KONTAK SAYA

Email Twitter Facebook

TELUSURI

GALERI FOTO

Kategori Arsip Daftar Isi

MULAI DARI SINI

Pelayanan Portfolio Pembayaran

Tampilkan postingan dengan label Zona Pendekar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Zona Pendekar. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 September 2013

SIRNA HILANG KERTA NING BHUMI

          
     Dua sosok bayangan yang berada di salah satu dahan radu alas itu tampak kernyitkan dahi masing-masing. Terpaut jarak sepuluh kaki di bawahnya, lima orang bertelanjang dada dengan tombak panjang di tangan tergeletak berlumuran darah.
      Salah seorang dengan rambut galing bergelombang, tampak berbisik pada kawannya yang memakai jubah berwarna kuning.
“Kakang empu,  siapa sebenarnya orang-orang bercadar hitam itu?, ganas dan tak kenal ampun menghabisi lawan-lawannya…”
“Adik Jantra Bolang, kalau tidak salah duga mereka berasal dari partai Galunggung...”
“Lalu,  apa yang harus kita lakukan kakang empu Danurwenda...?”
“Kita tetap menunggu kemunculan ksatriya yang akan mengambil bilah Sanggabuana dari dalam kawah...” tandas sosok berjubah kuning sambil matanya terus mengawasi sekelilingnya.
“Terus,  bagaimana dengan orang-orang dari rimba hijau persilatan yang mempunyai tujuan sama. Mengambil bilah sanggabuana dari dasar kepunden...?”
“Ingat yang di katakana guru kita Sifu Zen, hanya ksatriya terpilihlah yang mampu mengangkat bilah Sanggabuana dari dasar kepunden. Dan tugas kita adalah melindungi ksatriya itu...” ujar sosok berjubah kuning datar.
“kakang empu lihat…!!” ujar sosok berambut galing bergelombang sambil mengarahkan telunjuk kanannya ke arah tenggara.

Selasa, 11 Desember 2012

MEMBURU JEJEK MAHAPATIH WILWATIKTA

Mentari tampak malu-malu memancarkan bias sinarnya diantara rimbunnya dedaunan beringin kurung yang terdapat di salah kompleks bangunan istana Kerajaan lembah Indus. Kabut tipis dari lereng pegunungan Himalaya terlihat melayang pelan diantara kokohnya benteng istana. Dua orang penjaga pintu gerbang terlihat merapatkan kerah mantel tebal yang dipakainya. Kepulan asap sisa api unggun semalam masih teronggok menyisakan debu hitam. Mendadak kedua penjaga pintu gerbang ini silangkan kedua tombak yang di pegangnya manakala satu sosok bercaping bambu dengan tongkat berujung sapu lidi bermaksud melintasi pintu gerbang.
“Berhenti kisanak. Siapakah kisanak ini dan ada tujuan apa kemari..” sentak penjaga pintu gerbang itu sambil masih menyilangkan tombak satu sama lain menghalangi langkah sosok bercaping bambu ini.

Sabtu, 24 November 2012

JALAN PEDANG JALAN KSATRYA

Sungging Prabangkara sapukan pandangannya dari atas bukit. Tiga hari yang lalu Manggala yang kini mengangkat dirinya menjadi ketua partai arit iblis menemui dan meminta Sungging Prabangkara beserta keluarga meninggalkan perguruan silat sekaligus sanggar melukis bagi anak-anak di sekitar perdikan welangun untuk mengakui kedaulatan partai arit iblis. Tentu saja Sungging Prabangkara tidak menggubris permintaan Manggala.
“Tiga hari di muka. Kau harus putuskan jika tidak keselamatan keluargamu ada di tangan partai arit iblis..” ancam Manggala.
“Sekarang pun keputusan itu tetap sama kisanak Manggala..” ujar Sungging Prabangkara tenang.

Minggu, 04 November 2012

KUNTUM TERATAI DI TENGAH BELUKAR

Sosok agung penuh wibawa ini tampak tersenyum penuh welas asih. Pandangan matanya begitu teduh menyejukan kalbu manakala menatap sosok pemuda berbaju putih bercelana hitam ringkas dengan buntalan butut warna hitam di punggung kanannya yang tampak duduk bersila di atas rerumputan.
“Ananda Anggalarang. Bara dendam hanya akan membuat hidup kita berada dalam lingkaran yang menyesatkan. Membutakan mata hati dan pikiran. Menyesakan dada serta menumpulkan hati nurani yang mengakibatkan martabat sebagai manusia menjadi rendah bagai binatang”.
“Tapi ayahanda prabu. Gajah Mada telah merendahkan martabat kesatria-kesatria Padjajaran. Menginjak-injak harga diri kerabat kedaton. Membunuh orang-orang tak berdosa tanpa alasan yang jelas. Apakah saya sebagai generasi trah Padjajara hanya berdiam diri saja tanpa melakukan apapun untuk mengembalikan wibawa Padjajaran..” ujar Anggalarang lantang namun pandangan dari pemuda gagah ini tetap santun.
“Ananda Anggalarang. Kadang apa yang ananda lihat, dengar dan rasakan belum tentu seperti kenyataannya..”
“Maksud ayahanda prabu..”
“Ananda masih ingat yang di katakana mbok mban Dalem..”
Sesaat Anggalarang kerutkan keningnya. Mencoba mengulas kembali pertemuannya dengan mban pengasuhnya ini.
“Saya ingat ayahanda prabu. Lalu apa yang harus hamba lakukan..”
“Ananda Anggalarang. Ayahanda tidak bermaksud menghalang-halangi tujuan ananda menantang duel dengan Mahapatih Wilwatikta itu. Namun ayahanda juga tidak melarang ananda mengembalikan kewibawaan Padjajaran..”
“Saya mengerti ayahanda prabu..” ujar Anggalarang pelan.
“Ananda Anggalarang. Ada baiknya sebelum ananda melaksanakan apa yang menjadi tekad dan tujuan. Ananda menyambangi perdikan Welangun di kaki sebelah tenggara pegunungan Arjuna..”
“Saya juga mempunyai pemikiran seperti itu ayahanda prabu..”
“Nah ananda Anggalarang. Ayahanda pamit..”
“Ayahanda mau kemana..Ayahanda tunggu..Ayahanda..Lingga Buana..Ayahanda..Ayahanda..”

Jumat, 12 Oktober 2012

DHARMA BAKTI PENAWAR KUTUK

Hari masih terang-terang tanah. Kicau burung seakan menyambut sang bola jagat yang perlahan muncul dari rimbun pepohonan mastaba yang banyak tumbuh di sekitar perbukitan dimana disalah satu lembah nan subur berderet puluhan rumah beratapkan rumbia melingkari sebuah bangunan yang cukup besar berlantai tiga dengan cungkup berbentuk limas. Dua orang berpakaian hijau ringkas dengan sebilah pedang tipis di pinggang kirinya terlihat terkantuk menyandar di salah satu tiang gerbang. Onggokan kayu bekas api unggun tampak menghitam dengan asap tipis masih mengepul di tiup angin di pagi hari nan sejuk itu.

 Gemuruh puluhan ladam kuda memaksa kedua orang penjaga gerbang ini terhenyak dari kantuknya. Lantas cabut pedang masing-masing menyongsong beberapa penunggang kuda yang kini berhenti sekitar lima puluh tombak dari bangunan utama lantai tiga berbentuk limas.
“Siapa Kalian dan ada keperluan apa…” sentak salah seorang penjaga pintu gerbang sambil memegang hulu pedangnya.
Tiga orang bertampang sangar serentak melompat dari punggung kuda yang di tungganginya.

Kamis, 21 Juni 2012

KERIS SANG MAHAPATIH


     Pasanggrahan yang terletak dipuncak bukit tapal kuda itu temaram di saput lembayung senja hari, guratan air terlihat turun dari sela-sela tebing di samping kanan pasanggrahan, undakan tangga batu menghiasi tiap turunan tebing yang berakhir disebuah aliran sungai kecil berair jernih, ditengah sungai diatas batu pipih satu sosok terlihat duduk bersila, hembusan angin sesekali mengibarkan rambutnya yang di biarkan tergerai sebahu, perlahan sosok yang sejak pagi terpekur dalam semedi buka perlahan kedua kelopak matanya, sorot mata yang tajam, raut wajah nan tegas terlihat di sana.

Senin, 18 Juni 2012

DUA MENTARI SATU MUSLIHAT

      Semenanjung branjangan meremang dalam kabut dini hari, semilir angin utara terasa mencucuk persendian, debur ombak terdengar bergemuruh menghantam hamparan karang, di salah satu tebing karang yang menjorok ke laut lepas dua orang bertampang gagah tengah berdiri berhadapan, sudah hampir sepenanakan nasi kedua sosok tubuh ini diam bagai patung pualam,kedua mata mereka tampak terpejam sesekali raut dari wajah keduanya berubah menegang bulir-bulir keringat menetes dari kedua sosok tubuh ini.

“kanda gegar wahana, ayahanda prabu menghendaki kakanda  hadir di kedaton”
Ujar pemuda berambut ikal dengan plat bahu dodot sutra berwarna coklat keemasan.
“dinda platik waja, lebih baik kau kembali ke kedaton..bukankah sudah aku katakana berulang kali..aku tidak tertarik dengan pemerintahan,  tempat ku di sini..kalau dinda menghendaki tahta..aku rela memberikannya pada dirimu..”
Pemuda berambut ikal bernama platik waja ini hanya bisa geleng-gelengkan kepalanya, dia tahu betul sifat kakaknya bila menghendaki satu tujuan.
“tidak bisa begitu kanda, bagaimanapun juga ayahanda prabu sudah membagi pusat pemerintahan menjadi dua…jadi saya harap kanda  menyadari tangung jawab sebagai anak tertua..”

Untuk pertama kalinya pemuda dengan gelang akar bahar di lengannya ini membuka matanya,  pandangan tajam dirasakan bak sembilu bilamana pemuda bernama gegar wahana ini memandang orang dihadapannya.

“dinda platik waja, terus terang aku bosan dengan kehidupan istana yang penuh dengan muslihat, topeng kepalsuan..apa kau tidak sadar mereka yang mengelilingi kita itu cuma tunduk dengan pangkat serta jabatan yang kita miliki bukan tulus tunduk pada gegar wahana atau platik waja..”
“tapi kakang…”
“jika tidak ada keperluan lain, pengawal mu sudah siap mengantar diri mu kembali ke kedaton…”

Platik waja hanya bisa menarik napas panjang, pemuda gagah berambut ikal ini lantas perintahkan beberapa pengawal menyiapkan tandu bagi dirinya, namun sebelum tandu yang di gotong empat pengawal sampai di hadapan platik waja, dari arah tenggara terdengar jeritan ketakutan seorang perempuan, dengan sigap

Sabtu, 24 Maret 2012

SENGKETA TANAH SEMENANJUNG

    Kabut tipis dari lereng rinjani melayang pelan menuruni lembah nan subur dibawahnya, gemericik air membuncah disela bebatuan gunung menciptakan suara alam tak berkesudahan, sementara itu disebuah batu pipih yang terletak ditengah sungai satu sosok berjubah kuning terlihat khusuk dengan tafakurnya, tak lama sosok tubuh yang ternyata seorang lelaki tua bersorban hentakkan kaki dari batu pipih yang didudukinya, tubuhnya tampak sebat menjejak dari batu yang satu kebatu yang lain, sudut mata orang berjubah kuning ini sekilas melihat sebuah benda timbul tenggelam terseret derasnya aliran sungai yang akan menuju kesebuah air terjun dibawahnya, sedetik lagi benda yang ternyata satu sosok tubuh seorang lelaki ini akan terlempar kebawah air terjun, dengan gerakan kilat lelaki berjubah kuning sambar tubuh orang yang entah pingsan atau sudah menemui ajal itu dan dengan ringan membawanya ketepian sungai.

Senin, 27 Februari 2012

PERGOLAKAN BHATIN SANG KSATRIA


     Mentari sepenggalah ketika rd.angglarang menginjakan kakinya disebuah tanjung berpasir putih, tanjung itu bernama wahina terletak tiga kilometer dari kerajaan jayapurantala, ibu kota kerajaan yang terletak disebuah kepulauan berbentuk kepala burung dengan pegunungan legendaris “jaya wijaya” dimana salju abadi senantiasa melingkupi puncak gunung tersebut.
“itukah pegunungan jaya wijaya, yang pernah diceritakan ayahanda linggabuana..”
Membatin rd. anggalarang, pemuda gagah berbaju putih calon raja padjajaran yang tengah menjalankan lelaku atau ritual pengembaraan selama satu tahun sebelum dirinya diangkat menjadi prabu ditatar sunda ini pindahkan buntalan bututnya dibahu kiri, kemudian dengan ringan melangkahkan kaki menuju kearah selatan dimana meremang tersaput kabut sebuah puncak pegunungan yang selalu dilingkupi salju abadi, pemuda ini tidak menyadari dari tadi sepasang mata mengawasinya dengan tajam, begitu anggalarang lesatkan badannya kearah selatan sosok yang ternyata seorang dara jelita berbaju ungu keluar dari tempat persembunyiannya.
“pemuda itu bukan orang sembarangan, ini kali usahaku harus berhasil..”
Setelah termenung beberapa saat, dara ayu berbaju ungu ini lesatkan badannya yang ramping kearah dimana rd.anggalarang pergi.

Jumat, 17 Februari 2012

ELEGY SAPTA DAYA

     Malam beranjak ke dini hari, hembusan angin dari lereng pegunungan Himalaya begitu dingin menusuk persendian, ditengah titik salju yang semakin deras beberapa sosok hitam tampak berkelebat, begitu cepatnya gerakan sosok-sosok ini hingga yang tampak hanya bayangannya saja, disatu bibir jurang yang tertutup tebalnya kabut, sosok-sosok ini hentikan gerakannya.
“prajurit..apa kau yakin ini tempatnya..”
“hamba yakin gusti patih..”
“bagus..segera siapkan tali..sepuluh prajurit turun kedasar jurang..angkat mayat pertapa itu ke atas..”
“baik gusti patih..”
Tak menunggu lama sepuluh  orang prajurit dengan cepat meluncur kedasar jurang, tapi setelah sekian lama ditunggu kesepuluh orang itu seakan raib ditelan bumi.

Minggu, 05 Februari 2012

BAYANG-BAYANG KUTUKAN


     Sungging prabangkara kembangkan telapak tangan kanannya kedepan, bias sinar keperakan membentuk bayang-bayang ribuan kuas kecil terliat berputar disekujur tubuhnya, sedang dyah pitaloka hunus pedang giok hijau dari warangkanya lantas putar pedangnya dengan cepat.
“pyyaaaarrr..!!”
Pukulan jarak jauh mengandung tenaga inti tampak mental berserabutan manakala hampir menyentuh satu jengkal dari badan keduanya.
Suasana kembali hening seakan tak pernah terjadi apapun sebelumnya ditempat itu, bahkan hembusan anginpun seakan terhenti
“terlalu hening…”

Kamis, 26 Januari 2012

MUSTIKA BUNGA KARANG


     Keheningan subuh itu terobek oleh teriakan dan bentakan dari beberapa orang berseragam prajurit yang dengan kasar nengumpulkan seluruh penduduk sebuah kampung dikaki bukit, sedang puluhan prajurit yang lain membentuk pormasi pagar betis dengan perlengkapan persenjataan yang lengkap, seorang dengan tampang sangar sambil menghunus pedang besar dari warangkanya tampak  melangkah dihadapan para penduduk yang bersimpuh ditanah rerumputan.

Selasa, 10 Januari 2012

ANGKARA MURKA MERAJALELA


     Sosok yang sedari tadi terpekur dalam semadi perlahan buka kedua kelopak matanya,  manakala sebuah teriakan yang dilambari kekuatan tenaga inti menggema hingga menggetarkan dinding goa dimana orang berkepala plontos dengan enam bulatan dibatok kepalanya ini duduk bersila.
“wiku dharma persada, keluar kau dari tempat persembunyianmu..!!”
Sosok yang tak lain dari pemimpin partai lintas aliran halilintar sewu ini tampak tercekat sesaat, dia kenal suara teriakan itu.
“manggala..darimana dia tahu tempat ini…” gumam wiku dharma persada.
“wiku gadungan cepat keluar, atau kami bakar tempat ini..!!” kembali terdengar teriakan manggala si arit iblis dari atas.
Dengan sekali hentakan sososk wiku dharma persada melesat kadalam bangunan kubus batu andesit yang langsung membawanya kepermukan tanah.
“BBBUUUUUUUMMMM…..!!!”

Selasa, 13 Desember 2011

KUTUKAN SANG PENDEKAR

     Setelah dhuta dari majapahit yang menyerahkan surat permintaan maap atas tragedy bubat dan abu kremasi prabu linggabuana serta putri dyah pitaloka berlalu dari balerung kraton padjajaran, dari balik singgasana muncul satu sosok pemuda gagah dengan mahkota emas bertengger dikepalanya, dialah niskala wastu kencana yang mempunyai nama kecil rd. anggalarang yang telah ditabalkan sebagai putra mahkota yang kelak menggantikan ayah handanya prabu linggabuana, menjadi prabu di kedaton padjajaran.


“angger anggalarang, paman mengerti akan keputusan mu untuk menantang duel dengan mahapatih gadjah mada tidak bias ditawar lagi, namun seperti tradisi yang telah turun-temurun sebelum memegang tampuk kekuasaan dipadjajaran, dirimu harus melukukan lelaku pengembaraan selama satu tahun,tradisi inipun pernah dilakukan oleh kakek buyut, eyang serta ramandamu dimasa mudanya..”

Anggalarang Cuma diam tepekur dihadapan pamannya, dirinya menyadari betul akan tradisi yang telah berlaku dikerajaannya.

Rabu, 30 November 2011

SANG DURJANA


    Mendung bergulung diatas kedaton majapahit,  sehari setelah tragedy pembantaian kesatria-kesatria padjajaran dimana sang prabu pasundan lingga buana dan putrinya dyah pitaloka ikut tewas belapati demi nama baik padjajaran, siang itu prabu anom hajam wuruk tampak duduk termenung disingasananya, hati raja muda ini seakan tercabik ribuan sembilu, niatnya untuk mempersunting dyah pitaloka sebagai permaisuri pupus sudah, dihadapan prabu hajam wuruk duduk terpekur dengan kepala tertuju ke lantai sang mahapatih gadjah mada.
“paman mada, mengapa berakhir seperti ini, bagaimana tanggung jawabku pada kerabat kerajaan padjajaran..”
Sebelum menjawab, patih berusia lanjut ini tampak menarik napas panjang seakan ada batu sebesar gunung menghimpit dadanya.
“angger prabu, semua kejadian ini tanggung jawab hamba..hamba siap mendapat hukuman..”
“paman mada, bukan masalah siapa yang bersalah dan siapa yang bertanggung jawab, namun setidaknya paman sebagai mahapatih seharusnya tahu niat saya mempersunting putri padjajaran itu bukan sekedar pelengkap sahnya seorang prabu, namun untuk menyambung tali kekeluargaan antara dua kerajaan.bukankah pendiri majapahit terdahulu yakni dyah sanggrama wijaya berasal dari pasundan juga keturunan dari lembu tal yang berasal dari sunda.”
“hamba paham angger prabu, lalu apa yang harus hamba lakukan..”
“satu hal lagi paman mada, saya hargai sumpah palapa paman, namun saya harap jangan terlalu kaku dalam pelaksanaannya..”
“hamba angger prabu…”
Mahapatih gadjah mada hanya bisa rangkapkan kedua tangannya didepan kening, patih yang telah mengabdi selama tiga decade ini haya mampu mengarahkan pandanganya dilantai kedaton.
“sekarang dengar titah saya paman mada, kirim  abu jenazah prabu linggabuana dan putri dyah pitaloka ke padjajaran, sampaikan permohonan maap saya pada rakyat padjajaran dan kerabat kedaton padjajaran, sampaikan pada niskala wastu kencana sebagai adik dari dyah pitaloka dan pamannnya mangkubumi bunisora suradipati..”
“sendika angger prabu, hari ini juga hamba akan mengutus telik sandi untuk berangkat ke padjajaran..”
Setelah merangkapkan kedua tagannya didepan kening, mahapatih gadjah mada langsung beringsut meninggalkan balai singgasana .
Langkah mahapatih gadjah mada ini terhenti ketika sesosok tubuh tampak berdiri sambil menundukan wajahnya ketanah rerumputan halaman istana.
“demung wira, kalau saja aku tidak mempertimbangkan jasamu, saat ini juga kepalamu menggelinding dialun-alun selatan..”
“ampunkan hamba mahapatih, semua ini salah hamba..hamba siap mendapat hukuman…”
“ssrrreeett..!!”
Mahapatih gadjah mada lantas cabut bilah keris dari warangkanya

Jumat, 11 November 2011

TRAGEDI PATREM SAKADOMAS


     Mentari baru saja menampakkan sinarnya yang hangat ketika sekitar lima buah perahu layar besar merapat dipelabuhan tuban, tak lama dari dalam perahu berloncatan beberapa orang bertampang gagah berpakaian prajurit lengkap dengan tameng dan tombak ditangan mengawal satu sosok lelaki dengan mahkota gemerlapan bertengger dikepalanya sedang dibelakangnya berjalan dengan anggun satu sosok dara ayu berpakaian ringkas berwarna merah hati dengan sebilah pedang hijau terselip dipinggang kirinya.
“paman rakyan jalawatra, apa kedaton majapahit masih jauh dari sini..”
“maap gusti prabu, dari pelabuhan tuban kita akan melanjutkan perjalanan berkuda kearah timur, kurang lebih setengah hari kita akan sampai ditapal batas majapahit..”
“baiklah, putriku dyah pitaloka..dirimu dan ibundamu menaiki tandu, sedangkan aku akan berkuda bersama rakyan jalawatra didepan..dan kalian para prajurit kawal kami disamping kanan dan kiri serta belakang..”
“baik gusti prabu..”
Rombongan yang tak lain dari prabu lingga buana, raja agung pasundan yang bermaksud menyelenggarakan pernikahan atas putri padjajaran dyah pitaloka dengan raja majapahit raja sanegara prabu hayam wuruk ini lantas naik keatas punggung kudanya dan tak lama iring-iringan calon pengantin ini bergerak meninggalkan pelabuhan tuban.

Jumat, 28 Oktober 2011

EMBUN MERAH SEMENANJUNG HIMALAYA


     Bulir-bulir salju perlahan menitik dari angkasa menerpa kepala dua sosok tubuh yang tampak duduk bersila diatas sebuah tebing batu yang curam, tak menunggu lama gundukan salju terlihat menyelimuti sekujur tubuh keduanya hingga sebatas leher, namun kedua pemuda berambut gondrong ini seakan tak memperdulikan dinginnya salju dan terpaan angin yang seakan membeset permukaan kulit bak sembilu itu, kedua sosok ini tetap tak bergeming seolah gundukan batu karang yang kokoh.
Tak lama dari empat penjuru mata angin menderu dengan dahsyat kilatan-kilatan berwarna keperakan mengurung kedua sosok ini dengan cepat, saking cepatnya kilatan-kilatan berwarna keperakan ini tampak berpendar kesegala arah
“Dhhhhuuuaaaarrrr…!!”
Dentuman keras menggelegar mengguncang tempat dimana kedua sosok ini masih duduk bersila dengan gundukan salju yang membenamkan keduanya hingga leher, titik-titik salju semakin rapat turun dari langit, detik berikutnya kawasan itu dilanda badai salju yang ganas hingga radius seratus meter.

Tiga bulan kemudian

     Sosok kerempeng dengan selempang kain putih tampak melangkah dengan tenang diantara bulir-bulir salju yang menitik dari angkasa, gundukan salju yang berada didepannya seakan bagai gumpalan kapuk yang lunak diterjangnya dengan mudah, tiga langkah dihadapan sebuah gundukan salju yang besar sosok kerempeng dengan selempang kain putih ini hentikan langkahnya.
“keluarlah, masa pertapaan kalian telah usai..”
Walau pelan ucapan yang keluar dari bibir orang tua berselempang kain putih ini namun mampu menggetarkan gundukan bongkahan salju dihadapanya hingga luruh kebawah, dan dari dalam gundukan salju terlihat dua sosok tubuh  dalam posisi bersila.
“sifu zen..”
Ucap kedua pemuda ini bersamaan, sambil rangkapkan kedua tangan masing-masing didepan dada
Orang tua berselempang kain putih yang dipanggil sifu zein ini Cuma tersenyum simpul
“murid-murid ku.. perlihatkan padaku hasil dari latihan kalian..windu kuntoro kau duluan..”
“baik sifu zen..”
Pemuda gagah bernama windu kuntoro ini lantas rangkapkan kedua tanganya didepan dada detik berikutnya sosoknya tampak melesat keatas jungkir balik beberapa kali diudara dan begitu kebut telapak tangan kanannya kedepan seberkas sinar putih kebiruan melesat dari telapak tanganya dan dengan dahsyat menerpa sebatang pohon pinus hingga menjadi bubuk berwarna biru.
“jurus kuntum kilat melecut ragamu nyaris sempurna, windu kuntoro kau harus banyak berlatih hingga tingkat ketiga bisa kau kuasai..”
“baik sifu..”
“nah sekarang giliran mu lindu bergola..”
Pemuda dengan perawakan jangkung ini rangkapkan kedua tangannya didada dan dalam satu kelebatan sosoknya tampak menjadi tujuh bayangan yang berbeda.
“lindu bergola, jurus tujuh bayanganmu sudah sempurna..murid-muridku kemarilah ada sesuatu yang musti kalian ketahui..”
Kedua pemuda ini lantas duduk bersila diatas salju dihadapan gurunya
Sifu zen lantas memasukan tangannya dibalik kain putih, dua buah benda tampak berada dalam kedua tangannya
“kitab pusaka mustika halilintar ini baru akan aku berikan begitu jurus kuntum kilat melecut raga level pertama bisa kau sempurnakan windu kuntoro, dan batu bintang sangga buana ini bisa dijadikan pedang mustika paling hebat bila jurus tujuh bayangan lindu bergola telah mencapai level ketujuh..sekarang kalian boleh beristirahat..”
“baik sifu..”
Ujar windu kuntoro dan lindu bergola bersamaan, namun begitu orang tua berselempang kain putih ini balikan badan, tak disangka secara bersamaan kedua pemuda ini lancarkan serangan mematikan dan telak mengenai anggota badan yang sangat vital dari sifu zen,  tubuh orang tua ini seketika ambruk diatas salju genangan merah terlihat menetes dari sela-sela bibir orang tua ini menetes diatas hamparan putihnya salju, yang seketika menjadi merah.
“durjana apa..apa..yang..kalian lakuka..kan..”
Ujar orang tua berselempang kain putih ini terbata-bata
Tapi tanpa belas kasihan kedua pemuda ini kembali menyerang secara serentak, hingga detik berikutnya sifu zen terkapar diatas salju, nyawanya putus sudah dengan meninggalkan tanda Tanya dalam hatinya, mengapa kedua muridnya begitu tega menghabisi dirinya.
Sementara itu, setelah membunuh sang guru windu kuntoro dengan cepat ambil kedua benda yaitu kitab pusaka mustika halilintar dan batu bulan sangga buana .dan dengan cepat lesatkan badannya keudara tanpa memperdulikan teriakan dan caci maki dari lindu bergola.
Wiku dharma persada sesaat usap wajahnya
“begitulah ceritanya sanjaya, setelah aku kembli ketanah jawadwipa batu bulan sangga buana secara gaib raib dan hilang dari tanganku, dan entah bagaimana ceritanya batu bulan itu berada dimajapahit dan dimiliki seorang pembesar keraton, tapi mudah-mudahan dengan kau menyerahkan batu bulan yang sekarang sudah jadi sebilah pedang,  lindu bergola atau pertapa sapta raga bisa maklum dan berkenan mengangkatmu menjadi muridnya..”
Wejangan dan cerita wiku dharma persada pada sanjaya yang akan berangkat ketanah Hindustan itu masih terngiang ditelinga sanjaya yang kini telah berada ditanah Hindustan dalam rangka menyambangi pertapa sapta raga agar dirinya dapat diangkat menjadi murid dari sang pertapa untuk menandingi jurus kuntum kilat melecut raga level ketiga kepunyaan manggala si arit iblis.
(harap baca episode pertama: Rajah Kala Cakra, pen)

ooooOoooo

     Senja temaram melingkupi kawasan jurang tanpa dasar semenanjung Himalaya, ketika sanjaya dan pemuda yang baru dikenalnya rajes menginjakan kaki disebuah tebing yang curam dimana sejauh mata memandang hanya hamparan bebatuan yang berlumut tebal, hembusan angin tampak megibarkan rambut gondrong dari sanjaya.
“tuan pendekar saya hanya bisa mengantar sampai disini..”
“rajes engapa dirimu seperti ketakutan..”
“tuan pendekar, seperti yang pernah saya katakana ditempat inilah pertamakali saya bersekutu dengan iblis dan mendapat kutukan , tuan pendekar saran saya urungkan saja niat anda..”
Seperti tak mengacuhkan ucapan rajes, pemuda gagah dengan parut melintang dipipi kirinya ini langkahkan kaki lebih dekat kebibir jurang, diambilnya sebongkah batu yang cukup besar lalu dilemparnya kebawah, lama pemuda ini menunggu namun suara yang diharapkannya tak kunjung terdengar, yang menandakan betapa dalamnya jurang yang menganga dihadapannya ini
Dengan hati-hati sanjaya melongok kan kepalanya dibibir jurang, sebersit hawa sedingin es langsung menyergapnya.
“rajes ceritakan padaku tentang iblis yang bersekutu dengan dirimu itu..”
“baiklah tuan pendekar, mungkin setelah mendengar kisah saya, tuan pendekar akan mengurungkan niat berurusan dengan mahluk ditempat ini….”

Rabu, 12 Oktober 2011

PRAJA PATI WILWATIKTA


     Hembusan angin timur dari lereng pegunungan arjuna begitu menyejukan, dari lamping bukit seorang pemuda berparas gagah terlihat berdiri dipinggir tebing yang menjorok kelembah dimana sebuah perdikan yang dikelilingi hutan pinus tampak meremang tersaput kabut senja hari, sesaat pemuda berbaju hitam ini betulkan letak buntalannya di punggung sebelah kiri, matanya terus mengawasi perdikan dikaki gunung arjuna itu.
“welangun, inikah perdikan dimana aku dilahirkan..”
Gumam pemuda berbaju hitam yang tak lain dari sungging prabangkara, setelah beberapa hari lalu dari kota raja majapahit dimana pemuda ini tanpa sengaja memperoleh anugrah dari prabu hajam wuruk yang merasa berkenan dengan lukisan putri  padjajaran dyah pitaloka yang dilukis sungging prabangkara.
“seperti apakah kondisi biungku sekarang..lebih baik aku segera keperdikan itu..”
Dengan sekali jejekan kakinya ketanah sosok sungging prabangkara dalam sekejap terlihat menuruni bukit dengan ringannya, pemuda ini tak menyadari sekelebatan bayangan dengan sebat mengikutinya dari belakang, ketika pemuda berbaju hitam ini mulai memasuki perbatasan perdikan sosok bayangan yang menguntitnya raib diatara rimbunnya pokok-pokok pinus yang melingkar mengelilingi perdikan welangun.
Sungging prabangkara tapak melangkah pelan memasuki gerbang perdikan welangun, dada pemuda gagah ini serasa sesak oleh perasaan rindu terhadap sosok seorang ibu yang selama belasan tahun hanya berada dalam bayangannya saja sesuai dengan yang diceritakan gurunya ketika masih berada dipuncak pegununga semeru.
Disebuah pinggir hutan kecil sungging prabangkara hentikan langkahnya, terpaut sepuluh tombak dihadapanya berdiri satu pondok panggung yang keseluruhanya terbuat dari rotan, di halaman depan terlihat seorang perempuan kurus paruh baya tengah membelah pokok-pokok pinus dengan sebilah golok, sungging tampak tercenung ditempatnya berdiri, kelopak matanya terasa panas dan ketika menarik napas dirasakannya buliran air bening meluncur dipipinya.
“inikah biungku..kasihan dalam umurnya yang mulai sepuh semuanya dikerjakan sendiri..”
Sungging prabangkara seakan terpaku ditempatnya berdiri, matanya terus mengawasi perempuan yang adalah biungnya sendiri itu dengan berbagai perasaan yang berkecamuk  sampai perempuan yang bernama welas ini menyadari ada seseorang yang berdiri mengawasinya, welas lantas berjalan menghampiri sungging prabangkara.

Minggu, 18 September 2011

PINANGAN BERDARAH


     Lereng bukit terjal,  dimana terdapat sebuah bangunan yang keseluruhannya terbuat dari batu granit itu tampak sunyi tersaput halimun tipis dipagi hari, tapi bilamana angin berhembus dari puncak bukit lapat-lapat terdengar sura berdesing bersiur berkepanjangan, itu mungkin suara angin yang terpesat masuk kecelah kecil dipunggung bukit yang tidak bisa kembali keatas.
Mentari perlahan menyemburatkan sinarnya yang hangat menyapa mayapada membuyarkan tetesan-tetesan embun yang bergayut ditengah daun keladi hutan, namun suasana pagi haripun tetap tak ada perubahan tempat itu tetap sunyi senyap bahkan suara burung dan serangga yang lajim mendendangkan suara alampun seakan sirap, yang terdengar hanya suara hembusan angin yang semakin kencang dan suara desingan dipunggung bukitpun semakin keras terdengar memecah kesunyian.
Dari kaki bukit terjal satu bayangan tampak dengan ringan berlompatan diantara bebatuan yang berlumut,  siapapun sosok bayangan itu dipastikan memiliki kapasitas ringan badan yang sempurna, karena jika salah perhitungan menjejak bebatuan runcing berlumut dan sampai terpeleset,  dibawah sana jurang lebar menganga dengan bebatuan runcing bak tombak siap melumatkan tubuhnya.
Hanya butuh beberapa lompayan saja, akhirnya sosok bayangan ini dengan ringan jejakan kakinya dipuncak bukit dimana sepuluh tombak didepan berdiri dengan angker sebuah bangunan yang keseluruhan dinding dan atapnya terbuat dari batu granit yang keras.
Bangunan ini sungguh aneh, hampir keseluruhannya dari batu granit dan yang lebih aneh lagi bangunan ini tak memiliki pintu masuk ataupun jendela buat sirkulasi udara, sosok tubuh tegap ini sesaat usap wajahnya yang berpeluh, satu goresan panjang melintang terlihat dipipi sebelah kirinya, sosok yang tak lain dari sanjaya calon penguasa dunia prsilatan dengan menghalalkan segala cara ini raba didnding batu granit dengan telapak tangan kanannya dan begitu tusukan kelima jarinya diantara celah kecil perlahan sebuah dinding batu bergeser kebawah amblas kedalam tanah dengan cepat sanjaya lesatkan badannya kedalam bangunan tersebut bersamaan dengan menutupnya kembali pintu batu disusul gemuruh samar dan tak lama berselang keseluruhan bangunan yang terbuat dari batu granit itu amblas kedalam tanah, suasana kembali hening dan sunyi seakan tak terjadi apapun sebelumnya ditempat itu.
Didalam bangunan batu granit yang ternyata berpungsi seperti lif dizaman modern itu sanjaya tampak berdiri dengan sebelah tangan kanannya mengapit sebilah pedang yang tak lain dari pedang sangga buana hasil rampasan dari seorang mpu dengan cara menyamar sebagai murid dari sang mpu dan akhirnya dibunuhnya juga mpu tsb  dengan pedang ciptaannya sendiri oleh sanjaya ( baca eps. Balada cinta dyah citraresmi pitaloka, pen) .
Sanjaya merasakan bangunan dari batu granit yang membawanya meluncur kebawah berhenti, kembali pemuda gagah ini tempelkan telapak tangan kanannya dan begitu kepalkan jari-jarinya secara otomatis lempengan batu granit itu terbuka keatas dan sanjaya dengan cepat lesatkan badannya keluar dari bangunan batu granit  dan didepan sana seorang lelaki berjubah dengan bulatan-bulatan hitam berjumlah enam buah tampak tersenyum simpul kearahnya.
“luar biasa, kau berhasil sanjaya..”
“romo guru, tak susah bagi diriku untuk mendapatkan pedang mustika ini..”
Gumam sanjaya sambil menyerahkan bilah pedang mustika sangga buana pada orang tua dihadapannya yang tak lain dari wiku dharma persada, pemimpin partai lintas aliran halilintar sewu
“aku percaya sanjaya, dan kau lihat seluruh senjata mustika yang berada dikuburan mustika ini, kelak akan aku wariskan kepadamu..”
“dan bila waktu itu tiba aku telah menjadi penguasa rimba persilatan tanah jawa ini..”
Sentak sanjaya, hingga gema suaranya menggetarkan dinding-dinding gua kuburan mustika
“hahaha..tepat sanjaya tepat..tapi  ada sesuatu yang mengganjal dibenakku..”
“apa itu romo guru..”
“kau masih ingat dengan ceritaku tentang  manggala..”
“orang yang akan membunuhku ketika orok, dan  karena dia juga wajahku menjadi cacat”
Sentak sanjaya sambil kepalkan kedua tangannya
“benar sanjaya..”
“aku akan memburunya, walau dia bersembunyi dilubang semut pun..”
“kau tak perlu melakukannya, karena aku yakin dia akan datang lagi kemari menuntut balas”
“kebetulan..jadi aku tidak susah-susah memburunya..”
“namuh ada hal yang musti kau ketahui, manggala telah membawa lari kitab mustika andalan halilintar sewu, dan aku yakin seluruh kitab itu telah dia kuasai..”
“aku tidak gentar romo guru..”
“asal kau tahu sanjaya, semua jurus dan olah kanuragan yang aku turunkan padamu, baru tingkat pertama dan bila manggala telah berhasil menyempurnakan isi kitab sampai tingkat tiga kau akan dilibasnya dengan mudah..”
“lalu apa rencana romo guru selanjutnya..”
“pergilah ke jurang tanpa dasar semenanjung himalaya, bergurulah pada pertapa sapta raga, dengan ajian yang dimilikinya dirimu akan mampu menandingi jurus kuntum kilat melecut raga tingkat tiga yang dikuasai manggala si arit iblis..”
“maap, romo guru..apa pertapa itu bersedia mengangkatk ku sebagai murid..”
“serahkan pedang mustika sangga buana pada pertapa sapta raga, niscaya dirimu akan diangkatnya menjadi muridnya..”
“jadi ini tujuan guru mengutus ku, merampas pedang sangga buana..”
“tepat sanjaya..nah sekarang pergilah..ke jurang tanpa dasar semenanjung Himalaya di negri Hindustan..”
(catatan: bagi pembaca yang penasaran dengan tempat bernama jurang tanpa dasar semenanjung Himalaya, di hindustan, kini india. harap baca karya KYT sebelumnya di blog Bhumi deres mili Eps: Mustika Lembah Cimanuk, pen)
“baik romo guru, hari ini juga aku akan berangkat ke nagri Hindustan..”
Ucap sanjaya, lalu rangkapkan kedua tanganya didada, setelah itu kembali masuk kedalam bangunan batu granit yang akan membawanya kembali keatas permukaan tanah.
Setelah kepergian sanjaya wiku dharma persada tampak sandarkan dirinya didinding gua  matanya tampak kosong menerawang langit-langit gua kuburan mustika yang tampak memancarkan warna lembayung dari bongkahan stalagtit diatas gua.
“kalau saja sanjaya tahu, aku pun dulu menginginkan nyawanya..mungkin ceritanya akan lain..”
Membatin wiku dharma persada dalam hati, kemudian lelaki tua plontos dengan bulatan hitam berjumlah enam dikepalanya ini pejamkan kedua matanya, tak lama pemimpin partai halilintar sewu ini larut dalam semadinya.

Selasa, 13 September 2011

PETAKA PEDANG SANGGA BUANA


     Bukit pualam biru meremang dalam kabut dini hari, semilir angin tenggara meliuk meningalkan gemerisik berkepanjangan manakala menerpa beberapa daun pohon siwalan yang banyak tumbuh berderet melingkari sebuah pedataran luas di lamping bukit pualam biru, sosok renta Mpu.Palwa tampak duduk bersila di atas sebuah lempengan batu pipih, semalaman Mpu pembuat berbagai senjata mustika ini terpekur besemadi mengheningkan cipta, rasa, karsa dan raganya dalam sentuhan akhir penyempurnaan sebuah senjata mustika pesanan orang penting dari kedaton Wilwatikta, di pangkuan Mpu. Palwa terlihat bilah sebuah pedang tipis berwarna perak kebiruan berpendar menyelimuti badan pedang, bilamana semilir angin berhembus terdengar desingan halus dari badan bilah mustika itu.

“duh Gusti yang maha Agung..terimakasih, atas kehendak MU, bilah pusaka ini dapat saya rampungkan..”
Gumam Mpu. Palwa sambil usap bilah pedang mustika itu dengan pelan kemudian secara perlahan dan penuh perasaan ditempelkannya bilah pedang mustika itu di kening nya, bersamaan dengan itu dari dalam pondok beratapkan sirap satu sosok pemuda dengan rambut di gelung di atas kepala muncul sambil membawa warangka dari kayu pohon siwalan.

“Mpu, warangka untuk pedang itu sudah saya selesaikan…”
gumam pemuda dengan rambut di gelung keatas, mpu. Palwa lantas angsurkan kedua telapak tanganya menyambut warangka yang di sodorkan sang pemuda.
“terimakasih Mangkurat..pedang pesanan kiageng Wanabaya ini bernama Sanggabuana…”
Kata Mpu. Palwa sambil perlahan memasukan bilah pedang mustika itu dalam warangkanya, kembali desingan halus terdengar manakala bilah pedang menyentuh bibir warangka.
“Sanggabuana, maknanya apa itu Mpu…” sela Mangkurat.
“Sangga artinya menjaga melindungi dan mengayomi, sementara Buana adalah alam semesta beserta isinya, pilosofinya siapapun yang memiliki pedang mustika ini di harapkan dapat membawa kemaslahatan bagi orang banyak dan menjaga keseimbangan tatanan alam semesta..”
gumam Mpu. Palwa sambil memeluk bilah mustika itu dalam dekapan nya.
“mangkurat, bilah mustika Sanggabuana ini seyogyanya akan di hadiahkan kiageng Wanabaya pada Gusti Prabu Hayam Wuruk, semoga dengan memiliki bilah mustika ini beliau dapat menjadi seorang raja yang selalu melindungi, mengayomi dan mengopeni rakyatnya dengan penuh welas asih..”
“maap Mpu, bolehkah saya memegang pedang mustika itu..” sela mangkurat
Mpu. Palwa hanya tersenyum, perlahan diangsurkannya bilah mustika Sanggabuana yang langsung di terima oleh Mangkurat.
“Mpu.apa keistimewaan mustika Sanggabuana ini..”
“Mangkurat..dengar, sejatinya di dunia ini setiap benda baik benda hidup atau mati tidak memiliki keistimewaan apapun, hanya dengan izin sang Maha kuasalah keistimewaan itu terwujud…”
“jadi buat apa Mpu selama itu menempa lempengan batu bulan ini hingga berwujud bilah pedang kalau tidak ada keistimewaan..”
“anak muda, semua benda pusaka dan mustika sejatinya tiada daya dan guna, hanya wadah yang telah ditempa yang mampu mencipta apakah sebuah senjata bisa membawa berkah atau petaka.. paham yang aku maksud mangkurat..”
“saya belum memahami sepenuhnya akan hal itu Mpu..”
“kelak kau akan menemukan jawabannya Mangkurat..”
“baiklah Mpu, apa saya sudah bisa membawa pedang ini..”
“tunggulah sampai matahari tepat di ubun-ubun mangkurat, karena aku belum mengisi khodamnya..”
“terlalu lama Mpu, menurut saya sebuah senjata mustika akan berarti bila sudah di butikan..”
“maksud kamu apa..mangkurat..”
“maksud saya adalah ini….”
“brreeesssss…!!”

Mpu Palwa terpana dalam kebisuan, matanya nyalang memandang orang di hadapannya, dirasakannya tubuhnya dingin membeku, bibirnya tampak bergetar namun tak ada satu patah katapun yang terlontar dari mulut Mpu uzur ini.
darah terlihat menyembur membasahi jubah putihnya manakala dengan tanpa perasaan Mangkuat anak muda yang selama sepekan membantunya merampungkan bilah mustika Sanggabuana menusukkan lebih dalam bilah pedang mustika itu sampai tembus ke punggung kirinya.

“heeekkk…!!”
hanya erangan halus yang terdengar dari bibir Mpu. Palwa manakala Mangkurat dengan cepat mencabut bilah pedang itu dari tubuh Mpu. Palwa lalu menendang nya.
“Mpu Bodoh..agar arwahmu tidak penasaran..lihat siapa aku sebenarnya…” sentak pemuda ini sambil perlahan melepas topeng tipis dari wajahnya, mpu palwa yang tengah sekarat hanya sempat memandang sebentar orang yang selama ini di kenalnya sebagai utusan dari kiageng. Wanabaya itu, sosok angkuh terlihat disana dengan guratan bekas luka melintang panjang di pipi sebelah kirinya, dan dengan cepat lesatkan tubuhnya kearah barat sambil menjinjing bilah mustika pedang sangga buana ditangan kananya.
bersamaan dengan lenyapnya sosok pemuda ganas tadi, dari balik bukit karang terjal melesat satu sosok lain yang anehnya baik pakaian, rambut dan perawakannya mirip dengan pemuda yang barusan pergi setelah membunuh dengan kejam Mpu. Palwa dengan pedang ciptaannya sendiri.
“Mpu.Palwa apa yang terjadi…”
sentak sosok pemuda yang barusan datang, perlahan kelopak mata Mpu. Palwa membuka dan sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya..
“kau..kau..” ujar Mpu. Palwa terbata-bata..
“saya Mangkurat Mpu, utusan kiageng Wanabaya..”
“pedang itu..pedang itu..”
……………………………………………
kelopak  mata Mpu. Palwa perlahan meredup, napasnya terlihat tersengal-sengal dan ketika butiran-butiran air dari langit mulai membasuh bumi, roh mpu palwa meninggalkan zasadnya.

     Setelah selesai mengurus zasad Mpu.Palwa dalam guyuran hujan yang semakin deras menyiram bumi pemuda yang memang benar bernama Mangkurat salah satu telik sandi yudha Majapahit utusan kiageng. Wanabaya ini menancapkan warangka dari pedang Sanggabuana yang ditemukannya tergeletak di tanah basah di lempeng batu tempat abu dari zasad Mpu. Palwa disimpan.

“kemana saya harus mencari sang durat mata itu, sebelum Mpu. Palwa menghembuskan napas terakhirnya beliau sempat mengucapkan satu kata..kalau tidak salah Rajah..kala..rajah kala cakra…yah..durjana itu memiliki rajah kala cakra di dadanya..jadi siapapun yang memiliki rajah kala cakra di dadanya dialah sang durat mata itu…”

Mangkurat lantas berdiri dari duduknya, pemuda dengan rambut di gelung keatas ini lantas jejakkan kakinya ke tanah yang dalam sekejap sosoknya kini terlihat jauh meninggalkan kaki bukit pualam biru dalam hujan badai yang seakan mengguncang mayapada.

ooooOoooo

selanjutnya: Pinangan Berdarah



Lisensi

Lisensi Creative Commons
BHUMI DERES MILI by BHUMI DERES MILI is licensed under a Creative Commons Atribusi 3.0 Unported License.
Berdasarkan karya di KANG KUSYOTO, KYT.
Permissions beyond the scope of this license may be available at http//:www.bhumideresmili.blogspot.com.

Total Tayangan Halaman

About

Pages

Download

Powered By Blogger

Search Box

Popular Posts

Followers