KONTAK SAYA

Email Twitter Facebook

TELUSURI

GALERI FOTO

Kategori Arsip Daftar Isi

MULAI DARI SINI

Pelayanan Portfolio Pembayaran

Jumat, 12 Oktober 2012

DHARMA BAKTI PENAWAR KUTUK

Hari masih terang-terang tanah. Kicau burung seakan menyambut sang bola jagat yang perlahan muncul dari rimbun pepohonan mastaba yang banyak tumbuh di sekitar perbukitan dimana disalah satu lembah nan subur berderet puluhan rumah beratapkan rumbia melingkari sebuah bangunan yang cukup besar berlantai tiga dengan cungkup berbentuk limas. Dua orang berpakaian hijau ringkas dengan sebilah pedang tipis di pinggang kirinya terlihat terkantuk menyandar di salah satu tiang gerbang. Onggokan kayu bekas api unggun tampak menghitam dengan asap tipis masih mengepul di tiup angin di pagi hari nan sejuk itu.

 Gemuruh puluhan ladam kuda memaksa kedua orang penjaga gerbang ini terhenyak dari kantuknya. Lantas cabut pedang masing-masing menyongsong beberapa penunggang kuda yang kini berhenti sekitar lima puluh tombak dari bangunan utama lantai tiga berbentuk limas.
“Siapa Kalian dan ada keperluan apa…” sentak salah seorang penjaga pintu gerbang sambil memegang hulu pedangnya.
Tiga orang bertampang sangar serentak melompat dari punggung kuda yang di tungganginya.

“Apa kalian sudah buta. Tidak tahu siapa kami..” sentak orang tinggi besar sambil membolang-baling seutas rantai di tangan kanannya.
“Cepat suruh keluar ketua kalian…” membentak orang kedua dengan tombak pendek berujung trisula.
“Ketua kami tidak ada di tempat…” sela penjaga gerbang ke dua sambil silangkan pedang tipis di dadanya.
“Warok Sampar Kombayoni, Sangaran. Sudahlah jangan buang waktu dengan kedua cecunguk ini.  Kepung tempat ini jangan biarkan Tunggara si penghianat itu lolos..”
 bentak orang berjubah merah berang. Orang ini bertampang paling angker diantara kedua temannya dengan tangan kanan di sambung sebuah logam berbentuk arit berwarna merah.
“baiklah Manggala…mungkin kedua cecunguk ini sudah lelah berjaga semalaman. Ada baiknya kita bantu istirahat selamanya di alam baka…” ujar Warok Sampar Kombayoni sambil putar tombak pendek berujung trisula dengan cepat.
Melihat gelagat tidak beres. Salah satu penjaga gerbang dengan cepat lemparkan sesuatu di udara.
“Blaaaarrr…!!”
Bersamaan dengan bunyi letusan di udara. Dari berbagai sudut bangunan berlantai tiga berbentuk limas melesat puluhan bayangan hijau yang dengan sigap membentuk brikade pertahanan.
“luar biasa..di bayar berapa kalian oleh penghianat Tunggara…” bentak Manggala sambil atur kuda-kuda pertahanan.
“Seraaangggg…!!!”

Satu Tahun Sebelumnya

Orang berjubah putih dengan enam bulatan di batok kepalanya yang plontos setelah menyarangkan tendangan beruntun kearah Manggala si arit iblis hingga terjungkal tampak keteteran.  Rantai maut milik Sangaran berhasil di elakkannya. Tombak berujung trisula miik Warok sampar Kombayoni juga luput menyentuh tubuhnya bahkan dengan kecepatan yang di milikinya orang berjubah putih yang tak lain dari Wiku Dharma Persada sempat menghadiahkan tendangannya ke dada Warok dari alas roban tersebut. Namun sebilah belati terbang milik Tunggara tampak menancap di punggung sebelah kirinya. Di tambah lagi senjata andalan dari sang Wiku berupa tasbeh besar hancur terkena sambaran rantai maut milik Sangaran serta kibasan maut ajian kuntum kilat melecut raga tingkat tiga milik Manggala.
“DUUUAAAAAARRRR…!!!”
Dentuman keras menggelegar. Debu pasir tampak membumbung menutup pemandangan sejauh radius seratus meter. Setelah suasana terang kembali Wiku Dharma Persada sudah tidak ada di tempatnya lagi.
“kurang ajar. Wiku Dharma Persada lolos..” sentak manggala geram.
“tidak usah dikejar Manggala.  Pisau terbang beracunku telak menghujam punggungnya.  Kalau dalam satu hari tidak diobati. Secara perlahan urat saraf dalam tubunya lumpuh.  Aliran daranya akan mengalir terbalik dan bisa dipastikan akan tewas dengan sendirinya..” ujar Tunggara sambil menimang pisau terbangnya.
“hai..kalian cepat tolong aku. Dadaku sesak terkena tendangan wiku sialan itu..”sentak warok sampar kombayoni sambil memegang dadanya yang berdenyut terkena tendangan beruntun sang Wiku.
“bagaimana sekarang Manggala…” ujar Sangaran.
kuburan mustika telah kita kuasai. Aku yakin didalam sana masih banyak senjata-senjata mustika yang dahsyat serta harta karun. Milik Wiku itu.  Ayo kita periksa..” ujar Manggala.
Keempatnya lantas melesat masuk kedalam bangunan berbentuk kubus dari batu andesit yang akan membawa mereka kebawah tanah dimana sebuah tempat bernama kuburan mustika berada.
(untuk lebih jelas. Baca episode sebelumnya: Karmapala Sang Pendekar, Pen)
Namun tidak pernah terpikirkan sebelumnya oleh Manggala si arit iblis, Warok Sampar Kombayoni serta Sangaran. Satu detik sebelum ke tiganya mencapai bangunan berbentuk kubus dari batu andesit. Tunggara yang lebih dahulu masuk ke dalam bangunan batu andesit dengan licik lemparkan puluhan pisau terbang kearah ke tiganya. Begitu Manggala, Warok sampar kombayoni serta Sangaran sibuk menghindari serangan mendadak puluhan pisau terbang Tunggara dengan cepat tekan salah satu celah yang ada di dinding batu yang secara otomatis bangunan berbentuk kubus itu menutup dan meluncur kebawah. Amblas ke dalam tanah tanpa meninggalkan jejak sedikitpun di permukaan tanah.
“Kurang ajar. Tunggara..penghianat busukk..!!” sentak Manggala sambil lancarkan pukulan yang mengandung jurus kuntum kilat melecut raga tingkat tiga ke tanah.
“BBUUUUUMMMM..!!”
Kembali pedataran itu terguncang seperti di goyang lindu dengan batu debu beterbangan menutupi pemandangan dan hal itu di lakukan Manggala secara terus menerus.
“Hentikan Manggala…perbuatan mu ini bisa mencelakakan kita semua..!” sentak Warok Sampar Kombayoni sambil kerahkan pertahanan pelindung dari bebatuan yang semburat ke segala penjuru.
“apa kalian tidak lihat..kita di pecundangi oleh penghianat itu..” geram Manggala.
“Kendalikan emosi mu Manggala. Perhatikan dataran ini. Tidak berlubang sedikitpun walau kamu memukulnya terus menerus dengan jurus mu itu..” gumam Sangaran.
“Tempat ini kuburan mustika. Mungkin sebelumnya sudah dipasang sejenis pagar pelindung oleh Wiku Dharma Persada agar tidak mudah di tembus oleh apapun..” menambahkan Warok Sampar Kombayoni. Membuat Manggala semakin gusar.
“Lalu apa yang harus kita lakukan..”  seru Manggala.
“Untuk sementara kita menunggu kabar selanjutnya. Aku yakin cepat atau lambat Tunggara akan muncul lagi. Saat itulah kita membuat perhitungan..” ujar Warok Sampar Kombayoni.
Dan begitulah….
Setelah kurang lebih satu tahun menunggu sambil menyirap kabar tentang Tunggara. Ketiganya baru memperoleh berita bahwa Tunggara kini telah menjadi seorang saudagar sekaligus ketua partai silat pedang lumut mustika hijau.
Kembali ke bangunan tingkat tiga beratap limas. Kediaman Tunggara
Begitu mendengar aba-aba penyerangan.  Puluhan bayangan hijau yang melesat dari bangunan berbentuk limas itu langsung menyerang rombongan Manggala si arit iblis. Mengetahui hal itu Manggala lantas memberi aba-aba pada anak buahnya. Pertempuran sengit pun pecah antara anak buah Manggala dan Tunggara. Kegaduhan di halaman bangunan limas membuat Tunggara yang sedang berada di dalam ruangan lantai paling atas segera mendatangi sumber keributan. Dan alangkah kagetnya saudagar sekaligus ketua partai pedang lumut mustika hijau ini ketika mengetahui siapa yang membuat keributan.
“Manggala..celaka.  Bagaimana mereka mengetahui keberadaan ku…”
Tunggara segera memerintahkan beberapa anak buahnya untuk menyelamatkan istri serta bayi lelaki berusia lima bulan melalui jalan rahasia. Tapi alangkah kagetnya Tunggara. Ke tiga bekas temannya itu kini sudah ada di belakang dirinya.
“Hahahahaha…jadi ini ketua partai pedang lumut mustika hijau itu..yang tak lebih dari seorang penghianat..” geram Manggala sambil siapkan pukulan maut kuntum kilat melecut raga tingkat tiga.
“Manggala sabar sedikit aku telah menyiapkan bagian kalian masing-masing..” ujar Tunggara bergetar.
“Penghianat busuk..kami datang kemari mau menjemput nyawa semprul mu..” bentak Manggala
“Setelah itu baru keluargamu..” sela Sangaran sambil bolang baling rantai mautnya.
“Jangan libatkan mereka dengan urusan kita.  Mereka tidak tahu apa-apa..” bentak Tunggara.
“Amboy..hahahaha..perampok busuk macam kamu punya hati juga rupanya..” ejek Warok Sampar Kombayoni lalu putar tombak pendek berujung trisula dengan cepat.
“Jangan banyak mulut. Ringkus dia..” sentak Manggala.
Sementara di luar bangunan berbentuk limas. Pertempuran antara anak buah Manggala si arit iblis dan Tunggara semakin seru. Namun lambat laun puluhan anak buah Tunggara terdesak dan akhirnya tumbang satu per satu.
Tunggara kibaskan tangannya kedepan. Puluhan senjata rahasia berbentuk pisau terbang menderu cepat ke arah Manggala, Sangaran dan Warok Sampar Kombayoni tapi dengan sekali kibaskan senjata masing-masing semua senjata rahasia itu luruh ke tanah. Melihat hal itu Tunggara lantas balikan badan bermaksud melarikan diri tapi sebuah sambaran rantai di rasakan melibat tubuhnya sampai ambruk ke tanah berumput.
“Cuma segini kemampuan ketua partai pedang lumut mustika hijau. Memalukan..” cibir Manggala.
“Manggala..lihat apa yang kita dapat kan..” teriak beberapa anak buahnya sambil menggelandang seorang perempuan sambil menggendong bayi lima bulan yang terus menangis di dekapannya.
“Apa yang kalian lakukan dengan keluarga ku. Lepaskan….mereka tidak tahu apa-apa..” teriak Tunggara begitu mengetahui siapa yang di gelandang oleh anak buah Manggala.
“hemmm..mengharukan sekali…hahahaha..” sentak Sangaran sambil letakkan salah satu kakinya di dada Tunggara yang masih terikat oleh rantai maut miliknya.
“Warok Sampar bawa kemari orok itu..” sentak Manggala.
Warok Sampar Kombayoni lantas rebut orok dalam bedungan wanita istri dari Tunggara. Lalu angsurkan di hadapan Manggala.
“Jangan kau apa-apakan anak ku..Manggala..” rengek Tunggara parau.
“huh..bekas begal bajing akiring mental tempe.  Menyesal aku dulu menyelamatkan mu dari telik sandi Majapahit itu.  Sekarang perhatikan apa yang akan aku lakukan pada anak mu ini..”
Sentak Manggala sambil angsurkan tangan kanan yang berbentuk arit di leher sang orok. Manggala sekilas teringat puluhan tahun silam ketika dirinya bermaksud membunuh orok yang akhirnya cuma mengenai pipi kirinya saja. Karena keburu di selamatkan Jarot anak buah dari Wiku Dharma Persada.
“Manggala..aku mohon..lepaskan mereka. Silahkan kalian ambil semua mustika dan harta benda ku..” rengek Tunggara menyayat hati. Tapi rupanya Manggala tidak memperdulikannya dengan sekali ayunkan tangan kanannya yang berbentuk arit. Leher orok malang itu siap menggelinding di tanah.
“Craaakkkk…!!”
Arit merah Manggala terlihat melesak ke dalam batu pipih bekas orok yang akan di penggalnya, sedang orok dan ibunya terlihat di sambar oleh sekelebatan bayangan hitam yang kini mengamankan kedua anak dan bayinya di tempat kelindungan.
“Siapa kau berani mencampuri urusan ku..” sentak Manggala gusar. Sedang sosok bayangan hitam bercaping lebar dengan tongkat kayu berujung sapu lidi terlihat berdiri di hadapannya.
“Rupanya seperti itu. Dahulu ketika kau akan membunuh ku..” ujar sosok yang baru datang ini pelan.
“Apa maksud mu. Siapa kau..buka caping butut mu itu..” sentak Manggala.
“Apa arti sebuah nama. Semua manusia terlahir tak bernama…”
“Huh..jangan banyak mulut..!!”.  Manggala lantas kebut tangannya ke depan secara bersamaan. Alur berwarna merah melesat bergumpal-gumpal.
“Itukah jurus Kuntum Kilat Melecut raga level tiga..” gumam orang bercaping dengan ujung tongkat berbentuk sapu lidi. Dengan cepat kibaskan benda itu memapasi jalur merah yang mengarah dirinya.
“beessss…” terdengar letupan kecil lalu sirna.
“Edan..siapa orang ini. Pukulan andalan ku di buat mentah hanya dengan benda butut di tangnnya itu..” membatin Manggala.
“Sangaran, Warok sampar Kombayoni..mengapa diam saja. Bereskan orang gila kesasar ini..” sentak Manggala.
Tak menunggu komando dua kali. Sabetan rantai maut Sangaran terlihat melesat kearah orang bercaping bambu dengan tongkat berujung sapu lidi ini disusul tusukan berantai tombak bermata trisula milik Warok Sampar Kombayoni. Namun seperti mengacuhkan bahaya yang datang. Sosok bercaping bambu tampak diam bagai patung di tempatnya berdiri. Rantai maut Sangaran melesat dengan cepat mengarah kepala sosok bercaping bambu dengan deras. Sejengkal lagi sudah bisa di pastikan kepala bercaping bambu itu akan terkena hujaman rantai maut. Dengan hanya menggeser badannya ke samping kiri sosok bercaping bambu ini dapat menghindari hujaman rantai maut Sangaran. Begitupun ketika tusukan beruntun tombak berujung trisula Warok Sampar kombayoni yang mengarah ke dada kiri sosok bercaping bambu. Hanya dengan satu langkah ke belakang sosok bercaping bambu ini lolos dari tusukan mematikan tombak berujung trisula Warok Sampar Kombayoni.
Melihat hal itu. Manggala lepaskan pukulan jurus kuntum kilat melecut raga level tiga sekaligus mengerahkan seluruh tenaga inti yang di milikinya.
“BUUUUUUMMMM..!!!”
Kiblatan sinar merah terlihat bergulung-gulung bagai ombak menerjang sosok bercaping bambu. Namun dengan tenang sosok ini kibaskan tongkat berujung sapu lidi menyongsong pukulan maut Manggala. Begitu sinar merah jurus kuntum kilat melecut raga level tiga beradu dengan tongkat berujung sapu lidi. Sinar pukulan maut itu langsung mengembang bagai kipas dan mental berbalik kearah manggala sekaligus melesat kearah Warok Sampar Kombayoni dan Sangaran yang dengan sekuat tenaga menghindar dari senjata makan tuan pukulan maut Manggala.
“DUUUAAARRRRR…!!!”
Sosok Manggala dan kedua temannya tampak terlempar beberapa tombak ke belakang. Berguling beberapa kali lalu sosok ke tiganya tertahan oleh sebatang pokok pohon yang tumbang. Menyadari lawan lebih unggul tanpa di komando dua kali Manggala, Sangaran dan Warok Sampar Kombayoni lesatkan tubuhnya ke belakang yang sosoknya lantas hilang di tengah rimbunnya belukar.
“Terimakasih atas bantuannya tuan pendekar…” ujar Tunggara dan istrinya berbarengan.
Sosok bercaping bambu hanya anggukkan kepalanya pelan. Tongkat berujung sapu lidi di silangkan di dadanya.
“Kau yang bernama Tunggara…” ujar sosok bercaping bambu sambil dekati Tunggara
“Tuan pendekar mengenal saya..”
“Itu tidak penting. Tunggara apa kau tahu keberadaan seseorang yang bernama Wiku Dharma Persada…”
Tunggara terlihat kaget. Di tiliknya sosok bercaping bambu lebih seksama. Mencoba mengetahui raut wajah di balik caping bambu.
“Apa hubungan tuan dengan Wiku Dharma Persada…”
“Jawab saja Tunggara. Aku tahu kalian ber empat sebelumnya adalah murid dan anak buah Wiku itu..”
“Baiklah..karena tuan pendekar telah menolong saya sekeluarga. Saya akan menceritakan semuanya..”
Setelah menarik napas panjang. Tunggara mulai menuturkan sebuah kisah yang di alaminya setahun sebelumnya. Dari dirinya yang di selamatkan Manggala dari tangan Mangkurat telik sandi Majapahit. Sepak terjangnya bersama Manggala dalam menundukan berbagai aliran partai silat sampai pengeroyokan terhadap wiku Dharma Persada. Hingga kelicikannya mempecundangi Manggala dan teman-temannya ketika berada di kuburan mustika milik sang Wiku.
“Jadi Wiku Dharma Persada sempat meloloskan diri..”
“Benar tuan pendekar..” ujar Tunggara terbata. Dia tentu saja tidak menceritakan bagaimana senjata rahasia pisau terbang beracun sempat menghujam punggung kiri dari Wiku Dharma Persada. Takut kalau antara sang Wiku dan sosok bercaping bambu di hadapannya itu masih memiliki hubungan dekat.
“Baiklah Tunggara. Sudah cukup keterangan mu. Satu saran ku tinggalkan daerah ini sejauh-jauhnya. Aku yakin cepat atau lambat Manggala akan datang kembali mencari dirimu..”
“Terimakasih tuan pendekar. Kalau boleh tahu siapa tuan pendekar ini..”
“Aku Sada Lanang..”
Bersamaan dengan ucapan terakhirnya. Sosok bercaping bambu langkahkan kakinya meninggalkan Tunggara yang masih diam di tempatnya.
“Sada Lanang. Apa hubungan pendekar itu dengan Wiku Dharma Persada. Yang aku tahu hanya Sanjaya yang paling dekat dengan Wiku itu. Kabar terakhir Wiku Dharma Persada mengutus Sanjaya ke nagri Hindustan entah untuk tujuan apa. Yang jelas aku harus meninggalkan daerah ini sejauh mungkin. Menghindari Manggala dan tidak menutup kemungkinan Sanjaya yang kelak kembali lagi ke tanah Jawadwipa ini..”
Memikir sampai disitu Tunggara lantas mengajak istri yang tengah meggendong bayinya pergi meninggalkan rumah berlantai tiga berbentuk limas yang selama setahun belakangan menjadi markas partai pedang lumut mustika hijau yang di pimpinnya. Tunggara tidak pernah tahu sosok bercaping bambu yang mengaku bernama Sada Lanang itu adalah Sanjaya.

ooooOoooo

Angin utara berhembus pelan. Menyibak rambut panjang sosok berpakaian putih dengan celana hitam yang tampak diam membisu. Buntalan butut terlihat bergantung di pundak sebelah kirinya. Matanya terus menerawang mengamati lembah subur yang ada di bawahnya. Sesekali terdengar tarikan napas berat dan panjang. Seperti ada batu besar yang mengganjal relung dadanya.
“Hampir satu tahun. Namun keberadaan Patih Wilwatikta itu seperti sirap tertelan bumi. Kemana lagi aku harus mencarinya. Sebentar lagi masa pengembaraan ku akan usai..”
Membatin sosok yang sedari tadi diam membisu bak bongkahan karang di tengah gelombang.
“Bagaimanapun juga. Gajah Mada harus mau duel dengan ku…”
Sosok baju putih ber celana hitam ini terus diam membisu. Larut dalam alam pikirannya. Mendadak telinganya yang tajam seperti mendengar sesuatu. Dihirupnya udara sekitar dengan pelan.
“Hemm..orangnya pasti dekat di sekitar sini..” gumam sosok ini dalam hati.
Lapat-lapat tertiup hembusan angin. Suara seruling yang menyayat hati itu terdengar di kejauhan. Seakan berasal dari relung jurang yang sangat dalam. Mengalun syahdu menggetarkan jiwa sispapun yang mendengarnya.
“Andika peniup seruling. Sudilah kiranya menunjukan diri. Aku tahu andika berada dekat di sekitar sini..” teriak sosok berbaju putih celana hitam ini lantang.
Tak menunggu lama. Dari balik rimbunnya pepohonan hutan. Satu sosok ramping bercadar violet terlihat muncul sambil menyusun telapak tangannya di depan kening. Sedang di pinggang sebelah kanan sebuah seruling berwarna perak terselip di antara ikat pinggangnya.
“Maapkan hamba Raden Anggalarang..” ujar sosok bercadar violet ini pelan. Ditilik dari suaranya di pastikan dia adalah seorang perempuan.
“Nyisanak mengenal ku..” gumam pemuda berbaju putih celana hitam yang ternyata Anggalarang yang tengah dalam lelaku pengembaraannya.
“Hamba Raden…” gumam sosok bercadar violet ini sambil masih tetap menyusun ke dua tangannya di depan keningnya.
“Siapakah Nyisanak ini..” tukas Anggalarang.
Perlahan sosok bercadar violet ini membuka cadarnya di hadapan Anggalarang.
“Mbok mban dalem..benarkah ini dirimu..” gumam Anggalarang tidak bisa menutupi rasa terkejutnya.
Sosok bercadar violet ini hanya bisa mengangguk kan kepalanya dengan pelan.
“Mbok mban..bukankah dirimu dikabarkan sudah tewas di palagan bubat bersama ramanda Lingga Buana, Ibunda, kakang mbok Pitaloka dan pasukan bala pati Padjajaran..” gumam Anggalarang tak habis pikir.
“Raden tentunya mengenal benda yang hamba pegang ini…” kata sosok bercadar violet yang memang mbok mban Dalem. Pengasuh dari Dyah Pitaloka kakak dari Anggalarang. Sambil mengangsurkan sebilah tusuk konde berbentuk keris tak ber eluk.
“Patrem saka domas. Mbok bukankah patrem ini milik kakang mbok Pitaloka. Bagaimana bisa ada pada dirimu..” ujar Anggalarang pelan.
Tanpa di minta dua kali. Meluncurlah sebuah kisah dari bibir wanita pengasuh Dyah pitaloka ini. Dimulai dari keberangkatanya bersama rombongan Prabu Lingga Buana yang akan bertolak ke Majapahit dalam rangka memenuhi pinangan dari Raja Hayam Wuruk. di tengah jalan diantara derasnya aliran sungai sugaluh Dyah Pitaloka memerintahkan mban Dalem menyiapkan sebuah sampan kecil yang sebelumnya Putri Padjajaran ini menitipkan pedang giok hijau miliknya serta patrem saka domas pada mban Dalem. Ketika putri Padjajaran ini melompat ke atas sampan dan meluncur mendahului rombongan ke Majapahit. Secara gaib mban Dalem berubah wujud menjadi putri Dyah Pitaloka yang akhirnya dalam pertempuran di palagan bubat belapati dengan patrem saka domas. (baca. Angkara Sang Pendekar, Pen).
“Jadi kakang mbok. Pitaloka masih hidup..” ujar Anggalarang bergetar.
“benar Raden. Tapi Gusti ayu Pitaloka sekarang sudah menjadi rakyat jelata dan hidup bersama Sungging Prabangkara di sebuah desa bernama welangun. Sebelah tenggara kaki gunung Arjuna..”
“Sungging Prabangkara. Akhirnya kakang mbok Pitaloka menemukan belahan jiwanya yang di kenal  lewat mimpinya itu..” gumam Anggalarang.
“Beberapa bulan lagi genap satu tahun pengembaraan raden untuk memegang trah Prabu di Padjajaran..” ujar mban Dalem.
“Benar mbok. Tapi ada sesuatu yang harus aku lakukan..”
“Kalau hamba boleh tahu. Apa itu Raden..”
“Duel dengan Gajah Mada. Bagaimanapun aku harus belapati demi kewibawaan Padjajaran. Mbok..”
Mban Dalem cuma bisa menarik napas dalam dan panjang.
“Kenapa mbok..” ujar Anggalarang. Manakala melihat pengasuhnya ini tampak khawatir.
“Raden. Bukannya hamba meragukan kemampuan Raden. Sebelum Raden berhadapan langsung dengan Gajah Mada. Ribuan pasukan Bhayangkari Majapahit harus Raden hadapi..”
“Mbok. Tapi tekad ku sudah bulat…” pungkas Anggalarang mantap.
“Baiklah Raden. Jika itu sudah tekad Raden. Cuma satu pesan hamba. Rakyat beserta seluruh kawula Padjajaran membutuhkan Raden..”
“Aku mengerti mbok. Sekarang mbok mau kemana..”
“Tugas hamba sudah selesai Raden. Hamba akan kembali ke Pegunungan Kawi. Membuka lembaran baru mendirikan padepokan bersama suami hamba..”
Setelah pamit pada Anggalarang. Mban Dalem lantas jejakkan kakinya ke tanah yang dalam sekejap sosoknya telah jauh terlihat di lamping bukit lalu raib di balik gugusan bukit karang sebelah selatan. Hanya gaung seruling yang menyayat hati terdengar sangat dekat berputar di sekeliling Anggalarang.
“Jurus pemindah suara yang sempurna..” gumam Anggalarang sambil memasukan patrem saka domas ke dalam buntalan hitam butut miliknya. Lantas sosoknya terlihat jauh menuruni bukit kearah timur. Tujuannya sudah mantap kota Raja Majapahit.

ooooOoooo

Mentari hampir condong ke barat. Hembusan sang bayu terdengar bergemerisik manakala menerpa rumpun bambu di kaki bukit. Sosok bercaping bambu dengan tongkat sapu lidi di ujungnya terlihat tertatih menjejakkan kaki. Mendaki  kearah puncak bukit batu. Dimana meremang dalam kabut senja hari sebuah bangunan berbentuk kubus dari batu andesit. Didepan batu andesit inilah sosok bercaping banbu ini hentikan langkahnya. Sesaat sosok ini buka caping bambu yang menutupi kepalanya. Tampak seraut wajah kuyu berambut gondrong dengan goresan bekas luka melintang di pipi kirinya.
“Hampir satu tahu aku meninggalkan tempat ini. Apakah aku mampu membuka pintu rahasia ini tanpa adanya tenaga inti..” gumam sosok pemuda berambut gondrong yang tak lain dari Sanjaya atau dunia persilatan menjulukinya dengan sebutan pendekar sada lanang. Kita semua tahu siapa pemuda ini. Walau seluruh ilmu kanuragannya sirna akibat pengaruh benda tongkat berujung sapu lidi yang sekarang menemaninya kemanapun dan dimanapun dia berada. Tapi benda itu juga yang beberapa kali menyelamatkan nyawanya. Seperti yang di ucapkan sifu Zen.
“ Aku harus mencobanya..” gumam Sanjaya atau Sada Lanang dalam hati.
Perlahan pemuda dengan parut melintang di pipi kirinya ini tempelkan telapak tangan kanannya di celah yang ada di dinding batu andesit dan dengan sekuat tenaga kepalkan telapak tangannya yang seharusnya dinding batu andesit ini akan membuka kebawah. Namun untuk ini kali walau di cobanya beberapa kali tetap saja didinding batu andesit itu tidak membuka. Bergeming pun tidak.
“Seluruh ilmu kanuragan dan tenaga inti benar-benar sudah tidak ada lagi pada diri ku..” gumam Sada lanang masgul. Namun sudut matanya tak sengaja melirik tongkat berujung sapu lidi yang tergenggam di tangan kirinya.
“Mungkin kah..” membatin Sada lanang. Perlahan tongkat berujung sapu lidi itu digoreskan di dinding batu andesit.
“RRREEEETTTT…!!” terdengar suara berdesir di susul terbukanya dididing batu andesit.
“Luar biasa benda ini..” gumam Sada Lanang yang dengan segera masuk ke dalam bangunan batu andesit berbentuk kubus ini yang langsung menutup ketika Sada Lanang sudah berada di dalamnya. Serta secara otomatis meluncur kebawah.
Beberapa saat kemudian daya luncur dari batu andesit dirasakan berhenti. Ketika tutup batu andesit terbuka.  Degan cepat Sada Lanag melangkah keluar. Dimana di depan sana terpaut tiga langkah di hadapannya puluhan bahkan ratusan berbagai jenis senjata mustika dari bilah pedang, keris, tombak dan lain sebagainya masih berada di tempatnya semula ketika wiku Dharma Persada serta dirinya dulu merampas senjata dan benda mustika dari musuh-musuh partai Halilintar Sewu dan menyimpannya serta menamakan tempat itu sebagai kuburan mustika.
“Tidak ada yang berubah dari tempat ini. Dan tidak ada satu pun senjata mustika yang hilang..lalu apa yang di ambil oleh Tunggara hingga dia menjadi seorang saudagar yang kaya raya serta jadi pemimpin dari partai pedang lumut mustika hijau..”
Sada Lanang tampak termenung disebuah batu datar dimana dahulu wiku Dharma Persada duduk. Mendadak suasana goa yang terang benerang oleh sebongkah batu bersinar di atap goa. Secara perlahan meredup dan dari dalam tanah menyembur kabut tebal. Ketika kabut mulai menipis didalam kabut tampak satu sosok orang tua kelimis berjubah putih tengah duduk bersila.
“Sifu Zen..” gumam Sada Lanang tercekat. Pemuda ini tak menyangka guru dari wiku Dharma Persada dan pertapa Sapta Raga menampakkan sosok astral di hadapannya.
“Sada Lanag. Tidak usah heran atau aneh dengan apa yang kau alami. Sebab semua yang ada di dunia ini adalah misteri di balik misteri..”
“Maksud sifu Zen..”
“Kelak kau akan mengetahuinya sendiri. Sada Lanang..”
“Maap sifu Zen. Tahukah dimana keberadaan ke dua guru saya itu..”
“Kedua guru mu itu sekarang tengah melakukan lelaku atau ritual Dharma Bakti untuk memebus semua ke alpaan nya. Dan kau pun seharusnya melakukan hal yang sama untuk menawar kutuk yang tengah kau jalani Sada Lanang..”
“Dharma Bakti..” gumam Sada Lanang.
“Benar.  Dharma Bakti penawar kutuk…” sela sosok astral dari sifu Zen.
“Apa yang harus saya lakukan. Agar kutuk yang menimpa ini segera tawar..” gumam Sada Lanang.
“Kau telah melangkah terlalu jauh dari rumah mu Sada Lanang. Kembalilah ke awal langkah..”
“Saya masih belum mengerti. Apa yang sifu Zen maksud..”
“Kau tentu masih ingat dengan pemuda gagah yang bernama Anggalarang..”
“Masih sifu. Siapakah pemuda itu sebenarnya. Yang hanya dengan tongkat berujung sapu lidi yang di tinggalkannya ini. Mampu memusnahkan seluruh tenaga inti serta kanuragan yang saya miliki..” kata Sada Lanang. Sambil usap tongkat berujung sapu lidi di tangan kirinya.
“Ketahuilah Sada Lanang. Pemuda itu adalah calon Prabu yang akan menurunkan trah Raja-Raja agung di tatar pasundan.Silih berganti dan Wangi. Dan dialah kelak yang mampu menemukan serta mengangkat senjata mustika bilah pedang Sangga Buana yang aku tanam di dalam kawah kepunden gunung sangga buana..”
“Lalu hubungannya dengan saya apa sifu..”
“Setelah kau kembali ke awal langkah. Dengan menjalankan ritual Dharma Bakti penawar kutuk. Berangkatlah ke Padjajaran mengabdilah kepada Angggalarang atau Niskala Wastu Kencana. Mudah-mudahan kutuk yang menimpa dirimu akan sirna…” Seiring dengan ucapan terakhirnya sosok astral dari sifu Zen perlahan memudar lalu sirna seiring dengan hembusan angin yang masuk dari relung goa dari sebelah atas.
Sepeninggal sosok astral sifu Zen. Sada Lanang masih termenung di tempatnya.
“Kembali ke awal langkah. Dharma bakti penawar kutuk..ahhh apa maksudnya. Benar-benar misteri di balik misteri..”. membatin Sada Lanang. Yang tiba-tiba senyum simpul menyeruak dari bibirnya yang kering.

ooooOoooo

Selanjutnya:

KUNTUM TERATAI DI TENGAH BELUKAR




1 komentar:

  1. silahkan meninggalkan jejak para sobat...ditunggu komentarnyaaa yaaa...

    BalasHapus

Lisensi

Lisensi Creative Commons
BHUMI DERES MILI by BHUMI DERES MILI is licensed under a Creative Commons Atribusi 3.0 Unported License.
Berdasarkan karya di KANG KUSYOTO, KYT.
Permissions beyond the scope of this license may be available at http//:www.bhumideresmili.blogspot.com.

Total Tayangan Halaman

About

Pages

Download

Powered By Blogger

Search Box

Popular Posts

Followers