KONTAK SAYA

Email Twitter Facebook

TELUSURI

GALERI FOTO

Kategori Arsip Daftar Isi

MULAI DARI SINI

Pelayanan Portfolio Pembayaran

Selasa, 13 September 2011

PETAKA PEDANG SANGGA BUANA


     Bukit pualam biru meremang dalam kabut dini hari, semilir angin tenggara meliuk meningalkan gemerisik berkepanjangan manakala menerpa beberapa daun pohon siwalan yang banyak tumbuh berderet melingkari sebuah pedataran luas di lamping bukit pualam biru, sosok renta Mpu.Palwa tampak duduk bersila di atas sebuah lempengan batu pipih, semalaman Mpu pembuat berbagai senjata mustika ini terpekur besemadi mengheningkan cipta, rasa, karsa dan raganya dalam sentuhan akhir penyempurnaan sebuah senjata mustika pesanan orang penting dari kedaton Wilwatikta, di pangkuan Mpu. Palwa terlihat bilah sebuah pedang tipis berwarna perak kebiruan berpendar menyelimuti badan pedang, bilamana semilir angin berhembus terdengar desingan halus dari badan bilah mustika itu.

“duh Gusti yang maha Agung..terimakasih, atas kehendak MU, bilah pusaka ini dapat saya rampungkan..”
Gumam Mpu. Palwa sambil usap bilah pedang mustika itu dengan pelan kemudian secara perlahan dan penuh perasaan ditempelkannya bilah pedang mustika itu di kening nya, bersamaan dengan itu dari dalam pondok beratapkan sirap satu sosok pemuda dengan rambut di gelung di atas kepala muncul sambil membawa warangka dari kayu pohon siwalan.

“Mpu, warangka untuk pedang itu sudah saya selesaikan…”
gumam pemuda dengan rambut di gelung keatas, mpu. Palwa lantas angsurkan kedua telapak tanganya menyambut warangka yang di sodorkan sang pemuda.
“terimakasih Mangkurat..pedang pesanan kiageng Wanabaya ini bernama Sanggabuana…”
Kata Mpu. Palwa sambil perlahan memasukan bilah pedang mustika itu dalam warangkanya, kembali desingan halus terdengar manakala bilah pedang menyentuh bibir warangka.
“Sanggabuana, maknanya apa itu Mpu…” sela Mangkurat.
“Sangga artinya menjaga melindungi dan mengayomi, sementara Buana adalah alam semesta beserta isinya, pilosofinya siapapun yang memiliki pedang mustika ini di harapkan dapat membawa kemaslahatan bagi orang banyak dan menjaga keseimbangan tatanan alam semesta..”
gumam Mpu. Palwa sambil memeluk bilah mustika itu dalam dekapan nya.
“mangkurat, bilah mustika Sanggabuana ini seyogyanya akan di hadiahkan kiageng Wanabaya pada Gusti Prabu Hayam Wuruk, semoga dengan memiliki bilah mustika ini beliau dapat menjadi seorang raja yang selalu melindungi, mengayomi dan mengopeni rakyatnya dengan penuh welas asih..”
“maap Mpu, bolehkah saya memegang pedang mustika itu..” sela mangkurat
Mpu. Palwa hanya tersenyum, perlahan diangsurkannya bilah mustika Sanggabuana yang langsung di terima oleh Mangkurat.
“Mpu.apa keistimewaan mustika Sanggabuana ini..”
“Mangkurat..dengar, sejatinya di dunia ini setiap benda baik benda hidup atau mati tidak memiliki keistimewaan apapun, hanya dengan izin sang Maha kuasalah keistimewaan itu terwujud…”
“jadi buat apa Mpu selama itu menempa lempengan batu bulan ini hingga berwujud bilah pedang kalau tidak ada keistimewaan..”
“anak muda, semua benda pusaka dan mustika sejatinya tiada daya dan guna, hanya wadah yang telah ditempa yang mampu mencipta apakah sebuah senjata bisa membawa berkah atau petaka.. paham yang aku maksud mangkurat..”
“saya belum memahami sepenuhnya akan hal itu Mpu..”
“kelak kau akan menemukan jawabannya Mangkurat..”
“baiklah Mpu, apa saya sudah bisa membawa pedang ini..”
“tunggulah sampai matahari tepat di ubun-ubun mangkurat, karena aku belum mengisi khodamnya..”
“terlalu lama Mpu, menurut saya sebuah senjata mustika akan berarti bila sudah di butikan..”
“maksud kamu apa..mangkurat..”
“maksud saya adalah ini….”
“brreeesssss…!!”

Mpu Palwa terpana dalam kebisuan, matanya nyalang memandang orang di hadapannya, dirasakannya tubuhnya dingin membeku, bibirnya tampak bergetar namun tak ada satu patah katapun yang terlontar dari mulut Mpu uzur ini.
darah terlihat menyembur membasahi jubah putihnya manakala dengan tanpa perasaan Mangkuat anak muda yang selama sepekan membantunya merampungkan bilah mustika Sanggabuana menusukkan lebih dalam bilah pedang mustika itu sampai tembus ke punggung kirinya.

“heeekkk…!!”
hanya erangan halus yang terdengar dari bibir Mpu. Palwa manakala Mangkurat dengan cepat mencabut bilah pedang itu dari tubuh Mpu. Palwa lalu menendang nya.
“Mpu Bodoh..agar arwahmu tidak penasaran..lihat siapa aku sebenarnya…” sentak pemuda ini sambil perlahan melepas topeng tipis dari wajahnya, mpu palwa yang tengah sekarat hanya sempat memandang sebentar orang yang selama ini di kenalnya sebagai utusan dari kiageng. Wanabaya itu, sosok angkuh terlihat disana dengan guratan bekas luka melintang panjang di pipi sebelah kirinya, dan dengan cepat lesatkan tubuhnya kearah barat sambil menjinjing bilah mustika pedang sangga buana ditangan kananya.
bersamaan dengan lenyapnya sosok pemuda ganas tadi, dari balik bukit karang terjal melesat satu sosok lain yang anehnya baik pakaian, rambut dan perawakannya mirip dengan pemuda yang barusan pergi setelah membunuh dengan kejam Mpu. Palwa dengan pedang ciptaannya sendiri.
“Mpu.Palwa apa yang terjadi…”
sentak sosok pemuda yang barusan datang, perlahan kelopak mata Mpu. Palwa membuka dan sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya..
“kau..kau..” ujar Mpu. Palwa terbata-bata..
“saya Mangkurat Mpu, utusan kiageng Wanabaya..”
“pedang itu..pedang itu..”
……………………………………………
kelopak  mata Mpu. Palwa perlahan meredup, napasnya terlihat tersengal-sengal dan ketika butiran-butiran air dari langit mulai membasuh bumi, roh mpu palwa meninggalkan zasadnya.

     Setelah selesai mengurus zasad Mpu.Palwa dalam guyuran hujan yang semakin deras menyiram bumi pemuda yang memang benar bernama Mangkurat salah satu telik sandi yudha Majapahit utusan kiageng. Wanabaya ini menancapkan warangka dari pedang Sanggabuana yang ditemukannya tergeletak di tanah basah di lempeng batu tempat abu dari zasad Mpu. Palwa disimpan.

“kemana saya harus mencari sang durat mata itu, sebelum Mpu. Palwa menghembuskan napas terakhirnya beliau sempat mengucapkan satu kata..kalau tidak salah Rajah..kala..rajah kala cakra…yah..durjana itu memiliki rajah kala cakra di dadanya..jadi siapapun yang memiliki rajah kala cakra di dadanya dialah sang durat mata itu…”

Mangkurat lantas berdiri dari duduknya, pemuda dengan rambut di gelung keatas ini lantas jejakkan kakinya ke tanah yang dalam sekejap sosoknya kini terlihat jauh meninggalkan kaki bukit pualam biru dalam hujan badai yang seakan mengguncang mayapada.

ooooOoooo

selanjutnya: Pinangan Berdarah



Sabtu, 10 September 2011

BALADA CINTA DYAH CITRARESMI PITALOKA


     Embun bergantung diujung daun disaat sang surya memancarkan sinarnya, hembusan angin timur meliuk disela rumpun melati, titik embun itu tampak bergulir menetes kearah telaga mengguratkan pesona alam nan abstrak dipermukaan kolam berair jernih.
Tatapan mata bening itu terus menerawang seakan menembus ruang dan waktu yang tak terbatas,  perlahan desahanya terdengar berat disela gemuruhnya pancuran air ditengah telaga.
“gusti ayu, tidak baik seorang putri agung terlena dalam hayalan..”
Suara berat emban pengasuh membuyarkan lamunan dara ayu yang masih menatap kosong ketengah telaga.
Pemilik mata bening itu adalah Dyah citraresmi pitaloka, putri dari sang maharaja agung pasundan prabu. Lingga buana, seorang raja yang bertahta di tatar sunda  penguasa keraton pakuan padjajaran.
“mbok mban, salahkan jika seorang putri raja jatuh cinta..”
Gumam dara ayu ini lirih
“tentu tidak gusti ayu, rasa cinta dan tertarik dengan seseorang adalah hal yang wajar dan alami karena setiap insan ditakdirkan berpasangan oleh sang maha pemilik hidup, kalau boleh tahu..gusti ayu sedang jatuh cinta pada siapa..”
Dara ayu berkulit kuning langsat ini sesaat arahkan pandangannya kearah selatan dimana puncak sebuah gunung tersaput kabut dipagi hari
“dilereng gunung salak itu pertama kali kami bertemu, gagah, tampan, dan tatapan matanya begitu menyejukan kalbu..”
“siapa pemuda itu gusti ayu, pangeran dari kerajaan mana..” ujar mban pengasuh ini antusias
“namanya Sungging prabangkara..dan dia berjanji akan melamar saya mbok..”
“gusti ayu sudah dewasa..sudah pantas berkeluarga..”
“tapi…”
 raut wajah dara ayu ini kembali muram..
“ada apa gusti…”
“saya tidak tahu dimana dia tinggal, dan siapa dia sebenarnya..”
“maksud gusti ayu..”
“saya bertemu dia dialam mimpi..mbok..”
Gumam dyah pitaloka tertunduk lesu, membuat wanita pengasuh ini tercenung sesaat
“tapi saya terlanjur mencintainya mbok..saya lebih baik mati bila tidak bertemu dengan dia..”
Sentak dara ayu ini sambil berlalu meninggalkan mban pegasuhnya yang tampak bengong ditempatnya.

ooooOoooo

Senin, 05 September 2011

BHUMI DERES MILI "Pendekar Sada Lanang" RAJAH KALA CAKRA



Episode: Rajah kala cakra


     Bantaran sungai berantas meremang dalam kabut dini hari, deru suaranya begitu dahsyat manakala menerpa bebatuan gunung yang banyak berjajar disepanjang alirannya, dari lamping bukit sebelah timur terlihat asap tebal berwarna hitam membumbung diudara sepertinya sebuah perkampungan dilanda kebakaran hebat, tak lama puluhan penunggang kuda dengan wajah rata-rata bertampang sangar hentikan laju tunggangannya tepat dipinggiran sungai berantas.
“jarot, coba kau hentikan tangis orok itu..bisa gila aku mendengarnya..”
Sentak seorang penunggang kuda dengan cambang bawuk meranggas diwajahnya, orang ini bernama manggala dedengkot perampok lereng gunung wilis bergelar arit iblis.
“aku sedang upayakan manggala..”
 sela jarot sambil membolang baling orok yang terbungkis kain hitam dalam bedungannya, bukannya diam malah tangis orok ini semakin keras  melengking-lengking seakan merobek dinginya hawa pagi hari.
“apa susahnya membuat diam seorang orok, biar aku bereskan..!!”
Semprot manggala yang dalam satu kelebatan tubuh,  orok ini telah berada dalam cengkeraman tangannya lalau pada sebuah batu pipih orok yang masih merah ini dibaringkan.
“manggala apa yang akan kau lakukan..” teriak jarot manakala dilihatnya manggala mencabut arit iblisnya dan dengan pandangan dingin sabetkan arit iblis kearah batang leher sang orok
“crrrasss…”
Darah tampak mengucur dari pipi sebelah kiri sang orok, rupanya arit iblis hanya sempat menggores pipi kiri orok ini karena dengan kecepatan kilat jarot lelaki jangkung ceking ini berhasil merebut kembali orok yang barusan akan dibunuh manggala.
“manggala, apa kau sudah gendeng atau bagaimana..jika orok ini tewas kepala kita jadi taruhannya..”
sentak jarot lalu bebat pipi kiri orok yang terus mengucurkan darah, sedang manggala dengan gusar gebrak kudanya menyebrangi aliran sungai berantas kearah barat diikuti puluhan anak buahnya, sedang dengan segera jarot kembali melompat keatas kudanya lalu ikut menyeberangi aliran sungai berantas yang bergemuruh.

Jumat, 05 Agustus 2011

GORESAN KUAS DI UJUNG SENJA


     Malam merambat ke dini hari, hawa dingin berhembus menggetarkan gorden-gorden dari sebuah jendela rumah yang masih terbuka, seraut wajah pucat pias dengan tatapan hampa, kosong dan dalam tampak termangu dibalik jendela .
“satuuu.., duuuaaa..tigaaa..empaaatt..”
Suara lirih terdengar dari mulut mungilnya, namun tatapan matanya masih seperti tadi menerawang hampa dan dalam seakan tatapan mata itu datang dari dimensi lain dingin, gelap, sunyi dan misterius.
“limaaa..enammm..tujuuhh..”
Kembali suara parau itu terdengar dari bibir pucatnya, sementara malam semakin larut dingin dan sepi, detak-detak jarum jam dinding seakan tak mengusik sosok tubuh kurus yang masih duduk  termanggu dibalik jendela, sosok ini terus mengarahkan matanya yang sayu keluar jendela, kembali dari bibir keringnya terdengar mulai menghitung angka-angka.

ooooOoooo

“selamat pagi neng dara, apa kabar pagi ini..”
Sapa mang waluyo seorang juru  parkir komplek  berusia tujuh puluh tahun, walau usianya terbilang sepuh mang waluyo ini selalu memakai pakaian nyentrik ala anak muda metal dengan rambut putinnya yang selalu disasak keatas.
Tapi anehnya sapaan ramah itu tidak pernah ada tanggapan dari sosok gadis ini, gadis itu tetap diam dikursinya sambil menghadap keluar jendela kamarnya..
“satuuu…duuuaaa…tiiggaa…emmpatt..”
Kembali  dari bibir mungil gadis ini meluncur sebuah hitungan deret angka-angka, sedangkan mang waluyo dengan senyum-senyum simpul kembali melanjutkan perjalanannya, menggoes sepeda kumbang menuju tempatnya bekerja disebuah pasar induk sebagai juru parkir.

ooooOoooo

     Suasana ruang tengah yang luas itu seakan sempit, mungkin begitu yang dirasakan sepasang suami –istri yang tengah duduk disofa sambil melihat tayangan televisi, sesekali dari sudut mata wanita paruh baya ini mengalir butiran-butiran bening meluncur deras kearah pipinya, sementara sang suami dengan penuh kasih seka butiran-butiran air mata itu.
“sudahlah bu, jangan menangis terus, nanti ibu sakit..”
“tapi pak, bagaimana dengan anak kita dara..kasihan dia, semuda itu harus menanggung beban yang berat, kalau boleh berandai-andai biarlah ibu saja yang menanggungnya..”
“bapak tahu bu, tapi kita sudah berupaya semaksimal mungkin..kita serahkan saja semuaya pada penanganan dokter dan kehendak takdir..”
“apa dokter itu tidak salah mendiagnosis penyakit anak kita pak..”
“bapak juga kurang tahu bu..tapi dari hasil tes darah dan penunjang lainnya, rasanya sudah menjawab semuanya bahwa anak kita dara menderita leukemia atau kangker darah..”
“berarti umur anak kita tinggal seminggu lagi, pak..kasihan dia..”
“bu, itu baru vonis dokter, ajal ditangan gusti Allah..”
“yah, bapak benar..”

ooooOoooo

“neng  dara selamat, pagii..apa kabarnya…”
Sapaan hangat mang waluyo sang juru parkir nyentrik selalu menghiasi suasana pagi dari aktifitas gadis tujuh belas tahun ini, tapi seperti biasa tak ada tanggapan, reaksi, ataupun apapun yang bisa mengalihkan pandangan sayu dara yang selalu menerawang lurus kedepan .
“satuuu..duuuaaa..tigggaaa…emmpattt..”
Seperti biasa meluncur hitungan..hitungan dari bibir gadis ini, awalnya mang waluyo tidak begitu perduli dengan sikap gadis tetangganya ini, namun lambat laun rasa penasarannya tak bisa dibendung lagi, hingga pada satu kesempatan sang juru parkir nyentrik ini bertemu dengan bi.yuli pembantu yang bekerja dirumah dara dipasar, dan dari bi yuli lah satu misteri terungkap.
“bi, ane heran, setiap hari neng dara selalu menghitung..satu sampai sekian, sebenarnya apa yang di hitungnya bi..”
Awalnya bi yuli, Cuma diam agaknya perempuan paruh baya ini menyimpan sesuatu yang dia sendiri yang mengetahui dan tidak mau membaginya pada siapapun, namun karena didesak terus oleh mang waluyo akhirnya bi yuli mau berbagi cerita.
“kuntum-kuntum daun melati ..”ujar bi.yuli bergetar
“kuntum daun melati, maksud bi yuli..”
“neng dara menderita leukemia, dan dokter telah memvonis umurnya Cuma bertahan hingga seminggu..”
“lantas apa hubungannya dengan kuntum daun melati..”
“neng dara tengah menghitung hari kematiannya sendiri…”
“ahh..bi.yuli ini..membuat ane tambah bingung..”
“didepan jendela neng dara tumbuh rumpun melati yang menempel ditembok, setiap hari kuntum melati yang jatuh dan berguguran ditanah selalu dia hitung , dia beranggapan ketika kuntum daun melati terakhir gugur, maka saat itulah dirinya juga akan meninggal..”
“ah..sudah sedemikian putus asanya neng dara..” gumam lirih mang waluyo.

ooooOoooo

Enam hari kemudian
“sattuuu..duuuaaa..tiggaaa..emmpatt..”
“neng dara makan dulu, dari kemarin makanan yang bibi buat tak disentuh sedikitpun..nanti neng dara sakit..”
“saya sakit bii, dan sebentar lagi meninggal seperti gugurnya kuntum daun melati yang tinggal satu itu..” gumam gadis ini sambil menunjuk kedepan.
Bi yuli tersentak, diarahkan pandangan matanya ketembok dimana rumpun melati berada, dan benar saja..disana Cuma tersisa satu kuntum daun melati ditangkainya.
“bi..jika kuntum itu jatuh..saya juga akan meninggal bi..begitukan bi..”
“neng dara jangan bilang begitu, bibi sedih mendengarnya..”

Hari ke Tujuh
     Sinar mentari pagi semburat menembus kisi-kisi jendela dara, pagi itu seperti biasa setelah mandi dan sarpan gadis manis ini membuka jendelanya, sinar mentari menerpa wajahnya yang imut sedang hembusan angin segar mengurai rambutnya yang panjang sebahu, diarahkan mataya kerumpun bunga melati yang menempel didinding gerbang rumahnya, disana satu kuntum daun melati masih tersisa. 

     Dara terus mengawasi kuntum daun terakhir yang masih ditangkainya itu, hari merambat siang dara terus melihat kuntum terakhir dari daun melati, karena lealah akhirnya gadis ini tertidur dikursi rotannya, dan ketika bangun disore harinya kuntum terakhir dari bunga melati itu masih ada ditangkainya.
Hidayah Allah akan datang dari jalan manapun, begitupun dengan gadis ini, perlahan semangat hidupnya mulai bangkit , berjam-jam lamanya menanti gugurnya kuntum daun melati yang sepertinya enggan meninggalkan tangkainya.
“kuntum daun melati itu saja bisa bertahan dan tegar walau tinggal satu, mengapa saya tidak..”
Begitu kira-kira yang ada dipikiran gadis ini
“sudah hari ketujuh, namun saya masih bisa menatap mentari..”gumamnya.
Gadis ini terus merenung, tiba-tiba dia merasakan sesuatu yang kurang dipagi ini..apa ya..fikirnya..
Oh..ya..sapaan hangat dari mang waluyo, juru parkir nyentrik itu pagi ini sampai siang begini belum Nampak wajahnya yang lucu itu dan juga suara deritan sepeda kumbangnya, kemana ya mang waluyo
Entah apa yang dipikirkan dara, namun hari ini dia sangat kangen sama mang waluyo
“bi  yuli..dari mana..”
Teriak dara mana kala dilihatnya bi yuli muncul dari mulut gang
“melayat neng..”
“siapa yang meninggal bi..”
“mang waluyo neng, semalam dia ditabrak truk ketika selesai markir..”
Dengan segera dara berlari keluar rumahnya, dan langsung menuju rumah mang waluyo diikuti bi yuli, disana sudah berkumpul banyak warga didepan rumah juru parkir nyentrik ini, dibawah sebuah pohon mangga dara menemukan sebuah tangga dan sekaleng cat beserta kuasnya.
“apa yang terjadi bi..”
“semalaman, mang waluyo melukis kuntum daun melati ditembok neng dara, mang waluyo tahu kuntum terakhir pasti jatuh, makanya demi menyemangati neng dara dia melukis kuntum melati itu, tapi sayang ketika dia mau menyeberang sebuah truk menabraknya..”
“mang waluyoo..”

SELESAI
Salam Bhumi Deres Mili
Penulis

Kamis, 04 Agustus 2011

Tak sepahit Si Pahit Lidah



Swarna bhumi, awal abad  XXI

     Dari lamping bukit terjal ngarai sihanok sosok lelaki berpakaian hitam ini hentikan langkahnya, hembusan angin timur sesaat menyibak rambutnya yang gondrong sebahu seraut wajah tegas dengan sorot mata setajam sembilu pandang sekeliling ngarai, pandangan matanya lalu membentur sebuah air terjun disebelah utara dan dengan sekali hentakan kaki sosok berpakaian hitam ini telah sampai sepuluh langkah dihadapan air terjun.
“inyiek sam mato ampat, harap unjukan diri awak..”
Gema suara orang ini begitu dahsyat,  memecah gemuruh air terjun dan merontokan daun perdu yang bergayut didinding tebing, sipapun dia sudah dipastikan memiliki tingkat tenaga inti sempurna dalam dirinya, hanya gemuruh air terjun dan kicauan unggas yang terdengar,  orang berpakaian hitam ini tampak gusar, sekali lagi dia berteriak lantang  hingga batu kerikil disekitarnya terangkat beberapa senti dan guyuran air terjun terhenti beberapa menit lalu kembali mengguyur bebatuan gunung dibawahnya.
 “hahahahah, tenaga inti waang bukan gurauan anak kecik..”
Sebuah suara terdengar bergema disesantro ngarai sihanok, disusul sekelebatan bayangan keluar dari dalam derasnya guyuran air terjun, sosok ini tampak jungkir balik diudara kejap berikutnya telah berdiri tiga langkah dihadapan orang berpakaian hitam.
“inyiek,  ambo datang nak jemput dirul anak ambo..”
“hahah..tak usah gusar dia baik-baik sajo..”
“apo sebenarnyo maksud inyiek culik dirut anak ambo..”
“bardat, si pahit lidah..sekian tahun menarik diri dari dunia pesilatan dan insaf setelah  ribuan orang tak berdosa karena kutuk dan sumpah serapah waang mereka menjadi batu, dan samsaro masa depannyo karena ucapan waang,  enak betul waang insaf bagitu sajo..”
“lalu apo mau inyiek..”
“asal waang tahu, salah satu korban waang adalah mamak ambo..”
“jadi inyiek sengajo menculik dirul,  untuk tujuan iko..”
“tepat, hari ini lidah waang yang pahit akan ambo musnahkan..”
“ambo tak mencari lantai tarjungkat, tapi tantangan inyiek pantang dibuat surut..”
Duel kedua  pendekar ini begitu seru, jurus demi jurus berlalu dengan cepat hingga satu ketika sebuah bamboo kuning entah datang dari mana dengan kecepatan yang sulit dihindari dengan telak menancap dimulut bardat, sosok lelaki ini terhuyung kebelakang  dan tercebur kedalam air terjun dengan tubuh menempel didinding air terjun bersama  potongan bamboo kuning masih tertancap dimulut bardat dan. Berakhirlah riwayat bardat sipahit lidah.

ooooOoooo

Ngarai Sihanok, Masa sekarang

     Rembang petang melingkupi wilayah lembah yang menghijau ini, kabut tipis perlahan meluncur dari lereng pegunungan singgalang sebelah barat dan lereng merapi dari sebelah timur
Tak jauh dari lamping bukit disebelah utara air terjun lima orang pemuda dengan cekatan mendirikan sebuah tenda, dan tak lama tenda itu berdiri dengan kokohnya.
“pardede, mau kemana waang..”
“aden nak mandi diair terjun, mau iko kah awak-awak ini..”
“ah, kau sajolah dulu..aden nak buat api unggun..”
Pemuda berperawakan jangkung dengan alis yang tebal ini segera melangkahkan kakinya mendekati air terjun, dan tanpa membuka bajunya pardede ceburkan dirinya kedalam sungai kecil berbatuan dibawah air terjun, entah berapa lama pardede berenang disungai berbatu sebesar kerbau ini, sudut matanya tiba-tiba melihat sesuatu menyembul diantara dinding air terjun, dengan penasaran paedede dekati , setelah diamati ternyata sesuatu yang menyembul didinding air terjun itu adalah seruas bamboo kuning yang menancap dan anehnya dari ujung bamboo itu mengalir dengan deras air yang sangat jernih.
“kata orang air dari pegunungan bisa langsung diminum, kebetulan aden haus…”
Dengan tanpa ragu-ragu pardede teguk air yang mengalir dari ruas bamboo kuning tersebut
 “fffuuuuttt..kenapa rasanya pahit ya..”  dengan bersungut-sungut pardede usap bibirnya beberapa kali, namun satu teguk air dari bamboo kuning telah masuk kedalam tenggorokannya setelah itu pardede kembali menemui teman-temannya ditenda dan menceritakan tentang keberadaan ruas bamboo kuning yang mengeluarkan air pahit.
Keesokan harinya pardede dan keempat kawannya mendatangi air terjun
“dimana waang melihat ruas bamboo itu..”
Dengan segera pardede tunjuk salah satu dinding air terjun yang ada ruas bamboo kuningnya, kelimanya lantas mengerumuni ruas bamboo kuning yang memancarkan air yang sangat jernih itu, satu persatu kawan-kawan pardede meneguk  air yang memancar dari ruas bamboo kuning
 “awak ni gimana, air segar nan sejuk dibilang pahit..” gumam keempat temannya pada pardede
“benar aden nak bohong, kemarin rasanya pahit sekali..”
“coba waang nak rasakan sendiri..”
Dengan ragu pardede tangkupkan kedua tangannya menampung air yang keluar dari ruas bamboo kuning, ketika di teguk …air itu terasa tawar dingin dan menyegarkan.
“aneh..kemarin kenapa pahit ya..”
“apa kata aden, waang mengada-ada sajo..”
“ah..dasar waang –waang ni baruak gadang, semuanyo..” umpat pardede
“Deeeeessssssssssss..!!”
Mendadak segumpal kabut tebal melingkupi tempat tersebut, dan ketika kabut perlahan sirna keempat kawannya telah raib dan yang berada dihadapan pardede sekarang adalah empat ekor baruak gadang atau kera besar tak berekor.
     Pardede tersentak dari lamunannya, begitu sebuah tangan lembut menyentuh pundaknya, wajahnya yang tampak tegang berangsur surut ketika dihadapannya seraut wajah ayu tersenyum manis  pada dirinya.
 “uda sedang melamun apa..”
“ah, tak ado yang uda lamunin dek sari..”
“mulut uda bilang bagitu, manun mata uda tak bisa bohong..”
Pemuda jangkung dengan alis tebal ini sesaat tarik napas dalam-dalam , peristiwa sepuluh tahun lalu ketika dirinya masih kuliah dan bersama keempat kawannya kemping dingarai sihanok kembali berputar dengan jelas dibenaknya, perlahan  kisah sepuluh tahun lampau itu diceritakan kembali pada sari yang kini menjadi istrinya.
“begitulah ceritanya dek sari, sampai sekarang uda tidak mengerti kenapa setiap sumpah serapah yang uda ucapkan selalu nyata dan merugikan orang lain, setiap perusahaan yang mempekerjakan uda selalu bangkrut, ketika uda menyumpahi direkturnya yang menurut uda tidak adil..apa salah  uda hingga menanggung azab seperti ini..”
Sari, sang istri tampak terdiam, direngkuhnya tubuh pardede suaminya dalam pelukannya, wanita anggun ini tak menyangka kisah perjalanan sang suami begitu sulit dipahami dengan nalar namun kenyataan memang  terjadi seperti itu.
 “dek sari, yang lebih menyakitkan justru terjadi pada sutan alit keponakan uda..”
“maksud uda sutan alit yang sekarang bekerja diluar negri..”
“benar itu semua terjadi karena sumpah serapah uda..”
“maksud uda..”
“ketika kito baru setahun menikah, uda memelihara beberapo ikan diempang..”
“yaa..adek, ingat..lalau hubungannya dengan sutan alit..”
“satu ketika bocah itu bersama kawan-kawannya bermain dengan ikan yang menyebabkan banyak ikan uda yang mati, uda marah..uda sumpahi dia agar menjadi pembantu selamanya diluar negri, dan sumpah serapah itu terjadi..entah sekarang nasib sutan alit bagaimana di luar negri..”
 “astagfirullah..uda, jadi begitu ceritanyoo..”
“benar dek, dan sekarang bekas direktur yang perusahaannya bangkrut gara-gara sumpah serapah uda, tengah berupaya menjebloskan uda kepenjara..”

ooooOoooo

 Sebulan kemudian

     Seorang sipir penjara buka jeruji-jeruji besi itu dengan kunci yang ada ditangannya
“saudara pardede, hari ini anda bebas silahkan bereskan barang-barang anda..”
“pak sipir, siapa yang membebaskan saya..”
“anda lihat saja diruang tunggu..”
Dengan tergesa pardede langkahkan kakinya meninggalkan sel yang selama ini menjadi tempat tinggalnya, diruang tunggu tampak istrinya sari, kakaknya Mario dan istrinya, ayah dan ibunya serta seorang anak muda gagah berumur duapuluh lima tahun tampak tersenyum kearahnya.
“sutan alit..benarkah waang sutan alit keponakan ambo..”
“mamak pardede..apa kabar..benar ambo sutan alit..”
Dengan segera dipeluknya anak muda ini dengan erat
“sutan..maapkan mamak, karena mamak sutan menderita dirantau..”
“sudahlah mamak, justru ambo berterimakasih sekali pada mamak..”
“maksud sutan..”
“ucapan mamak  waktu lampau, memacu semangat ambo untuk berjuang dan menjadi lebih baik agar ambo tidak benar-benar menjadi pembantu seperti sumpah serapah mamak, akhirnya gusti Allah mengabulkan cita-cita ambo menjadi seorang pengacara dan sekarang bisa membalas budi dengan membebaskan mamak dari penjara..”
 “Subbahan Allah..tapi mamak benar-benar menyesal..sekali lagi terimakasih sutan alit..”
Pemuda gagah ini hanya mengangguk sambil tersenyum,
“ada sesuatu yang musti waang ketahui..” ucap datuk Marajo ayah dari pardede
“apakah itu ayah..”
“kisah ini diceritakan oleh eyang buyutmu, eyang buyutmu memilki ayah bernama dirul anak dari bardat yang dizamannya dikenal sebagai pendeka gadang dengan julukan sipahit lidah, ketika sipahit lidah tewas ditangan musuhnya dengan diam-diam dirul anaknya pada satu malam meloloskan diri dari tawanan sam mato ampat yang menculiknya, dirul menyelamatkan jenajah ayahnya, namun bamboo kuning yang menancap dimulut bardat sipahit lidah menancap dengan erat tidak bisa dicabut,  dan rupanya setelah puluhan dekade ruas bamboo kuning itu masih menyimpan aura mistis dari sipahit lidah,  maka itulah..kenapa waang memiliki ucapan tajam dan lidah yang pahit setelah meminum air dari pancuran ruas bamboo kuning yang menancap dibatu sepuluh tahun yang lampau ketika waang kemping di ngarai sihanok..”
Datuk Marajo hisap rokoknya yang hampir padam
“lalu apa yang musti waang lakukan agar  lidah saya tidak merugikan orang lain ayah..”
“pergilah kembali kengarai sihanok, kirim basmallah ditujukan pada bardat sipahit lidah, insya Allah lidahmu tak sepahit sipahit lidah lagi..”
“baik ayah, besok waang akan pergi ke ngarai sihanok..”

Selesai
Salam Bhumi Deres Mili
 Penulis



Senin, 01 Agustus 2011

Sisi Kalbu Nan Kelam


     Ratri pandang dengan tajam orang tua buta yang ada didepanya sementara tangan kanan sang dara ini siap menrik platuk pistol yang ada digenggamannya.
“nduk, tunggu apa meneh, balaskan dendam ayahmu..”
Jari-jari ratri tampak gemetar, perasaannya berkecamuk antara menjalankan tugas pimpinannya, atau mengumbar amarahnya untuk menuntut balas pada laki-laki tua yang telah membunuh ayahnya ini.
“kenapa paman tega melakukannya, bukankah ayah ratri adalah kakak paman sendiri..”
Lelaki tua buta ini Cuma tersenyum pahit, sejenak hembusan napasnya terdengar berat
“sebagai seorang polisi yang baik, kamu terikat dengan tugas sedang sebagai anak yang berbakti kamupun berkewajiban melaksanakan amanat terakhir mendiang ayahmu..”
“DOOOORR..!!”
Letusan senjata api menyalak merobek kabut dini hari, suasana subuh kembali hening, hembusan sang bayu dari lereng gede menyibak daun-daun jati yang berjajar menuruni lembah, hampa sunyi dan sepi seakan tak pernah terjadi apapun sebelumnya ditempat teresebut.
                                          ooooOoooo

     Hembusan angin utara menyibak rambut panjang gadis kecil yang tengah digandeng ibunya ini, sementara tangan mungilnya yang lain tergenggam setangkai bunga anggrek bulan berwarna jingga, tak lama sosok keduanya sampai disatu tempat pemakaman, setelah melewati beberapa nisan disalah satu sudut taman pemakaman terlindung pohon kamboja langkah keduanya terhenti
“bunda anggreknya indah ya..”
Perempuan muda ini Cuma tesenyum masgul, setelah mengelus rambut putrinya dengan kasih dengan segera tubuhnya beresimpuh dihadapan makam, sesaat matanya terpejam, setelah selesai mendoakan sang ahli kubur, ditaburkannya beberapa bunga yang sudah dipersiapkannya dari rumah.
“ ratri..taruh anggrek itu diatas makam ayahmu..”
Gadis kecil tujuh tahun ini kemudian letakan tangkai anggrek bulan jingga diatas makam ayahnya.
“bunda..katanya mau ke tempat ayah, tapi ko ayah gak mau nemuin ratri..ayah marah ya ama ratri..”
Wanita mua ini tampak tercekat, sesaat dipandanginya putri kecilnya ini dengan mata yang berkaca-kaca, dipeluknya tubuh mungil putrinya dengan erat tak lama isaknya terdengar
“ayah sangat menyayangimu ratri, gak mungkin marah sama ratri..”
“tapi kenapa ayah, tidak menemui ratri bundaa..
“ayahmu sedang ada tugas..”
Percakapan ibu dan putrinya ini terhenti dengan datangnya sosok lain, seorang laki-laki separuh baya dengan setelan jas hitam dan dikawal beberapa orang yang sepertinya bodyguard
 “hera, aku turut berduka dengan kepergian bang radit, negri ini kehilangan salah satu ilmuwan terbaiknya..”
“terimakasih bang anggara..”
“hera, bang radit adalah kakaku satu-satunya, ketika masih hidup bang radit pernah berpesan bila terjadi sesuatu pada dirinya, semua kebutuhan ratri begitupun pendidikan dan masa depannya akan menjadi tanggung jawabku..bagaimana hera..”
“kalau itu amanat dari mendiang ayahnya ratri, saya menurut saja..tapi apa bang anggara sudah mengetahui pemyebab dari kematian bang radit..”
Sesaat leleki berjas hitam ini tarik napas dalam
“belum ada kabar dari pihak berwajib hera..”
Perempuan muda hanya mampu memeluk ratri putrid kecilnya, sementara rembang petang mulai melingkupi wilayah pekuburan, rinai hujan mulai turun membasahi bumi.

                                        ooooOoooo

Duapuluh lima tahun kemudian
     Dara berkulit hitam manis ini tampak kepalkan tinjunya dengan geram, semenara dua puluh orang anak buahnya dengan seragam yang lusuh terlihat menolong beberapa rekannya yang terluka.
“inspektur ratri, lapor..beberapa anak buah kita terluka, misi penyergapan rupanya telah bocor hingga mereka mempersiapkan serangan dan jebakan..”
“pasti ada penghianat..”
“menurut inspektur siapa..”
“sulit diduga, baiklah kita kembali ke mako..”
“siap perintah..”
     Villa dipuncak bukit itu begitu asri, dimana sejauh mata memandang hamparan perkebunan teh menghijau bagai permadani alam yang tak pernah usang tergerus zaman, ditambah hawa yang sejuk serta kabut tipis yang senantiasa melingkupi seluruh kawasan menciptakan aura alam yang exotic, tapi tidak begitu dangan yang sedang dirasakan sosok dara hitam manis ini, sebuah gemuruh bhatin sedang berkecamuk diotak dan perasaannya hingga kehadiran satu sosok lain mengejutkan sang dara.
 “sepagi ini, apa yang mengganggu pikiran mu ratri..”
Sesaat dara ayu ini terkejut, tapi senyium manisnya mengembang ketika tahu siapa yang menyapanya.
“bundaa..sudah lama disini..”
“selama dirimu menjelajah alam hayalmu..”
“bunda, bisa saja..”
“paman mu kemana..”
“sudah seminggu ini paman ada urusan diluar kota..”
“ratri, kamu harus patuh pada pamanmu, karena dia kamu sukses mencapai cita-citamu menjadi abdi Negara, pembela kebenaran..”
“saya mengerti bunda, namun akhir-akhir ini ada sesuatu yang mengganjal perasaan saya..”
“apa itu ratri, cerita dong sama bundamu ini..”
“tentang misteri kematian ayah..
Perempuan separuh baya ini tampak tercekat, kejadian duapuluh tahun yang lalu seakan dihadirkan kembali dibenaknya, perlahan dari dalam tas sebuah benda dikeluarkan dan diserahkan pada ratri putrinya.
“kotak music..maksud bunda apa..”
“ratri dengar, mendiang ayahmu adalah seorang ilmuwan setaraf professor, tiga hari sebelum kejadian tewasnya , kotak music ini diserahkan ayah pada bunda, dan sempat berpesan agar menyerahkannya padamu ketika usiamu duapuluh lima tahun..”
“terus apa maksudnya bunda..”
“bunda juga kurang tahu, tapi mungkin kotak music ini dapat membuka tabir misteri kematian ayahmu..”

                                            ooooOoooo

     Gemuruh hujan badai diluar gedung yang tampak megah itu tak menyulutkan semangat seorang lelaki gagah berjubah putih yang sedang konsentrasi dengan mikroskop micron, sesekali tampak bergumam sendiri, dilain saat terlihat kerutkan dahinya, tanpa disadari lelaki gagah yang ternyata seorang ilmuwan satu sosok lain tampak berdiri dibelakangnya.
“bang radit, bagaimana kabarmu..”
Lelaki gagah berjubah putih ini hentikan penelitiannya, dipandangnya sesaat orang yang baru datang dan menegurnya ini.
“anggara, mau apa kau datang lagi kemari, apa pernyataan ku tempo hari kurang jelas..”
“ayolah bang, kita ini saudara..kalau abang ikut..hidup kita akan makmur..”
“merusak masa depan anak bangsa dengan barang haram itu..”
“dipasar gelap harganya akan melambung, pikirkan masa depan keluargamu, terutama ratri anakmu..”
“dengar anggara apapun yang terjadi jangan libatkan keluargaku, terutama ratri anakku..”
“ratrikan keponakanku juga bang..”
“kalau tahu pamannya gembong mafia narkoba, entah apa pandangannya kelak pada dirimu.”
Anggara tampak menggeram marah, setelah mencaci maki tanpa arti yang jelas lelaki ini tinggalkan gedung mewah yang ternyata sebuah laboratorium dengan mobilnya, sepeninggal anggara lelaki gagah berjubah putih ini ambil sesuatu yang terselip dibawah meja kerjanya yang kalau diamati mirip seperti sebuah kotak music, dengan cepat ilmuwan ini selipkan sebuah cip pada salah satu sudut didalam kotak music tersebut.
                                                ooooOoooo
     Ratri genggam cip yang baru saja disaksikannya disebuah monitor, wajah ayunya tampak kelam membesi, keesokan harinya dengan izin dari komandannya, gadis ini langsung pimpin kembali tugas penyergapan terhadap gembong narkoba nomer wahid yang ternyata pamannya sendiri sekaligus menuntut balas akan kematian ayahnya, disebuah daerah terpencil akhirnya penyergapan dimulai, dalam baku tembak anggara pamannya sekaligus gembong narakoba terluka dibagian matanya hingga buta, namun dengan lihai gembong narkoba ini bisa melarikan diri.
     Sebulan kemudian tanpa sengaja ratri menemukan tempat persembunyian pamannya, disebuah daerah  pegunungan lereng gede, tanpa membawa anak buahnya inspektur ayu ini akhirnya dapat berhadapan dengan pamannya, sebuah pistol ditodongkan dihadapan anggara yang sekarang buta kedua matanya.
“nduk..tunggu apa meneh, balaskan dendam ayahmu..”
Jari-jari ratri tampak gemetar, perasaannya berkecamuk antara menjalankan tugas pimpinannya, atau mengumbar amarahnya untuk menuntut balas pada laki-laki tua yang telah membunuh ayahnya ini.
“kenapa paman tega melakukannya, bukankah ayah ratri adalah kakak paman sendiri..”
Lelaki tua buta ini Cuma tersenyum pahit, sejenak hembusan napasnya terdengar berat
“sebagai seorang polisi yang baik, kamu terikat dengan tugas sedang sebagai anak yang berbakti kamupun berkewajiban melaksanakan amanat terakhir mendiang ayahmu..”
“DOOOORR..!!”
Suara pistol terdengar memekakan telinga, tak lama dari dalam bangunan ratri melangkah keluar dengan cepat dan tanpa berpaling tinggalkan tempat tersebut, tak lama dari dalam rumah satu sosok lelaki dengan borgol dikedua tangannya yang telah rusak dan terlepas ditanah berjalan terseok-seok dengan tongkatnya  menuju kearah barat berlawanan arah dengan ratri yang kini sosoknya telah sampai dilamping bukit sebelah timur.

Selesai

Salam Bhumi Deres Mili
penulis

Lisensi

Lisensi Creative Commons
BHUMI DERES MILI by BHUMI DERES MILI is licensed under a Creative Commons Atribusi 3.0 Unported License.
Berdasarkan karya di KANG KUSYOTO, KYT.
Permissions beyond the scope of this license may be available at http//:www.bhumideresmili.blogspot.com.

Total Tayangan Halaman

About

Pages

Download

Powered By Blogger

Search Box

Popular Posts

Followers