Kabut tipis dari lereng rinjani melayang pelan menuruni lembah nan subur
dibawahnya, gemericik air membuncah disela bebatuan gunung menciptakan suara
alam tak berkesudahan, sementara itu disebuah batu pipih yang terletak ditengah
sungai satu sosok berjubah kuning terlihat khusuk dengan tafakurnya, tak lama
sosok tubuh yang ternyata seorang lelaki tua bersorban hentakkan kaki dari batu
pipih yang didudukinya, tubuhnya tampak sebat menjejak dari batu yang satu
kebatu yang lain, sudut mata orang berjubah kuning ini sekilas melihat sebuah
benda timbul tenggelam terseret derasnya aliran sungai yang akan menuju
kesebuah air terjun dibawahnya, sedetik lagi benda yang ternyata satu sosok
tubuh seorang lelaki ini akan terlempar kebawah air terjun, dengan gerakan
kilat lelaki berjubah kuning sambar tubuh orang yang entah pingsan atau sudah
menemui ajal itu dan dengan ringan membawanya ketepian sungai.
ngobrol yuukk...
Bhumi Deres Mili
@kyt_twiit
kusyoto, kyt
Love Quotes
Powered by Moon Calendar
About Me
Kang KYT Web'Blog
Categories
- Bhumi Deres Mili (14)
- Cerita Pendek (9)
- flash fiksion (2)
- KARYA BASTIAN TITO (1)
- Karya kang Kusyoto (1)
- kiriman cerpen para sahabat (1)
- kyt (1)
- P2NV.COM (1)
- Romantika Dharma Ayu Nagari (1)
- Zona Pendekar (22)
Our Partners
Powered by IP Address Locator
Blogroll
Al-Qur'an
Sabtu, 24 Maret 2012
Senin, 27 Februari 2012
PERGOLAKAN BHATIN SANG KSATRIA
Mentari sepenggalah ketika rd.angglarang
menginjakan kakinya disebuah tanjung berpasir putih, tanjung itu bernama wahina
terletak tiga kilometer dari kerajaan jayapurantala, ibu kota kerajaan yang
terletak disebuah kepulauan berbentuk kepala burung dengan pegunungan
legendaris “jaya wijaya” dimana salju abadi senantiasa melingkupi puncak gunung
tersebut.
“itukah pegunungan jaya
wijaya, yang pernah diceritakan ayahanda linggabuana..”
Membatin rd. anggalarang,
pemuda gagah berbaju putih calon raja padjajaran yang tengah menjalankan lelaku
atau ritual pengembaraan selama satu tahun sebelum dirinya diangkat menjadi
prabu ditatar sunda ini pindahkan buntalan bututnya dibahu kiri, kemudian
dengan ringan melangkahkan kaki menuju kearah selatan dimana meremang tersaput
kabut sebuah puncak pegunungan yang selalu dilingkupi salju abadi, pemuda ini
tidak menyadari dari tadi sepasang mata mengawasinya dengan tajam, begitu
anggalarang lesatkan badannya kearah selatan sosok yang ternyata seorang dara
jelita berbaju ungu keluar dari tempat persembunyiannya.
“pemuda itu bukan orang
sembarangan, ini kali usahaku harus berhasil..”
Setelah termenung beberapa
saat, dara ayu berbaju ungu ini lesatkan badannya yang ramping kearah dimana
rd.anggalarang pergi.
Jumat, 17 Februari 2012
ELEGY SAPTA DAYA
Malam beranjak ke dini hari,
hembusan angin dari lereng pegunungan Himalaya begitu dingin menusuk
persendian, ditengah titik salju yang semakin deras beberapa sosok hitam tampak
berkelebat, begitu cepatnya gerakan sosok-sosok ini hingga yang tampak hanya
bayangannya saja, disatu bibir jurang yang tertutup tebalnya kabut, sosok-sosok
ini hentikan gerakannya.
“prajurit..apa kau yakin ini
tempatnya..”
“hamba yakin gusti patih..”
“bagus..segera siapkan
tali..sepuluh prajurit turun kedasar jurang..angkat mayat pertapa itu ke
atas..”
“baik gusti patih..”
Tak menunggu lama
sepuluh orang prajurit dengan cepat
meluncur kedasar jurang, tapi setelah sekian lama ditunggu kesepuluh orang itu
seakan raib ditelan bumi.
Minggu, 05 Februari 2012
BAYANG-BAYANG KUTUKAN
Sungging prabangkara kembangkan telapak tangan kanannya kedepan, bias sinar keperakan membentuk bayang-bayang ribuan kuas kecil terliat berputar disekujur tubuhnya, sedang dyah pitaloka hunus pedang giok hijau dari warangkanya lantas putar pedangnya dengan cepat.
“pyyaaaarrr..!!”
Pukulan jarak jauh mengandung tenaga inti tampak mental berserabutan manakala hampir menyentuh satu jengkal dari badan keduanya.
Suasana kembali hening seakan tak pernah terjadi apapun sebelumnya ditempat itu, bahkan hembusan anginpun seakan terhenti
“terlalu hening…”
Kamis, 26 Januari 2012
MUSTIKA BUNGA KARANG
Keheningan subuh itu terobek oleh teriakan dan bentakan dari beberapa orang berseragam prajurit yang dengan kasar nengumpulkan seluruh penduduk sebuah kampung dikaki bukit, sedang puluhan prajurit yang lain membentuk pormasi pagar betis dengan perlengkapan persenjataan yang lengkap, seorang dengan tampang sangar sambil menghunus pedang besar dari warangkanya tampak melangkah dihadapan para penduduk yang bersimpuh ditanah rerumputan.
Selasa, 10 Januari 2012
ANGKARA MURKA MERAJALELA
Sosok yang sedari tadi terpekur dalam semadi perlahan buka kedua kelopak matanya, manakala sebuah teriakan yang dilambari kekuatan tenaga inti menggema hingga menggetarkan dinding goa dimana orang berkepala plontos dengan enam bulatan dibatok kepalanya ini duduk bersila.
“wiku dharma persada, keluar kau dari tempat persembunyianmu..!!”
Sosok yang tak lain dari pemimpin partai lintas aliran halilintar sewu ini tampak tercekat sesaat, dia kenal suara teriakan itu.
“manggala..darimana dia tahu tempat ini…” gumam wiku dharma persada.
“wiku gadungan cepat keluar, atau kami bakar tempat ini..!!” kembali terdengar teriakan manggala si arit iblis dari atas.
Dengan sekali hentakan sososk wiku dharma persada melesat kadalam bangunan kubus batu andesit yang langsung membawanya kepermukan tanah.
“BBBUUUUUUUMMMM…..!!!”
Selasa, 13 Desember 2011
KUTUKAN SANG PENDEKAR
Setelah dhuta dari majapahit
yang menyerahkan surat permintaan maap atas tragedy bubat dan abu kremasi prabu
linggabuana serta putri dyah pitaloka berlalu dari balerung kraton padjajaran,
dari balik singgasana muncul satu sosok pemuda gagah dengan mahkota emas
bertengger dikepalanya, dialah niskala wastu kencana yang mempunyai nama kecil
rd. anggalarang yang telah ditabalkan sebagai putra mahkota yang kelak
menggantikan ayah handanya prabu linggabuana, menjadi prabu di kedaton padjajaran.
“angger anggalarang, paman mengerti akan keputusan mu untuk menantang
duel dengan mahapatih gadjah mada tidak bias ditawar lagi, namun seperti tradisi
yang telah turun-temurun sebelum memegang tampuk kekuasaan dipadjajaran, dirimu
harus melukukan lelaku pengembaraan selama satu tahun,tradisi inipun pernah
dilakukan oleh kakek buyut, eyang serta ramandamu dimasa mudanya..”
Anggalarang Cuma diam tepekur dihadapan pamannya, dirinya menyadari
betul akan tradisi yang telah berlaku dikerajaannya.
Langganan:
Postingan (Atom)
Lisensi
BHUMI DERES MILI by BHUMI DERES MILI is licensed under a Creative Commons Atribusi 3.0 Unported License.
Berdasarkan karya di KANG KUSYOTO, KYT.
Permissions beyond the scope of this license may be available at http//:www.bhumideresmili.blogspot.com.
Total Tayangan Halaman
About
Pages
Download
tweetr
Search Box
Popular Posts
-
Dalam tutur tanah jawi dikisahkan ketika putra tumenggung gagak singalodra dari bagelen yang bernama rd. Wiralodra membuka la...






























