Pasanggrahan yang terletak dipuncak bukit
tapal kuda itu temaram di saput lembayung senja hari, guratan air terlihat
turun dari sela-sela tebing di samping kanan pasanggrahan, undakan tangga batu
menghiasi tiap turunan tebing yang berakhir disebuah aliran sungai kecil berair
jernih, ditengah sungai diatas batu pipih satu sosok terlihat duduk bersila,
hembusan angin sesekali mengibarkan rambutnya yang di biarkan tergerai sebahu,
perlahan sosok yang sejak pagi terpekur dalam semedi buka perlahan kedua kelopak
matanya, sorot mata yang tajam, raut wajah nan tegas terlihat di sana.
ngobrol yuukk...
Bhumi Deres Mili
@kyt_twiit
kusyoto, kyt
Love Quotes
Powered by Moon Calendar
About Me
Kang KYT Web'Blog
Categories
- Bhumi Deres Mili (14)
- Cerita Pendek (9)
- flash fiksion (2)
- KARYA BASTIAN TITO (1)
- Karya kang Kusyoto (1)
- kiriman cerpen para sahabat (1)
- kyt (1)
- P2NV.COM (1)
- Romantika Dharma Ayu Nagari (1)
- Zona Pendekar (22)
Our Partners
Powered by IP Address Locator
Blogroll
Al-Qur'an
Kamis, 21 Juni 2012
Senin, 18 Juni 2012
DUA MENTARI SATU MUSLIHAT
Semenanjung branjangan meremang dalam kabut
dini hari, semilir angin utara terasa mencucuk persendian, debur ombak
terdengar bergemuruh menghantam hamparan karang, di salah satu tebing karang
yang menjorok ke laut lepas dua orang bertampang gagah tengah berdiri
berhadapan, sudah hampir sepenanakan nasi kedua sosok tubuh ini diam bagai
patung pualam,kedua mata mereka tampak terpejam sesekali raut dari wajah
keduanya berubah menegang bulir-bulir keringat menetes dari kedua sosok tubuh
ini.
“kanda gegar wahana, ayahanda prabu menghendaki kakanda hadir di kedaton”
Ujar pemuda berambut ikal dengan plat bahu dodot sutra berwarna coklat
keemasan.
“dinda platik waja, lebih baik kau kembali ke kedaton..bukankah sudah
aku katakana berulang kali..aku tidak tertarik dengan pemerintahan, tempat ku di sini..kalau dinda menghendaki
tahta..aku rela memberikannya pada dirimu..”
Pemuda berambut ikal bernama platik waja ini hanya bisa geleng-gelengkan
kepalanya, dia tahu betul sifat kakaknya bila menghendaki satu tujuan.
“tidak bisa begitu kanda, bagaimanapun juga ayahanda prabu sudah membagi
pusat pemerintahan menjadi dua…jadi saya harap kanda menyadari tangung jawab sebagai anak tertua..”
Untuk pertama kalinya pemuda dengan gelang akar bahar di lengannya ini
membuka matanya, pandangan tajam
dirasakan bak sembilu bilamana pemuda bernama gegar wahana ini memandang orang
dihadapannya.
“dinda platik waja, terus terang aku bosan dengan kehidupan istana yang
penuh dengan muslihat, topeng kepalsuan..apa kau tidak sadar mereka yang
mengelilingi kita itu cuma tunduk dengan pangkat serta jabatan yang kita miliki
bukan tulus tunduk pada gegar wahana atau platik waja..”
“tapi kakang…”
“jika tidak ada keperluan lain, pengawal mu sudah siap mengantar diri mu
kembali ke kedaton…”
Platik waja hanya bisa menarik napas panjang, pemuda gagah berambut ikal
ini lantas perintahkan beberapa pengawal menyiapkan tandu bagi dirinya, namun
sebelum tandu yang di gotong empat pengawal sampai di hadapan platik waja, dari
arah tenggara terdengar jeritan ketakutan seorang perempuan, dengan sigap
Rabu, 13 Juni 2012
WIRO SABLENG
Bastian Tito (lahir 23 Agustus 1945 – wafat 2 Januari 2006
pada umur 60 tahun) adalah seorang penulis cerita silat asal Indonesia.
Karyanya yang paling terkenal adalah Wiro Sableng.
Selasa, 12 Juni 2012
kiriman naskah para sahabat
Asalamualaikum, Wr.Wb
Halaman ini saya buat khusus bagi para sahabat Bhumi deres mili yang berkenan karya tulisannya, baik berupa cerpen, cerbung, novel atau apapun di pasang di blog bhumi deres mili. silahkan kirim karya sahabat lewat email : kkusyoto@gmail.com
terimakasih
kusyoto, kyt
Admin, Blog Bhumi Deres Mili
Halaman ini saya buat khusus bagi para sahabat Bhumi deres mili yang berkenan karya tulisannya, baik berupa cerpen, cerbung, novel atau apapun di pasang di blog bhumi deres mili. silahkan kirim karya sahabat lewat email : kkusyoto@gmail.com
terimakasih
kusyoto, kyt
Admin, Blog Bhumi Deres Mili
Rabu, 09 Mei 2012
manusia bertopeng kardus
Berlin 1984
Tiga hari setelah tragedi runtuhnya gian wall. (tembok raksaksa yang memisahkan german barat dan german selatan, dibangun pada masa hitler)
Sang malam barusaja menyapa taman kota, dalam temaram lampu antik abad pertengahan sepasang muda-mudi tampak asik masuk memadu kasih, butir salju mulai menitik dari langit yg kelam, derit ayunan terdengar berkeriet tertiup angin utara, dari arah air mancur ditengah taman sekelebatan bayangan hitam melintas bak kilat diantara keduanya, detik berikutnya diatas salju yg putih genangan cairan kental berwarna merah merembes dipermukaannya, suasana kembali seperti semulah semakin hening mencekam seakan tak pernah terjadi apapun sebelumnya ditempat tsb.
Tiga hari setelah tragedi runtuhnya gian wall. (tembok raksaksa yang memisahkan german barat dan german selatan, dibangun pada masa hitler)
Sang malam barusaja menyapa taman kota, dalam temaram lampu antik abad pertengahan sepasang muda-mudi tampak asik masuk memadu kasih, butir salju mulai menitik dari langit yg kelam, derit ayunan terdengar berkeriet tertiup angin utara, dari arah air mancur ditengah taman sekelebatan bayangan hitam melintas bak kilat diantara keduanya, detik berikutnya diatas salju yg putih genangan cairan kental berwarna merah merembes dipermukaannya, suasana kembali seperti semulah semakin hening mencekam seakan tak pernah terjadi apapun sebelumnya ditempat tsb.
Selasa, 08 Mei 2012
DENDAM TURUNAN
Gadis belia itu pandang dengan tajam lelaki paruh baya yang ada di
hadapannya, pedang tipis masih tergenggam erat ditangannya yang
bergetar..
"cah ayu, kematian ibumu adalah takdir..mungkin cuma kebetulan saya berada disana dengan waktu yang salah.."
ujar lelaki berjubah kelabu ini serak
"terserah apa kata mu pak tua, gambar dirimu terpampang jelas sebagai bukti, kau lah penyebab kematian ibuku, tujuh belas tahun silam..."
"siapa yang menggambar diri saya cah ayu.."
"kau tidak usah tahu pak tua, sekarang terima ajalmu.."
kembali gadis belia ini ayunkan pedang tipis kearah orang tua berjubah kelabu yang dengan sigap lesatkan tubuh ke udara menghindari sabetan pedang..
"cah ayu, kematian ibumu adalah takdir..mungkin cuma kebetulan saya berada disana dengan waktu yang salah.."
ujar lelaki berjubah kelabu ini serak
"terserah apa kata mu pak tua, gambar dirimu terpampang jelas sebagai bukti, kau lah penyebab kematian ibuku, tujuh belas tahun silam..."
"siapa yang menggambar diri saya cah ayu.."
"kau tidak usah tahu pak tua, sekarang terima ajalmu.."
kembali gadis belia ini ayunkan pedang tipis kearah orang tua berjubah kelabu yang dengan sigap lesatkan tubuh ke udara menghindari sabetan pedang..
Sabtu, 24 Maret 2012
SENGKETA TANAH SEMENANJUNG
Kabut tipis dari lereng rinjani melayang pelan menuruni lembah nan subur
dibawahnya, gemericik air membuncah disela bebatuan gunung menciptakan suara
alam tak berkesudahan, sementara itu disebuah batu pipih yang terletak ditengah
sungai satu sosok berjubah kuning terlihat khusuk dengan tafakurnya, tak lama
sosok tubuh yang ternyata seorang lelaki tua bersorban hentakkan kaki dari batu
pipih yang didudukinya, tubuhnya tampak sebat menjejak dari batu yang satu
kebatu yang lain, sudut mata orang berjubah kuning ini sekilas melihat sebuah
benda timbul tenggelam terseret derasnya aliran sungai yang akan menuju
kesebuah air terjun dibawahnya, sedetik lagi benda yang ternyata satu sosok
tubuh seorang lelaki ini akan terlempar kebawah air terjun, dengan gerakan
kilat lelaki berjubah kuning sambar tubuh orang yang entah pingsan atau sudah
menemui ajal itu dan dengan ringan membawanya ketepian sungai.
Langganan:
Postingan (Atom)
Lisensi
BHUMI DERES MILI by BHUMI DERES MILI is licensed under a Creative Commons Atribusi 3.0 Unported License.
Berdasarkan karya di KANG KUSYOTO, KYT.
Permissions beyond the scope of this license may be available at http//:www.bhumideresmili.blogspot.com.
Total Tayangan Halaman
About
Pages
Download
tweetr
Search Box
Popular Posts
-
Dalam tutur tanah jawi dikisahkan ketika putra tumenggung gagak singalodra dari bagelen yang bernama rd. Wiralodra membuka la...




























