KONTAK SAYA

Email Twitter Facebook

TELUSURI

GALERI FOTO

Kategori Arsip Daftar Isi

MULAI DARI SINI

Pelayanan Portfolio Pembayaran

Sabtu, 24 Maret 2012

SENGKETA TANAH SEMENANJUNG

    Kabut tipis dari lereng rinjani melayang pelan menuruni lembah nan subur dibawahnya, gemericik air membuncah disela bebatuan gunung menciptakan suara alam tak berkesudahan, sementara itu disebuah batu pipih yang terletak ditengah sungai satu sosok berjubah kuning terlihat khusuk dengan tafakurnya, tak lama sosok tubuh yang ternyata seorang lelaki tua bersorban hentakkan kaki dari batu pipih yang didudukinya, tubuhnya tampak sebat menjejak dari batu yang satu kebatu yang lain, sudut mata orang berjubah kuning ini sekilas melihat sebuah benda timbul tenggelam terseret derasnya aliran sungai yang akan menuju kesebuah air terjun dibawahnya, sedetik lagi benda yang ternyata satu sosok tubuh seorang lelaki ini akan terlempar kebawah air terjun, dengan gerakan kilat lelaki berjubah kuning sambar tubuh orang yang entah pingsan atau sudah menemui ajal itu dan dengan ringan membawanya ketepian sungai.

Senin, 27 Februari 2012

PERGOLAKAN BHATIN SANG KSATRIA


     Mentari sepenggalah ketika rd.angglarang menginjakan kakinya disebuah tanjung berpasir putih, tanjung itu bernama wahina terletak tiga kilometer dari kerajaan jayapurantala, ibu kota kerajaan yang terletak disebuah kepulauan berbentuk kepala burung dengan pegunungan legendaris “jaya wijaya” dimana salju abadi senantiasa melingkupi puncak gunung tersebut.
“itukah pegunungan jaya wijaya, yang pernah diceritakan ayahanda linggabuana..”
Membatin rd. anggalarang, pemuda gagah berbaju putih calon raja padjajaran yang tengah menjalankan lelaku atau ritual pengembaraan selama satu tahun sebelum dirinya diangkat menjadi prabu ditatar sunda ini pindahkan buntalan bututnya dibahu kiri, kemudian dengan ringan melangkahkan kaki menuju kearah selatan dimana meremang tersaput kabut sebuah puncak pegunungan yang selalu dilingkupi salju abadi, pemuda ini tidak menyadari dari tadi sepasang mata mengawasinya dengan tajam, begitu anggalarang lesatkan badannya kearah selatan sosok yang ternyata seorang dara jelita berbaju ungu keluar dari tempat persembunyiannya.
“pemuda itu bukan orang sembarangan, ini kali usahaku harus berhasil..”
Setelah termenung beberapa saat, dara ayu berbaju ungu ini lesatkan badannya yang ramping kearah dimana rd.anggalarang pergi.

Jumat, 17 Februari 2012

ELEGY SAPTA DAYA

     Malam beranjak ke dini hari, hembusan angin dari lereng pegunungan Himalaya begitu dingin menusuk persendian, ditengah titik salju yang semakin deras beberapa sosok hitam tampak berkelebat, begitu cepatnya gerakan sosok-sosok ini hingga yang tampak hanya bayangannya saja, disatu bibir jurang yang tertutup tebalnya kabut, sosok-sosok ini hentikan gerakannya.
“prajurit..apa kau yakin ini tempatnya..”
“hamba yakin gusti patih..”
“bagus..segera siapkan tali..sepuluh prajurit turun kedasar jurang..angkat mayat pertapa itu ke atas..”
“baik gusti patih..”
Tak menunggu lama sepuluh  orang prajurit dengan cepat meluncur kedasar jurang, tapi setelah sekian lama ditunggu kesepuluh orang itu seakan raib ditelan bumi.

Minggu, 05 Februari 2012

BAYANG-BAYANG KUTUKAN


     Sungging prabangkara kembangkan telapak tangan kanannya kedepan, bias sinar keperakan membentuk bayang-bayang ribuan kuas kecil terliat berputar disekujur tubuhnya, sedang dyah pitaloka hunus pedang giok hijau dari warangkanya lantas putar pedangnya dengan cepat.
“pyyaaaarrr..!!”
Pukulan jarak jauh mengandung tenaga inti tampak mental berserabutan manakala hampir menyentuh satu jengkal dari badan keduanya.
Suasana kembali hening seakan tak pernah terjadi apapun sebelumnya ditempat itu, bahkan hembusan anginpun seakan terhenti
“terlalu hening…”

Kamis, 26 Januari 2012

MUSTIKA BUNGA KARANG


     Keheningan subuh itu terobek oleh teriakan dan bentakan dari beberapa orang berseragam prajurit yang dengan kasar nengumpulkan seluruh penduduk sebuah kampung dikaki bukit, sedang puluhan prajurit yang lain membentuk pormasi pagar betis dengan perlengkapan persenjataan yang lengkap, seorang dengan tampang sangar sambil menghunus pedang besar dari warangkanya tampak  melangkah dihadapan para penduduk yang bersimpuh ditanah rerumputan.

Selasa, 10 Januari 2012

ANGKARA MURKA MERAJALELA


     Sosok yang sedari tadi terpekur dalam semadi perlahan buka kedua kelopak matanya,  manakala sebuah teriakan yang dilambari kekuatan tenaga inti menggema hingga menggetarkan dinding goa dimana orang berkepala plontos dengan enam bulatan dibatok kepalanya ini duduk bersila.
“wiku dharma persada, keluar kau dari tempat persembunyianmu..!!”
Sosok yang tak lain dari pemimpin partai lintas aliran halilintar sewu ini tampak tercekat sesaat, dia kenal suara teriakan itu.
“manggala..darimana dia tahu tempat ini…” gumam wiku dharma persada.
“wiku gadungan cepat keluar, atau kami bakar tempat ini..!!” kembali terdengar teriakan manggala si arit iblis dari atas.
Dengan sekali hentakan sososk wiku dharma persada melesat kadalam bangunan kubus batu andesit yang langsung membawanya kepermukan tanah.
“BBBUUUUUUUMMMM…..!!!”

Selasa, 13 Desember 2011

KUTUKAN SANG PENDEKAR

     Setelah dhuta dari majapahit yang menyerahkan surat permintaan maap atas tragedy bubat dan abu kremasi prabu linggabuana serta putri dyah pitaloka berlalu dari balerung kraton padjajaran, dari balik singgasana muncul satu sosok pemuda gagah dengan mahkota emas bertengger dikepalanya, dialah niskala wastu kencana yang mempunyai nama kecil rd. anggalarang yang telah ditabalkan sebagai putra mahkota yang kelak menggantikan ayah handanya prabu linggabuana, menjadi prabu di kedaton padjajaran.


“angger anggalarang, paman mengerti akan keputusan mu untuk menantang duel dengan mahapatih gadjah mada tidak bias ditawar lagi, namun seperti tradisi yang telah turun-temurun sebelum memegang tampuk kekuasaan dipadjajaran, dirimu harus melukukan lelaku pengembaraan selama satu tahun,tradisi inipun pernah dilakukan oleh kakek buyut, eyang serta ramandamu dimasa mudanya..”

Anggalarang Cuma diam tepekur dihadapan pamannya, dirinya menyadari betul akan tradisi yang telah berlaku dikerajaannya.

Lisensi

Lisensi Creative Commons
BHUMI DERES MILI by BHUMI DERES MILI is licensed under a Creative Commons Atribusi 3.0 Unported License.
Berdasarkan karya di KANG KUSYOTO, KYT.
Permissions beyond the scope of this license may be available at http//:www.bhumideresmili.blogspot.com.

Total Tayangan Halaman

About

Pages

Download

Powered By Blogger

Search Box

Popular Posts

Followers