KONTAK SAYA

Email Twitter Facebook

TELUSURI

GALERI FOTO

Kategori Arsip Daftar Isi

MULAI DARI SINI

Pelayanan Portfolio Pembayaran

Kamis, 21 Juni 2012

KERIS SANG MAHAPATIH


     Pasanggrahan yang terletak dipuncak bukit tapal kuda itu temaram di saput lembayung senja hari, guratan air terlihat turun dari sela-sela tebing di samping kanan pasanggrahan, undakan tangga batu menghiasi tiap turunan tebing yang berakhir disebuah aliran sungai kecil berair jernih, ditengah sungai diatas batu pipih satu sosok terlihat duduk bersila, hembusan angin sesekali mengibarkan rambutnya yang di biarkan tergerai sebahu, perlahan sosok yang sejak pagi terpekur dalam semedi buka perlahan kedua kelopak matanya, sorot mata yang tajam, raut wajah nan tegas terlihat di sana.


Pandangan mata yang tajam masih di milikinya, badan kekar nan tegap masih menjadi bagian dari perawakannya, perlahan sekeping ingatannya terpesat ke masa beberapa purnama sebelum dirinya berada di tempat yang sekarang menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
“paman Mada, saya memberikan anugrah tanah madakaripuri bukan bermaksud mengasingkan paman dari kedaton, ini semata sebagai bentuk rasa hormat saya sebagai seorang prabu, semoga paman Mada tidak salah paham..”
Selesai mengucapkan titahnya sebagi seorang prabu agung di wilwatikta, prabu Hajam wuruk perlahan memberikan gulungan rontal pada mahapatih Gadjah mada yang menerimanya dengan khidmat.
“dari madakaripuri, paman masih bisa memberikan komando pada pasukan yang paman pimpin karena dari sana paman bisa lebih leluasa mengamati gerakan-gerakan yang akan merongrong kewibawaan majapahit..”
“hamba gusti prabu..hamba siap menjalankan titah..”
Setelah menghaturkan sembah, patih yang telah mengabdi pada tiga generasi wilwatikta ini perlahan beringsut dari hadapan prabu Hajam wuruk.
Sesaat sosok lelaki tinggi besar  ini hembuskan napasnya dengan berat, titah prabu Hajam wuruk beberapa waktu lalu masih terngiang jelas di telinganya, masih terbayang dengan jelas pandangan masgul beberapa prajurit bhayangkari di benaknya ketika melewati pintu gerbang.
Telinga tajam sosok tinggi besar yang tak lain dari mahapatih Gadjah mada ini mendengar langkah kaki beberapa orang meniti undakan batu di dinding tebing yang menuju kearah dirinya, tak lama sepuluh orang berseragam prajurit majapahit telah berdiri tiga langkah di hadapannya.
“ampun mahapatih..kami menghadap..”
“ada titah apa dari gusti prabu prajurit..” sela patih Gadjah mada pelan, namun bagi prajurit ini suara itu bak gelegar halilintar
“hamba gusti patih..hamba tadi dari madakaripuri , ternyata gusti patih ada di tapal kuda..”
“aku dari pagi berada di sini, prajurit..kau belum menjawab pertanyaan ku..”
“maap kan hamba gusti patih..ada sesuatu yang harus hamba sampaikan..”
“mengenai apa prajurit..”
“kemarin prabu Hajam wuruk memerintahkan rakyan jala tunda dengan pasukan bhayangkarti menumpas grombolan perusuh di sebelah barat hutan jati anom, kenapa beliau tidak memberitahu hal ini pada gusti patih..”
Walau sesaat guratan kekecewaan tergambar jelas di rona wajah patih Gadjahmada, namun dengan segera di tepisnya perasaan itu dari benak patih Gadjah mada
“sudahlah prajurit..mungkin gusti prabu memiliki pandangan lain dalam hal itu..” sela Gadjah mada pelan
“hamba mengerti gusti patih, tapi sebagai prabu seharusnya beliau bijak dalam menyikapi suatu masalah..karena hamba yakin tragedy bubat bukan sepenuhnya kesalahan gusti patih..”
“prajurit tahu apa kamu soal kebijakan…asal kau tahu kebijakan yang paling bijak hanya dimiliki oleh sang maha pencipta..”
“lalu apa tindakan dan rencana gusti patih selanjutnya…”
“tidak ada…”
“maksud gusti patih…”
“prajurit kau suka menonton wayang beber…”
Prajurit majapahit ini tertegun dengan pertanyaan mahapatih Gadjah mada, namun dianggukkannya juga kepalanya
“hamba suka gusti patih..”
“pada hakikatnya kita semua adalah wayang beber,  benda mati sebelum mati..apa sekarang kau mengerti prajurit..”
Walau bingung dengan kalimat yang di ucapkan patih Gadjah mada, diangguk-anggukkannya juga kepala prajurit ini beberapa kali
“nah prajurit kembalilah kalian ke kedaton..”
Prajurit ini tidak berani lagi bersuara, maka dengan tergesa ditinggalkannya tapal kuda dengan segera, sedang patih Gadjah mada masih berdiri ditempatnya.

ooooOoooo

     Dalam episode : Pergolakan Bhatin Sang Ksatria  dikisahkan bagaimana Anggalarang, calon prabu padjajaran yang sedang lelaku lumampah ing bawana atau pengembaraan selama satu tahun sebelum dirinya dilantik menggantikan ayahhandanya prabu Linggabuana yang gugur di palagan bubat bertempur dengan resi drupada di dasar jurang pualam biru yang akhirnya resi ini melarikan diri, pemuda gagah dengan gembolan kain butut di bahu kirinya ini sampai pada suatu hutan kecil sebelah tenggara dari kedaton jaya purantala, pemuda ini dengan tenang terus melangkahkan kakinya namun pada langkahnya yang ke seratus mendadak sontak tubuhnya  terperangkap dalam jarring yang entah sengaja atau tidak melibatnya sampai tidak bisa bergerak, pemuda ini lantas salurkan tenaga inti di telapak tangannya dan berusaha membetot jarring yang melibatnya, namun..semakin dicoba merobek jarring semakin kuat jarring itu melibat tubuhnya tak lama dari rimbunan belukar beberapa orang bercadar hitam telah mengurungnya dengan senjata terhunus.
“siapa kalian..” sentak Anggalarang
“siapa kami tidak lah penting raden..yang jelas hari ini pengembaraan mu selesai dengan minggatnya dirimu ke alam kelanggengan..”
Anggalarang tersentak, beberapa orang itu ternyata menghendaki nyawanya dan yang lebih mengejutkan orang-orang ini tahu siapa jati dirinya.
“kalau kalian kesatria, hayo lepaskan aku..kita duel..”
Sentak Anggalarang sambil berupaya melepaskan diri dari jarring yang melibatnya
“jarring ulat sutra itu sangat ampuh raden, semakin raden berontak tubuh raden akan koyak secara perlahan..”
“apa mau kalian..”
“bukankah sudah kami katakana maksud kami raden..”
Anggalarang kembali mencoba menjebol jarring yang melibat tubuhnya, namun semakin mengerahkan tenaga inti justru seluruh tubuhnya seakan lemah tak berdaya.
“tenanglah raden, kami akan melakukannya dengan cepat..”
Orang bercadar yang bertubuh jangkung kurus ini sesaat sarungkan golok besar kedalam warangkanya, dari balik lipatan baju dikeluarkannya sejenis jarum tipis kecil hampir tak terlihat oleh mata biasa, lalu ditimangnya jarum itu di telapak tangannya.
“kami jamin kematian raden akan wajar, jarum ini akan menembus jantung dengan cepat dan tanpa mengeluarkan darah sedikitpun..”
“kurang ajar kalian..”
Orang bercadah hitam dengan perawakan jangkung ini Cuma ganda tertawa, detik berikutnya diawali geraman lantang dilemparkannya jarum halus tersebut kea rah dada kiri Anggalarang
“brrreeeesssss…..reeeeetttt…reeeeeettt..!!”
Jarum itu terhenti sesenti di dada Anggalarang, bersamaan dengan munculnya sinar biru dari balik pinggang baju putih Anggalarang yang langsung memapaki jarum maut dan sekaligus mengkoyak jarring ulat sutra yang melibat pemuda ini.
Jarring ulat sutra itu tampak jebol di beberapa bagian, dengan sigap Anggalarang raih sinar biru dalam genggaman tangan kanannya dan sekali kiblat jarring ulat sutra terbakar dengan sendirinya.
“celaka bagaimana sekarang..”
Sentak salah seorang bercadar hitam pada sosok kerempeng yang barusan melemparkan jarum maut kearah Anggalarang
“kepalang tanggung..seraaanggg….”
Sepuluh orang bercadar hitam dengan senjata terhunus merangsak bersamaan kearah Anggalarang, pemuda calon pewaris tahta padjajaran ini sabetkan sinar biru yang tak lain dari keris milik mahapatih Gadjah mada pada orang-orang bercadar yang menyerang dirinya.
Pertarungan yang tak seimbang pecah, sepuluh orang bercadar dengan golok besar di tangan dengan ganas menyerangnya begitu sepuluh golok secara serempak menghujam kearah pemuda ini…
“traaaaaakkkkhh…!!”
Alur sinar biru dari keris di tangan Anggalarang memapasinya menimbulkan deru suara panjang dan nyaring yang detik berikunya sepuluh golok terlihat patah menjadi dua bagian.
“munduuurrrr…!!”
Terdengar teriakan dari orang jangkung kerempeng bercadar hitam, tanpa di komando dua kali dengan sekali lentingan badan ke belakang, orang-orang bercadar hitam ini raib di telan kabut hitam yang secara tiba-tiba melingkupi arena pertempuran, begitu suasana kembali terang tampak Anggalarang masih berdiri sambil menggenggam bilah keris berpamor biru di tangan kanannya.
“siapa mereka dan apa maksudnya menghendaki nyawaku..”
Membhatin Anggalarang sambil menyarungkan bilah keris kedalam warangkanya, di amatinnya sejenak keris milik patih Gadjah mada yang ada di genggaman tangan kanannya.
“senjata mustika yang luar biasa, entah apa maksud mahapatih itu memberikan kerisnya kepadaku, beberapa kali bilah mustika ini menyelamatkan nyawaku…tapi tekadku sudah bulat, gugurnya ramanda Lingga buana, kakang mbok Pitaloka dan para ksatria belapati Padjajaran di palagan Bubat, hanya bisa di tebus dengan nyawa Mahapatih Wilwatikta itu..”
Gumam Anggalarang dalam hati, diselipkanya kembali keris milik Mahapatih Gadjah mada itu di balik pinggang kiri pakaian putihnya, ketika pemuda gagah ini hendak meneruskan perjalanan lapat-lapat terdengar suara seruling yang semakin lama suaranya semakin dekat kearah dirinya.
“aneh..suaranya jelas menggema di tempat ini, namun sang peniup seruling tidak tampak tanda-tanda keberadaannya di tempat ini..”  membhatin Anggalarang.
Gema seruling itu begitu merdu mendayu, seakan berputar-putar di sekeliling Anggalarang, pemuda ini sapu pandangannya  kesesantro lembah yang terhampar dibawahnya tapi tetap saja tidak tampak tanda-tanda keberadaan sang peniup seruling.
“lebih bagus aku lanjutkan perjalanan ke Madjapahit, mungkin peniup seruling ini hanya mau mempermainkan ku saja..”
Memikir sampai di situ Anggalarang jejakkan kakinya ketanah yang dalam satu kali lompatan sosoknya kini terlihat jauh di ujung lembah yang memutih ditumbuhi rumpun bunga gelagah.
Bertepatan dengan melesatnya Anggalarang,  dari rumpun perdu bunga abadi edelwis satu sosok berkerudung biru dengan seruling perak ditangannya tampak memandang punggung Anggalarang yang kini telah jauh lalu hilang di telan lebatnya rumpun bunga gelagah wangi.
“maapkan hamba raden, bukan bermaksud mempermainkan..jika kelak waktunya tiba dimana lelaku lumampah ing bhawana dan genap satu tahun pengembaraan raden berakhir..saya pasti akan mengatakkan hal yang sebenarnya terjadi dengan Raden Ayu Dyah Pitaloka…”
Gumam sosok bercadar biru ini yang dengan sekali hentakan kaki ke tanah sosoknya raib di rimbunnya pepohonan hutan.

ooooOoooo

     Prabu Gegar wahana pandang sosok yang ada di hadapannya dengan bengis sebilah pedang tipis berkilat tampak dalam genggaman tangan kanannya.
“dinda Platik waja..cabut senjata Mandau punyamu..kau telah menyalahi aturan sayambara yang di tetapkan Syeh Idlopi..”
Pemuda gagah bermahkota dengan plat bahu dodot sutra berwarna coklat keemasan ini tampak perlahan cabut Mandau dari punggung kirinya, lalu digenggamnya Mandau itu dengan erat di tangan kanannya.
“kanda Gegar wahana, dalam satu sayambara bukan hanya kekuatan otot yang di uji, tapi akal dan reka pendaya menentukan separoh dari kemenangan..”
“dinda Platik waja..kau tidak usah menggurui aku..makam ayahanda dan ibunda yang ada dihadapan kita biarlah menjadi saksi, hari ini..persaudaraan kita harus di akhiri di ujung senjata kita masing-masing..”
Ketegangan terasa menggantung diudara, kedua saudara kandung yang seharusnya saling menyayangi kini terlihat berhadapan dengan wajah kelam membesi, dilangit mendung ber arak kearah barat sinar mentari redup tersaput gumpalan awan hitam, gerimis perlahan menitik membasuh bumi seakan ikut merasakan miris menyaksikan dua orang yang dulu saling sayang dan mengasihi akan menuntaskan urusan demi ambisi pribadi.
“ silahkan kakanda Gegar wahana..” gumam platik waja bergetar
“dinda Platik waja..mulailah terlebih dahulu..”
Walau kini kedua prabu yang baru dilantik ini berseteru, namun rasa tidak mementingkan diri sendiri masih melekat di keduanya, sayang..bila urusan sudah menyerempet kearah asmara agaknya rasa persaudaraan jadi terkesampingkan.
Hujan mulai turun dengan deras, areal pekuburan kerabat keraton seakan membeku dalam deru bara angkara dari kedua Prabu ini, diawali kilatan diangkasa disusul gelegar halilintar diangkasa keduanya secara bersamaan lentingkan badan kebelakang detik berikutnya, secara bersamaan pula saling melesat ke depan dengan senjata terhunus diarahkan kelawannya.
“trrraaaang..traaangg..traaaaaang..!!!”

Dentingan senjata tajam terdengar beradu ditengah gemuruh hujan yang semakin lebat mengguyur areal pemakaman kerabat kerajaan, puluhan jurus telah berlalu namun belum tampak tanda-tanda siapa yang unggul dan siapa yang menjadi pecundang, ini wajar karena baik jurus ilmu kanuragan dan kebathinan yang digelar dua orang prabu ini adalah sama.
Sampai satu saat dari arah lamping bukit sebelah areal pemakaman puluhan orang berseragam prajurit terlihat mendekati areal pemakaman dimana kedua raja mereka sedang ber duel.
“gusti Prabu Gegar wahana dan Gusti  Prabu Platik waja..tolong hentikan pertempuran ada hal penting yang harus hamba sampaikan..”
Teriak seorang prajurit ditengah hujan yang terus mengguyur bumi
“prajurit jangan ikut campur..ini masalah keluarga kerajaan..kembali kebarisan mu..”
Sentak Prabu Platik waja yang kini dengan Mandau ditanganya terlihat bersiur diantara tubuh Prabu Gegar wahana yang dengan pedang tipis ditangan menangkis tiap gempuran dan sambaran Mandau milik Prabu platik waja.
“Gusti Prabu..Syeh Idlopi dan putri Zahra serta pemuda asing itu sudah jauh meninggalkan kepulauan Lombok ini..”
Teriakan terakhir prajurit ini akhirnya mampu menghentikan jalannya pertempuran diantara kedua raja pulau Lombok ini.
“apa kamu bilang barusan benar prajurit..” sentak Prabu Platik waja
“benar Gusti Prabu..beberapa anak buah hamba melihat mereka di pesisir sebelah selatan pegunungan Rinjani, mereka menggunakan perahu kearah matahari terbit sepertinya tujuan mereka pulau Jawadwipa..”
“kurang ajar..Syeh Idlopi mengingkari perjanjian..” sentak Prabu Gegar wahana
“lalu apa yang akan Gusti Prabu lakukan..”
“kakanda Gegar wahana..kita telah di hianata oleh Syeh dari Gujarat itu..lebih baik kita sama-sama mengejarnya dan meminta pertanggungan jawab pada Syeh Idlopi..”
“baiklah dinda Platik waja..pasukan kita gabung menjadi satu …hari ini juga kita bertolak ke pulau Jawadwipa..”
Tak lama dari arah teluk sebelah selatan pegunungan rinjani ribuan perahu layar berjenis pinisi terlihat bergerak perlahan kearah matahari terbit, tujuan pasukan gabungan ini sudah jelas..Pulau Jawadwipa.

ooooOoooo

Salam Bhumi Deres Mili

Penulis

Selanjutnya: DHARMA BAKTI PENAWAR KUTUK


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Lisensi

Lisensi Creative Commons
BHUMI DERES MILI by BHUMI DERES MILI is licensed under a Creative Commons Atribusi 3.0 Unported License.
Berdasarkan karya di KANG KUSYOTO, KYT.
Permissions beyond the scope of this license may be available at http//:www.bhumideresmili.blogspot.com.

Total Tayangan Halaman

About

Pages

Download

Powered By Blogger

Search Box

Popular Posts

Followers