arit iblis siapkan pukulan jarak jauh mengandung tenaga inti jurus kuntum kilat melecut raga.
“Blaaaaammmm…!!”
Dentuman keras terdengar memekakan telinga. Manakala sebuah pohon tumbang terkena sambaran jurus dahsyat ini. Namun gadis kecil ini telah raib dari pandangan ke tiganya. Yang tampak kini seorang pemuda gagah berbaju putih bercelana hitam dengan buntalan butut di punggungnya. Sedang tiga tombak di arah kanannya seorang pemuda tegap dengan rambut di gelung diatas terlihat mendukung bocah perempuan yang tampak pingsan itu.
“Memalukan..menghadapi bocah kecil saja sampai mengeluarkan jurus mematikan..” gumam orang yang baru datang ini tegas.
Mengetahui siapa yang datang. Warok Sampar Kombayoni tampak membisikan sesuatu di telinga Manggala.
“Manggala. Lebih baik kita tinggalkan tempat ini..” bisik Warok sampar Kombayoni.
“Kalian lagi. Biasanya kalian ber empat. Mana Tunggara si pisau terbang itu..” sentak orang tegap dengan rambut di gelung ke atas ini lantang.
“Telik sandi yudha Majapahit. Dulu kau boleh bangga dapat mempecundangi kami. Tapi kali ini jangan harap bisa lolos dari kami..”
“Raden. Tolong jaga sobat kecil kita ini. Partai arit iblis hari ini akan aku binasakan..” sela orang yang rambutnya di gelung ke atas itu sambil menyerahkan gadi kecil yang pingsan pada pemuda gagah berbaju putih.
“Aku lawan mu telik sandi..” sentak Warok Sampar Kombayoni yang langsung tusukkan tongkat berujung trisula di lambari jurus tenaga inti.
Pertarungan antara Warok Sampar Kombayoni dan pemuda yang rambutnya di gelung keatas ini kembali pecah. Sedang dua orang temanya yakni Sangaran dan Manggala yang hendak turun gelanggang hendak mengeroyok tertegun. Dihadapan keduanya telah berdiri seorang perempuan dengan pedang giok hijau terhunus dan disamping perempuan anggun ini terlihat satu sosok pemuda gagah yang tengah kembangkan kedua telapak tangannya. Bayangan puluhan kuas kecil terlihat berputar diantara kedua telapak tangan pemuda gagah tersebut.
“Manggala aku lawan mu..” sentak pemuda gagah ini lantang.
“Sungging prabangkara..pengecut. berapa kau bayar orang-orang itu untuk membantu mu..’
“Mereka para sahabat ku..jangan banyak dalih..hari ini semua kejahatan mu akan hancur..”
“hahaha..jumawa. buktikan ucapan mu..” sentak Manggala lantang.
Manggala kebut pergelangan tangan kanannya yang di sambung logam berujung arit berwarna merah ke depan. Sinar merah berbuntal semburat melaju kearah Sungging Prabangkara. Inilah jurus kuntum kilat melecut raga yang dahsyat itu. Rupanya Manggala menginginkan pertempuran cepat. Tapi kali ini yang di hadapinya adalah Sungging Prabangkara. Seorang tokoh muda berilmu tinggi. Sementara itu sosok perempuan anggun yang tak lain dari Dyah Pitaloka. Dengan menggunakan bilah mustika pedang giok hijau dengan tenang hadapi setiap serangan yang di lancarkan Sangaran. Rantai maut sangaran yang menyerangnya bagai air bah dapat di tangkisnya dengan mudah oleh bilah mustika pedang giok hijau milik putri padjajaran ini.
Di pinggir arena pertarungan tingkat tinggi. Dibawah rindangnya pokok pohon randu alas. Pemuda gagah baju putih bercelana hitam dengan buntalan butut di bahu yang tak lain dari Anggalarang tengah berupaya menyadarkan gadis kecil enam tahun yang terkena sambaran jurus kuntum kilat melecut raga level tiga milik Manggala. Setelah menotok beberapa titik simpul saraf dan menyalurkan hawa murni ke dalam tubuh gadis cilik ini. Perlahan erangan halus terdengar dari bibir gadis kecil ini. Matanya yang bening perlahan terbuka begitu mendapati dirinya bersama orang yang tak dikenalnya. Gadis kecil ini kembali pasang kuda-kuda penyerangan.
“Tahan serangan mu cah ayu..saya sahabat mu..” ucap Anggalarang sambil tersenyum.
“Siapa paman ini..apakah teman-teman dari orang-orang jahat itu..” sentak gadis kecil itu sewot.
“Siapa namamu cah ayu..” ujar Anggalarang lembut.
“Saya Sekar wangi..”
“Cah ayu kenal dengan wanita yang sedang bertarung dengan menggunakan pedang hijau itu..”
“Dia biung saya..paman..”
“Ah..ternyata benar dugaan paman..cah ayu adalah keponakan paman..”
“Maksud paman..”
“Biungmu itu adalah kakak paman cah ayu..”
“Berarti paman ini adalah..paman Anggalarang..”
“Cah ayu tahu dari mana nama paman..”
“Biung Pitaloka selalu menceritakan tentang paman..”
“oh..begitu rupanya..”
“Paman tidak membantu biung dan roma saya menghadapi orang-orang jahat itu..”
“Paman yakin biung dan romo mu mampu mengalahkan orang jahat yang telah menculik mu cah ayu..jadi kita menonton saja ya...”
Gadis kecil itu hanya tersenyum. Sementara pertempuran masih terus berlangsung dengan sengit.
Sangaran putar rantai maut dengan cepat. Saking cepatnya yang tampak kini hanya bayang-bayang hitam berbentuk perisai. Hebatnya dari dalam putaran rantai berbentuk perisai itu melesat lusinan bayangan rantai mengarah titik-titik mematikan dari lawannya.
Pedang mustika giok hijau milik Dyah Pitaloka sampai bergetar hebat. Manakala memapasi gempuran bayangan rantai yang terlihat berdesing mengincar sasarannya. Telapak tangan putri Padjajaran ini serasa kesemutan di buatnya.
“Reeeeetttttt….Craaaakkk..!!”
Sebuah bayangan rantai maut sempat menyerempet lengan kiri dari Dyah Pitaloka. Walau hanya sebuah bayangan. Hebatnya dapat menggores kulit sampai melepuh. Wanita anggun ini terpekik kesakitan. Genggaman tangan kanannya pada gagang pedang sedikit longgar. Kesempatan itu tidak di sia-siakan oleh Sangaran. Arah putaran rantai maut berubah menjadi lesatan yang dalam beberapa kejap rantai itu telah melibat pertengahan badan pedang. Dan dengan sekali hentakan pedang mustika giok hijau lepas dari genggaman Dyah Pitaloka. Namun wanita perkasa ini mana mau membiarkan pedang mustika kesayangannya di rebut lawannya. Maka dengan kecepatan tinggi tubuh putri Padjajaran ini ikuti tarikan rantai maut sangaran pada pedangnya begitu sampai di atas kepala Sangaran dengan cepat hujamkan tumitnya tepat mengenai ubun-ubun dari Sangaran.
“Bruuuakkk..!!”
Tubuh Sangaran ambruk di tanah dengan keras. Pandangan matanya berkunang-kunang. Sebelum menyadari apa yang telah terjadi. Sangaran merasakan rantai maut yang di pegangnya terlepas dan dengan cepat melibat tubuhnya sendiri sampai tidak dapat bergerak. Sebuah sentuhan kecil berhawa dingin di pangkal leher membuatnya kaku tidak dapat bergerak ataupun bersuara. Hanya kedua bola matanya saja yang masih bisa melirik ke kanan dan ke kiri.
Apa yang di alami oleh Sangaran. Terjadi juga pada Warok Sampar Kombayoni. Tubuh Warok dari hutan roban ini terlihat berdiri kaku. Tongkat pendek berujung trisula masih tergenggam di tangan kanannya.
Sementara di sisi lain. Manggala si arit iblis kondisinya tidak sebaik dari ke dua temannya. Ketua partai arit iblis ini tampak terjungkal di tanah berumput dengan puluhan kuas kecil menancap di hampir seluruh tubuhnya. Namun tak tampak setetes darah pun yang keluar dari luka akibat tusukan puluhan kuas kecil itu. Tubuh Manggala terlihat kaku ambruk di tanah. Entah pingsan atau sudah menemui ajalnya.
“Biuuuunggg…!!”
Gadis kecil enam tahun ini terlihat berlari memeluk ibunya. Dyah Pitaloka hanya tersenyum simpul menyambut rangkulan putri kecilnya itu.
“Nyimas Pitaloka..bagaimana dengan luka mu..” kata Sungging Prabangkara sambil memperhatika luka lebam di tangan kiri istrinya itu.
“Tidak apa-apa kakang Sungging. Hanya luka bakar ringan saja..” ujar wanita anggun ini pelan. Sosoknya lantas menghampiri seorang pemuda gagah berbaju putih bercelana hitam dengan buntalan butut di punggungnya. Yang tak lain dari Anggalarang adiknya.
“Rayi Anggalarang..”  ujar Dyah Pitaloka bergetar menahan haru yang tiba-tiba menyergap relung hatinya.
“Kakang mbok Pitaloka..gumam pemuda ini terbata-bata. Dirasakannya kedua kelopak matanya memanas. Walau sudah di tahan sebisanya namun butiran bening luruh juga dari sudut mata Anggalarang. Kedua kakak beradik ini berangkulan. Isak tangis Dyah Pitaloka pecah sudah.
“Maap Raden dan gusti putri Pitaloka. Hamba mengganggu suasana yang mengharukan ini. Tugas hamba menangkap komplotan partai arit iblis telah selesai. Hamba akan membawa para perusuh ini ke Majapahit..” ujar Mangkurat sambil menyusun ke dua telapak tangannya di depan dada.
“Baiklah andika Mangkurat. Kami sekeluarga sangat berterimakasih dengan semua bantuan andika pada kami..” ujar Sungging prabangkara sambil menggendong Sekar Wangi putri kecilnya.
“Tidak mengapa. Kisanak sungging..tapi bagaimana saya dapat membawa tiga orang buronan ini ke Majapahit saya khawatir di tengah jalan mereka berbuat ulah..” ujar Mangkurat khawatir.
“Tidak usah risau andika Mangkurat. Mereka tidak akan bisa berbuat apa-apa lagi. Seluruh kanuragan serta tenaga inti yang mereka miliki telah musnah. Kini mereka menjadi orang biasa saja..” ujar Anggalarang pelan.
“Bagaimana bisa Raden..” kata Mangkurat heran.
“Selagi mereka bertarung. Saya telah memusnahkan kanuragan dan tenaga inti yang mereka miliki dengan ini..” ujar anggalarang sambil memperlihatkan sesuatu pada Mangkurat.
“Sebatang lidi..” ujar Mangkurat tercengang.
“Sebatang lidi ini adalah lidi jantan atau sada lanang andika mangkurat. Nah bawa mereka ke Majapahit. Mereka bertiga akan menurut pada andika bagai kerbau di cocok hidungnya..”
“Baiklah Raden..terimakasih atas semuanya..” ujar Mangkurat yang selanjutnya menggiring ketiga buronan kerajaan ini menuju Majapahit.

ooooOoooo

Perdikan welangun tampak hening dalam dekapan sang malam. Semilir angin dari lereng Arjuna terasa dingin mencucuk persendian. Kabut tipis mulai turun menyelimuti alam sekitarnya. Suara serangga dan binatang hutan berkumandang menyenandungkan sabda alam. Memuji kebesaran sang penciptanya. Disebuah bilik rotan. Anggalarang dan Dyah pitaloka tampak berbincang. Sedang Sekar Wangi sudah terlelap dalam dekapan hangat boponya. Sungging prabangkara.
“Rayi Anggalarang. Beberapa bulan di muka genap satu tahun pengembaraan mu. Lebih baik kembali ke Padjajaran. Seluruh kawula alit membutuhkan dirimu..” ujar Dyah pitaloka pelan.
“Tapi kakang mbok. Tekad saya sudah bulat. Untuk memulihkan kewibawaan Padjajaran. Duel dengan Gajah Mada merupakan jawabannya..”
“Rayi Anggalarang. Kadang apa yang rayi lihat adakalanya tidak seperti kenyataannya..”
“Maksud kakang mbok Pitaloka..”
“Rayi tentu mengenal benda ini..” ujar Dyah pitaloka sambil memperlihatkan sesuatu pada Anggalarang.
“Tentu kakang mbok. Bukankah itu patrem saka domas..”
“Benar. Rayi tentu sudah mendengar kisah patrem saka domas ini..”
“Paman Mangkubumi Bunisora Suradipati sudah menceritakan semuanya..”
“Apa yang rayi Anggalarang lihat sekarang ini..”
“Kakang mbok Pitaloka dan mban Dalem masih hidup..” ujar Anggalarang pelan.
“Nah..tidak menutup kemungkinan ramanda Prabu Linggabuana, Ibunda, dan seluruh prajurit balapati Padjajaran yang tewas di palagan bubat. Kondisinya sama dengan kakang mbok mu ini..”
“Tapi bila itu terjadi. Mengapa mereka tidak kembali ke Padjajaran. Begitupun dengan kakang mbok Pitaloka..” gumam Anggalarang.
“Anggalarang. Setiap orang punya tujuan hidup masing-masing. Dan tidak semua tindakan memerlukan sebuah alasan..”
“Saya paham akan falsapah itu kakang mbok. Namun sebagai seorang kesatriya janji adalah hutang. Wajib hukumnya untuk di bayar. Sebagai calon Prabu. Sabda Pandita Ratu adalah mutlak..”
“Baiklah Rayi Anggalarang. Kalau jalan pedang itu yang rayi kehendaki. Kakang mbok tidak bermaksud menghalangi jalan ksatriya mu. Tapi hanya satu pesan kakang mbok mu ini..kawula alit Padjajaran membutuhkan Dharma Bakti mu..”
“Saya mengerti kakang mbok. Malam ini juga saya berangkat ke Majapahit sampaikan salam saya pada suamimu Sungging Prabangkara dan keponakan saya sekar Wangi..”
Dyah pitaloka hanya bisa menganggukan kepalanya. Putri Padjajaran ini hanya bisa pasrah dan berdoa pada sang maha kuasa atas keselamatan Anggalarang adiknya. Begitu sosok pemuda gagah ini lenyap di balik pintu. Sebuah tangan yang kokoh tampak memegang bahu Dyah Pitaloka.
“Kakang Sungging Prabangkara…” ujar wanita anggun ini pelan.
“Sudahlah nyimas. Kita doakan saja agar tujuan dari adikmu itu tercapai..”
“Tapi kakang. Anggalarang bukan lawan Mahapatih Wilwatikta itu..”
“Nyimas. Bukan kekuatan ataupun kedigjayaan yang akan menentukan kalah atau menangnya sebuah pertarungan. Hanya keinginan serta tekad yang kuatlah kunci dari segalanya..”
Dyah Pitaloka pandang dengan mesra pemuda gagah yang kini sudah menjadi belahan jiwanya ini. Perlahan wanita anggun ini rebahkan kepalanya pada pundak kekar Sungging Prabangkara yang langsung mengelus rambut panjang dari putri Padjajaran itu.

 ooooOoooo

Salam Bhumi Deres Mili

Selanjutnya...
MEMBURU JEJAK MAHAPATIH WILWATIKTA 

1 komentar:

Lisensi

Lisensi Creative Commons
BHUMI DERES MILI by BHUMI DERES MILI is licensed under a Creative Commons Atribusi 3.0 Unported License.
Berdasarkan karya di KANG KUSYOTO, KYT.
Permissions beyond the scope of this license may be available at http//:www.bhumideresmili.blogspot.com.

Total Tayangan Halaman

About

Pages

Download

Powered By Blogger

Search Box

Popular Posts

Followers