Senja temaram melingkupi kawasan lembah nan subur itu, disebelah timur meremang dlm kabut puncak dari sebuah gunung yg selalu dilingkupi warna keputihan seperti perak jika tertimpa sang surya dipagi hari jika kita telaah lebih detail lapisan-lapisan berkilat itu ternyata gumpalan salju tebal yg tidak pernah mencair walau musim berubah silih berganti, puncak gunung yg tersaput gumpalan salju tebal itu tidak lain dari puncak jaya wijaya sebuah pegunungn tertinggi dipulau kasuwari dg lembahnya yg terkenal subuh lembah baliem. Dari sebuah lereng perbukitan yg terjal satu sosok tubuh kurus dg sebat melesat dari satu gugusan karang ke lamping bukit disebuah bibir jurang langkahnya terhenti.
"kalau tidak salah inilah tempatnya.."
orang itu lantas pandang jurang menganga dihadapannya, jurang itu sangat curam dan dalam hawa sedingin es terbersit keluar dari dasar jurang menerpa wajah yg ternyata seorang pemuda berperawakan kerempeng, sekilas matanya yg tajam membentur akar-akar yang berseliweran ditepi jurang.
"mungkin dg cara itu, aku bisa mencapai dasar jurang ini.." gumam sang pemuda kerempeng.
dengan perlahan dituruninya jurang yang membersitkan hawa dingin membekukan itu selangkah demi selangkah merambati akar-akar yg menjulai kebawah, semakin kebawah hawa dingin tambah menggila rahang pemuda kerempeng itu sampai bergemeletuk menahan hawa dingin yg semakin menjadi, kabut tebal tampak menggantung dipertengahan jurang sekitar lima depa lagi tubuh pemuda kurus itu akan tembus melewati gumpalan kabut, tak terduga sama sekali sepasang kaki pemuda yang tengah meniti akar seperti ada kekuatan besar menarik dari dasar jurang tak ayal pegangannya pada akar terlepas dan tubuhnya tampak meluncur deras kedasar jurang yang gelap, jerit kengerian keluar dari mulut pemuda itu jauh dan bergema menandakan betapa dalamnya jurang tsb.
sementara nun jauh dikedalaman jurang disebuah gua pualam putih, satu sosok berselempang kain putih tengah duduk terpekur mengheningkam cipta rasa dan karsanya, sesaat kedua matanya yg terpejam tampak membuka dan ketika dongakan kepalanya keatas, tangan kanannya tampak diangsurkan keudara lalu tarik kembali didepan dada, saat itulah satu sosok pemuda kerempeng tampak melayang kebawah, sekali lagi orang tua berselempang kain putih putar kedua tangannya keudara hingga sosok pemuda kerempeng akhirnya dapat mendarat dg ringan dihadapannya.
"bajul saketi, ada urusan apa kamu menemuiku..mana dhanawa gandrung pimpinanmu.."
"maap resi darupada, ketua telah tewas dinegeri orang.."
orang tua berselempang kain putih itu tampak terkejut alisnya yang menjuntai mencuat keatas.
"bajul saketi siapa orang yang sudah membunuh anakku itu.."
"seorang pemuda dari tanah jawadwipa, bernama wiralodra, resi.."
"aku dengar dhanawa gandrung memiliki ajian telapak salju jaya wijaya mengapa sampai kalah oleh pemuda pulau jawa itu.."
"ceritanya panjang resi.."
"lalu dimana kitab pusaka inti salju abadi .."
"hancur bersama tubuh dhanawa gandrung, tapi saya dengar pemuda bernama wiralodra itu telah sampai dipulau kasuwari ini."
"untuk apa dia datang kepulau ini."
"menemui wong agung manok wari, menyerahkan jasad dari dhanawa gandrung.."
"kenapa pada dia, bukan pada ku sebagai ayahnya.."
"pemuda itu hanya tahu wong agung sebagai guru dari dhanawa gandrung.."
"baiklah kita cegat pemuda jawa itu dilembah baliem, rebut jasad anakku sebelum diserahkan pada wong agung manok wari di puncak jaya wijaya.."
"baik resi drupada sekarang juga aku akan berangkat ke lembah baliem.."
bajul saketi rangkapkan kedua tangan di dada, tapi ketika dia bermaksud naik keatas kebingungan melanda jiwanya.
"kenapa bajul saketi.."
"anu.. resi, bagaimana caranya bisa keatas.."
"kenapa bingung." sekali tendang tubuh kurus bajul saketi tampak melayang keatas melewati gumpalan awan yang menaungi jurang.
oo0oo
Pada episode: Dilema katresnan sang Akuwu dikisahkan bagaimana tubuh tinggi besar dhanawa gandrung yang disusupi roh rd.dhuryudana satu dari beberapa tokoh dari alam pewayangan, suatu alam yg terpaut jarak 1500 th. Sm. Meledak hancur berkeping-keping menjadi butiran salju akibat titik balik dari ajian lembu sekilan yg diterapkan rd. Wiralodra, akuwu padukuhan cimanuk. jasad dhanawa gandrung oleh rd. Wiralodra disimpan disatu wadah yg dikemudian hari akan diserahkan pada guru dari dhanawa gandrung yakni wong agung manok wari yg bermukim di puncak jaya wijaya, kepulauan kasuwari.(mengenai petualangan rd. Wiralodra dialam pewayangan, bisa dibaca pd. Eps: mustika lembah cimanuk, pen).
Bukit cadas gempal meremang dalam kebisuan, satu tahun telah lewat namun sosok ramping berbaju jingga ini selalu datang ketempat yg sama untuk satu tujuan yg entah sampai kapan terwujud, sementara itu dari atas lamping bukit sosok renta berjubah hitam memandangnya dg hati masgul.
"niluh seroja, kasihan anak ini..rd. Puronegoro apa sebenarnya yang terjadi, aku yakin jurus tapak cecak telah dikuasai, delta sungai kapetakan sudah ditinggalkannya..".
Siapakah mereka?
Pada awal kisah Bhumi deres mili diceritakan karena jasa niluh seroja rd. Puronegoro anak tumenggung seda krapyak lolos dari jebakan maut yang direncanakan wuluh balang salah satu warok hutan alas sinang perbukitan loyang yang merupakan ayah dari niluh seroja sendiri, dengan jasa niluh seroja pula resi maruta mandra guru dari wuluh balang menurunkan kedigjayaan jurus tapak cecak pada rd. Puronegoro yang seharusnya sang resi sakti ini membunuh rd.puronegoro sesuai surat yang dibuat wuluh balang yang isinya diganti oleh niluh seroja. (utk lebih lengkapnya, silahkan pembaca lihat eps.1: pangeran puronegoro, pen).
Mentari sudah tepat diubun-ubun ketika sosok ramping baju jingga niluh seroja balikan badan tak dinyana satu suara yang sangat dirindukan menegurnya.
"kakang puronegoro, benarkah ini kau.."
orang tua separuh baya tampak tercekat.
" nduk, apa matamu telah buta hingga tak mengenali bopomu lagi.."
niluh seroja tersentak dari lamunannya, rupanya rasa kangen tak terhingga pada rd.puronegoro membuat gadis ini larut dalam hayalan.
"bopo.."
"benar aku bopomu nduk, apa yg terjadi dg dirimu..dimana resi maruta mandra.."
belum kering ucapan balang wuluh sesosok tubuh berjubah hitam telah berdiri diantara keduanya.
"aku disini wuluh.."
mengetahui siapa yg datang balang wuluh rangkapkan kedua telapak tangan didada
"guru terimalah salam bakti muridmu.."
resi maruta mandra cuma tersenyum simpul.
"kau datang untuk menyambangiku atau mau menemui anak dan menantumu.."
maruta mandra kerutkan keningnya
"menantu.., maksud guru apa.."
"bukankah pemuda yang bernama puronegoro itu suami dari niluh seroja anakmu, setahun yang lalu kau mengirim surat dan meminta padaku agar pemuda itu diberi kedigjayaan dahsyat.." wuluh balang tercekat dipandangnya niluh seroja dg tajam.
"ternyata apa yg dikatakan rd.menjangan wulung benar adanya.." membatin balang wuluh dlm hati.
"nduk, jadi semua ini ulahmu.." ujar wuluh balang pelan
"bopo saya..saya.."
niluh seroja tidak bisa meneruskan kata-katanya isak tangisnya mulai terdengar.
"sebenarnya apa yang terjadi dg kalian.."
sang resi sakti ini tampak kebingungan, dengan singkat wuluh balang ceritakan apa yang sebenarnya terjadi, mendengar semua itu resi maruta mandra cuma bisa diam sesekali hembusan napasnya terdengar berat.
"semuanya sudah jadi kehendak sang hyang widhi wasya..cinta kasih mengalahkan segalanya, aku tidak menyesal telah menurunkan sebagian kedigjayaan pada anak itu, wuluh balang aku tidak melarang atau mendukungmu untuk melakukan hal yg kau yakini..".
"baik guru, saya akan kembali kehutan alas sinang perbukitan loyang barisan pinangeran kacerbonan sudah mulai bergerak, dan untukmu nduk..lakukanlah sesuai dengan keyakinanmu.."
sekali jejakan kaki ketanah tubuh wuluh balang tampak melesat sebat lalu hilang diantara rimbunnya belukar bukit cadas gempal.
------¤------
Gelombang ombak laut jawa di awal bulan kedelapan begitu ganas menggelora, menghempaskan apa saja yg berada diatasnya, hampir sebagian para nelayan dibulan itu menghentikan aktivitasnya melaut mencari ikan, disatu garis cakrawala tampak sebuah titik hitam terombang ambing ombak jika ditilik lebih lama ternyata titik hitam itu adalah sebuah perahu sejenis pinisi, perahu khas tanah bugis berbendera kepala seekor harimau kumbang dengan sepasang taring panjang yang jika terpendar matahari sepasang taring itu tampak berkilat-kilat keperakan, disebuah anjungan seorang pemuda gagah ber ikat kepala runcing tampak mengawasi sesosok tubuh yang tengah berdiri di salah satu tiang layar. "badarudin ali, apa yg waang tilik disiko.. ". Pemuda tegap dengan sepasang gelang akar bahar tampak tarik temali dan mengikatnya dengan kuat ditiang layar, sebuah teropong dari bambu tergantung dipinggang kanannya.
"belum tampak apo-apo didepan siko angku mudo sutan alam nan kayo..". Sekali hentakan kaki tubuh tegap badarudin ali tampak melayang dan dg ringan injakan kaki dilantai perahu. "sudah tigo pekan kito terombang-ambing tak ado tujuan yg jelas, bagaimano perbekalan kito.." . "Ambo kiro masih cukup untuk beberapo pekan dimuko angku mudo..".
Sementara itu gelombang samudra semakin mengganas, ombak setinggi lima meter tampak melaju dengan kecepatan tinggi dari tengah laut lepas menghempas badan perahu, semua orang yg ada di buritan berpekikan ngeri deru angin terdengar bergemuruh, air laut tergenang semakin banyak masuk kedalam perahu. "turunkan layar utama..". badarudin ali berteriak lantang memerintahkan anak buahnya. diangkasa awan hitam semakin banyak berkumpul mengandung butiran air hujan, didahului lesatan kilat, gelegar halilintar terdengar susul menyusul memekakan telinga hujan badai bergemuruh menerjang perahu pinisi dengan ganas, tak ayal perahu besar itu tampak terlempar beberapa tombak ke atas kemudian terbalik dan pecah menjadi dua bagian menyusul semua orang yang ada didalam perahu terlempar keudara disambut gelombang samudra yang maha dahsyat.
Pemuda tegap berikat kepala kain merah tampak mempercepat larinya, hutan bambu ori diterabasnya dg sebat sementara mentari mulai menyemburatkan sinarnya disela-sel daun bambu. " kenapa aku tdk mampu keluar dari hutan ini, apakah oyod ming-mang tak sengaja terlangkahi..". Membatin pemuda berikat kepala kain merah sembari mengusap duri bambu dari kedua lengannya yg berotot, selagi pemuda ini membatin serangkum angin dirasakan menderu kearahnya. "bllaaarr..!!". Dg mengandalkan ringan tubuh, pemuda itu tampak jungkir balik diudara beberapa kali ketika menginjakan kakinya kembali ditanah dan pasang kuda-kuda, alam yg semula terang perlahan meredup, angin dirasakan seperti berhenti berhembus, sekejap kemudian didahului gelegar halilintar kegelapan melingkupi kawasan hutan bambu ori sampai radius dua ratus depa. "ha.ha.ha..aji gelap ngampar bukan isapan jempol belaka..!!". Suara tawa terdengar membahana disesantro hutan menindih gelegar halilintar, pemuda berikat kepala merah tampak kernyitkan dahinya, dirasakannya dadanya seperti dihimpit batu besar, dg segera lipat gandakan tenaga dalamnya tapi semakin dicoba kekuatannya semakin lemah, aliran darah terasa mengalir terbalik dan akhirnya tubuhnya terpelanting kebelakang menerabas puluhan bambu ori yg berserabutan tercabut dari akarnya dan muntahkan darah hitam berbuku2 lalu pingsan tak sadarkan diri.
Ketika siuman dari pingsannya pemuda berikat kepala kain merah dapatkan dirinya dalam sebuah gua cadas hitam. "apa yg terjadi dengan diriku membatin sang pemuda, ketika mencoba bangkit dari lempengan batu pipih sesosok tubuh samar berjubah hitam tampak berdiri dihadapannya. "siapakah andika ini.." sosok tubuh samar berjubah hitam tampak ganda tertawa sebelum menjawab pertanyaan orang. " anak manusia terlahir bernama menjangan wulung, tidak usah banyak tanya dan berpikir bulan kapit tinggal beberapa purnama lagi, perdalam ilmu gelap ngampar tingkat enam di gua cadas hitam ini, empat purnama lagi aku akan datang menemuimu..". Pemuda berikat kain merah yg ternyata rd. Menjangan wulung sesepuh para warok alas sinang perbukitan loyang pandang sejurus sosok samar dihadapannya. "kenapa menunggu selama itu, hari ini juga aku akan menyusup ke kedaton cerbon, dan memporak porandakannya dari dalam..". Ujud bayangan hitam pandang pemuda dihadapannya dg tajam, kembali rd. Menjangan wulung merasakan himpitan batu didadanya dan memaksanya berlutut dilantai gua. "tujuan kita sama raden, tapi semangat saja tdk cukup..pergunakan otak akal dan reka pendayamu..". Tubuh rd. Menjangan wulung tampak megap-megap, setiap bayangan berjubah hitam dihadapannya memandangnya dg tajam, sadar kekuatan orang akhirnya rd. Menjangan wulung lunakan ucapannya. "baiklah, tapi sebelum aku mengikuti semua petunjukmu, sudilah kiranya andika menyebutkan nama..". "ha.ha..ikuti saja petunjukku raden.. Purnama keempat aku akan menemuimu..". Dengan hilangnya sosok samar berjubah hitam dari hadapannya, kekuatan rd. Menjangan wulung langsung pulih dengan sendirinya, tertatih disandarkannya tubuhnya yg letih di dinding dua, sementara itu diluar hujan mulai mengguyur kawasan gua cadas hitam dg derasnya.
_o0o_
Prosesi pembuatan masjid agung sang cipta rasa gempar, para pekerja yg terdiri dari santri pondok pesantren giri shembung dan giri jhati ditemukan tergeletak tanpa nyawa, dipelataran ataupun didalam bangunan masjid yg belum rampung, dg kondisi yg sangat mengerikan dimana seluruh jasadnya seakan kering tak berdarah hingga tinggal kulit pembalut tulang atau seperti jerangkong saja, sedangkan seluruh wilayah kesultanan cerbon terserang semacam wabah penyakit aneh, bisa dibilang bila wabah itu mengenai orang dipagi hari dipastikan sore harinya sudah meninggal, begitupun sebaliknya bila wabah menyerang disore hari tidak ditawar lagi pagi harinya ditemukan dalam keadaan kurus kering tak berdarah. Hal ini menimbulkan tanda tanya besar dan keresahan bagi sinuhun cerbon kanjeng sunan jati purba maka diadakannya pertemuan tertutup disatu tempat rahasia. "raka sunan kali, sebenarnya apa yg menyebabkan petaka ini terjadi.." Sunan kali jaga pejamkam sesaat kedua matanya, "rayi prabu, mohon maap, hamba belum bisa memastikannya, tapi yg jelas sesuatu kekuatan jahat telah melanda wilayah kesultanan..". "tega sekali, mengapa kawula alit yg jadi korban..". "maap kanjeng prabu..". Akuwu sangkan atau ki sidum rapatkan kedua telapak tangannya kedepan dada. "silahkan eyang sangkan..", orang tua berjubah putih yg mempunyai beberapa julukan itu sesaat menarik napas dalam. "angger sunan izinkanlah hamba melakukan itikap sunyi raga di sebuah gua sebelah barat kedaton pakung wati..". "isun izinkan eyang.." . Tanpa tunggu lama sosok kisidum atau kuwu sangkan raib dari hadapan sunan jati purba. "raka sunan kali bagaimana dg masjid agung sang cipta rasa yg tengah kita bangun.." . " rayi prabu ada sedikit masalah dg tiang penyangga atau soko guru masjid..". "maksud raka sunan.." "dlm wirid hamba semalam, turunlah semacam ilham, bahwa salah satu soko guru haruslah terbuat dari batang pohon jati yg tumbuh di kawasan hutan padukuhan cimanuk sebelah selatan..". "raka sunan isun pun mendapat ilham yg sama..", sesaat sinuhun cerbon itu sapukan pandangannya keseluruh orang yg mengelilinginya. "angger puronegoro dan purwonegoro...". "hamba kanjeng sunan..". Dua orang pemuda putra tumenggung seda krapyak sama-sama rapatkan kedua tangannya ke dada. berkat karomah sinuhun kanjeng sunan jati purba akhirnya raden puronegoro dapat dipulihkan dari ajian gelap ngampar (baca episode. mustika lembah cimanuk, pen) " isun tugaskan angger berdua mencari dan membawa pohon jati tunggal yg tumbuh di kawasan hutan jati padukuhan cimanuk sebelah selatan..". "sendika kanjeng sunan..". Setelah menyusun kedua tangan di depan kening masing-masing, kedua putra tumenggung itu beringsut tinggalkan tempat rahasia yg ternyata seruas bambu kuning yg tengah mengapung di aliran sebuah sungai. _o0o_
Petaka maut yg melanda kesultanan cerbon membawa imbas bukan saja bagi seluruh kawula alit, praja pinangeran cerbon dibawah komando senopati pamungkas andawiyah wira panjunan pun yg diutus untuk menumpas laskar kesangyangan yg bermarkas di tepi hutan alas sinang perbukitan loyang mengalami nasib yg sama, bukan saja wabah penyakit aneh yg melanda, mereka seakan seperti terperangkap dalam dimensi alam gaib yg memaksa tidak bisa keluar dari tempat itu. " kakang senopati, apa rencana kita selanjutnya, sudah hampir sebulan kita terperangkap ditempat ini..". Senopati muda kesultanan cerbon sesaat pandang kepala pasukan didepannya. "panglima muntar brojo luwuk jangan putus asa, insya Allah..kita pasti dapat melalui semua ujian ini dg baik, bagaimana keadaan prajurit pinangeran..". Panglima muntar tampak menarik napas panjang. "setiap hari ada saja yg tewas secara misterius kakang senopati, jumlah kita semakin berkurang sementara perbekalan mulai menipis..". "bersabarlah panglima, gusti Allah tidak akan menguji hambanya melampaui kadar batas kemampuan mahluknya..". Beberapa lama keheningan melingkupi kawasan yg seakan tidak bisa dibedakan antara malam dan siang karena waktu seakan berputar amat lambat ditempat yg serba asing tersebut.
_o0o_
Sementara itu jauh di kedalaman hutan alas sinang perbukitan loyang, sepekan sebelum prajurit pinangeran cerbon datang dan empat purnama setelah rd. Menjangan wulung menyempurnakan aji gelap ngampar di sebuah gua cadas hitam, warok dusta dan warok brambang dedengkot laskar kesangyangan, pagi itu kedatangan sesosok bayangan hitam samar tengah berdiri lima langkah dihadapan keduanya. "siapakah andika ini, ada urusan apa berani menginjakan kaki dikawasan kami..". Bayangan samar ganda tersenyum tipis. " hmm..jumawa sekali, persis seperti junjungannya..tapi aku suka..ha.ha.ha..!!" warok brambang dan warok dusta tercekat ketika dirasakannya dadanya sesak seperti ada batu besar mengimpitnya, ketika keduanya mengerahkan tenaga dalam malah seperti tersedot oleh tatapan tajam bayangan hitam. "apa..apa..maksud andika dg junjungan..". Kedua warok itu tampak pegang dada masing-masing dan berlutut ditanah berumput . "perlu kalian ketahui, mulai hari ini kalian semua termasuk menjangan wulung menjadi pengikut ku..". "apa maksud andika..". "tidak usah banyak tanya dan berpikir dengar, menjangan wulung kini sudah berada di kesultanan cerbon, hawa racun warangan temiang geni telah disebar ke sesantro kesultanan bagaskara kelam akan muncul di kesultanan itu, kerahkan seluruh kekuatan laskar kesangyangan utk menggempur kedaton, biar urusan kawasan ini aku ambil alih..". "tapi..tapi..bulan..bul." "bulan kapit maksud kalian..aku tdk perduli mau bulan kapit, bala, rowah..atau apa..ingat sekarang aku yg berhak memutuskan.." Sadar ilmu orang jauh diatasnya, akhirnya kedua warok hutan alas sinang perbukitan loyang anggukan kepala masing-masing, didahului gelegar halilintar sebanyak enam kali berturut-turut sosok bayangan hitam raib dari pandangan bersamaan dg pulihnya kembali tenaga kedua warok tersebut. _o0o_ Mentari bersinar dg teriknya, musim kemarau dirasakan sangat panjang, kekeringan melanda hampir merata diberbagai daerah, sebuah waluku teronggok merana dibelakang langkan semua rumah warga, sebagian besar yg bermata pencaharian bertani hanya bisa pasrah menanti hujan yg seakan enggan menyapa bumi pertiwi. Dalam kondisi memperihatinkan itu disebuah padukuhan yg berjarak sekitar limaratus hasta dari hutan bambu ori dari mulut sebuah gua cadas berwarna hitam, melesat satu sosok pemuda gagah berikat kepala kain merah menerabas rimbunnya pohon bambu, sementara dibelakangnya terdengar dentuman dahsyat memekakan telinga dimana gua cadas hitam tampak amblas kedalam tanah meninggalkan debu berwarna hitam semburat ke berbagai penjuru disusul gelegar halilintar enam kali berturut-turut. "ha.ha.ha.ha, sempurna sudah, wong-wong cerbon sambut kedatangan ku..!!". Pemuda berikat kain merah tampak melesat bak kilat ke arah utara, sementara debu hitam dari bekas ledakan gua cadas tampak membumbung tinggi keudara mengikuti laju kelebatan sang pemuda. Mana kala debu hitam melewati sebuah padukuhan terdengar jerit tangis dan lolong kesakitan dari segala penjuru, begitu debu hitam sirna yg tampak adalah pemandangan yg sangat mengerikan, puluhan orang tampak bergelimpangan tak bernyawa dg tubuh kering kerontang bak jerangkong, siapakah pemuda ganas tsb, pembaca mungkin sudah bisa menebaknya.
_o0o_
Dalam dzikirnya kuwu sangkan atau kisidum di sebuah gua sebelah barat kedaton pakung wati merasakan getaran-getaran yg memaksanya menghentikan lantunan ayat-ayat suci yg tengah di bacanya dalam hati, hampir empat puluh hari lamanya sesepuh cerbon ini melakukan itikap sunyi raga memohon petunjuk dan keselamatan bagi semua kawula alit dan jajaran kerabat kesultanan yg tengah menghadapi cobaan berupa wabah penyakit aneh. " duh gusti Allah, kami mahluk mu yg lemah hanya bisa memohon kemurahan rahmatmu..amin..". Sebelum ki sidum memejamkan matanya kembali serangkum angin mengandung debu hitam dg sebat melabrak tempatnya bersila, dengan sigap orang tua berjubah putih itu kebutkan lengan jubahnya kedepan selarik cahaya putih berpendar mengelilingi seluruh tubuh kisidum dan dalam hitungan detik menggelegar dentuman halilintar enam kali berturut-turut. "racun warangan temiang geni, astagfirllah..". Pekik ki sidum dalam hati, dan tidak menunggu lebih lama sosoknya tampak sebat melesat kearah kedaton pakung wati.
Dlm awal tulisan dikisahkan bagaimana akhirnya rd.puronegoro berhasil menguasai jurus "tapak cecak" dari resi maruta mandra yg seharusnya putra tumenggung seda krapyak itu harus dibunuh oleh sang resi sakti tsb.(baca eps. Pertama Bhumi deres mili) dalam perjalanan pulang ke bukit cadas gempal setelah melakukan tapa brata di delta sungai kapetakan langkah ringan rd.puronegoro terhenti, seorang tua berjubah putih tau2 sudah berdiri tiga langkah dihadapannya, melihat siapa yg datang pemuda tegap berpakaian hitam tundukan kepala sambil susun kedua telapak tangan ke dada. " kyai sangkan, terimalah hormat saya.". Orang tua berjubah putih sunggingkan senyum diwajahnya yg kelimis. "anak muda, agaknya peristiwa dahsyat baru saja kau alami..". "dugaan kiyai sangkan tidak keliru..". Lalu dengan singkat rd.puronegoro menceritakan pengalamannya. "anak muda, apapun kepusanmu itu semua adalah hak mu, tapi ingat kewajibanmu sebagai seorang kesatria jangan pernah kau abaikan.." rd.puronegoro tercenung mendengar ucapan kyai Sidum, terbayang kembali wajah romonya tumenggung seda kerapyak, wajah tampan itu tampak sesaat murung. "kyai tapi saya.." belum selesai ucapan rd.puronegoro, orang tua berjubah putih telah hilang dari hadapannya. "orang tua aneh datang dan pergi sesukanya..". Rd.puronegoro tampak masih berdiri ditempatnya, perang bathin sedang berkecamuk dalam dadanya, antara melaksanakan titah romonya untuk mengabdi di kesultanan cerbon atau mengikuti gejolak darah mudanya yg masih panas membara, belum sempat rd.puronegoro melangkahkan kaki suasana alam sontak berubah redup disusul gelegar halilintar memekakan telinga, kini lima langkah dihadapannya telah berdiri pemuda berperawakan tegap berikat kepala merah sambil mengumbar tawa." bila ingin sempurna lakukan sendiri, seharusnya dari awal aku tahu wuluh balang memang tidak bisa diandalkan..". Rd. Puronegoro kernyitkan keningnya "apa maksud dari semua kata2mu kisanak..". "kau, anak tumenggung seda krapyak, dungu tapi beruntung..". Rd.puronegoro tambah bingung dg ucapan orang, tapi langsung tercekat begitu pemuda berikat kepala merah melanjutkan kata2nya. "wuluh balang adalah salah satu warok dari komunitas kesangyangan, sengaja menyuruhmu mengantarkan surat pada gurunya resi.maruta mandra untuk membunuhmu, tapi ah..cinta memang buta..rupanya..". "jadi semua itu..". "otakmu mulai jalan raden..tapi terlambat untuk menyesalinya, sekarang seperti ucapanku tadi, pengen sempurna lakukan sendiri, terimalah ajalmu..". Didahului suara menggembor seperti geledek tubuh pemuda tegap berikat kepala merah melesat ke arah rd.puronegoro dg kembangkan dua telapak tangan yang membersitkan sinar merah mengarah kepala dan dada sebelah kiri putra tumenggung seda krapyak yg masih terpaku ditempatnya berdiri.
Disaat kekalutan hati menghimpit perasaan, rd.puronegoro seolah tidak menyadari maut yg tengah mengincar nyawanya. Sejengkal lagi kedua larik sinar merah mencapai kepal dan dadanya, secara reflek tubuh rd. Puronegoro melesat tiga tombak kebelakang tapi dg cepat melesat kembali kedepan laksana kilat sambil memgembangkan kedua telapak tangan menyongsong larik sinar merah."blaaarr..!!!", bumi terasa seperti digoyang lindu, kedua sosok tubuh sama2 terpental lima tombak kebelakang, tapi dg sebat pemuda tegap berikat kepala merah lentingkan tubuhnya dan bersalto beberapa kali diudara, begitu jejakan kakinya kembali ketanah tubuh rd.puronegoro sdh tdk tampak lagi ditempatnya. "hem..apakah pemuda itu lagi yg ikut campur, tapi rasanya bukan dia..aku tdk merasakan hawa aji lembu sekilan ditempat ini, lebih baik aku langsung ke cerbon..". Pemuda tegap berikat kepala merah hentakan kakinya ketanah, dalam sekejap sosoknya hilang dibalik rimbunnya pepohonan. -¤-
Rd.puronegoro merasakan tubuhnya seperti dibawa terbang, dia dapatkan dirinya dipanggul dibahu orang, putra tumenggung seda krapyak itu berusaha palingkan wajah ingin tahu siapa yg mendukung tubuhnya sambil berlari, tapi rasa kantuk tiba2 menyerangnya, dalam kelelahan yg luar biasa pemuda berbaju hitam itu akhirnya tertidur. Sosok yg memanggul tubuh rd.puronegoro sampai di mulut sebuah gua dg cepat kelebatkan tubuhnya masuk kedalam gua, lalu tubuh rd.puronegoro dibaringkannya di atas batu pipih beralas jerami kering, sesaat diperhatikannya kondisi rd.puronegoro, helaan nafas kekhawatiran keluar dari mulutnya. "duh, gusti Allah..mampukah pemuda ini bertahan dari pukulan aji gelap ngampar..hanya ada dua orang yg sanggup memulihkannya..akuwu wiralodra dan sinuhun cerbon, daerah ini dekat dg padukuhan cimanuk, lebih baik aku membawanya kesana..". Dg cepat tubuh rd.puronegoro dipanggulnya kembali dilain kejap sosoknya terlihat jauh dilamping bukit sebelah utara _o0o_
Dua ekor lembu penarik pedati berhenti tepat di depan bangunan bercungkup padukuhan cimanuk, tak berapa lama pembantu setia rd. Arya wiralodra, aki tinggil tampak mengobrol dg tamunya dipendopo. "perkenalkan saya endang darma, dan ki ragil dri pesisir timur belambangan, maksud kedatangan kami kepaukuhan ini mohon izin utk hijrah, sudi kiranya kami diterima..". Aki tinggil pandang sesaat wanita dg rambut di gelung kebelakang lalu alihkan pandangannya pada sosok kurus ki ragil. " siapapun yg mau menetap di padukuhan cimanuk akan kami terima dg tangan terbuka, tapi sayang rd. Arya wiralodra sebagai akuwu tdk bsa menyambut kalian, beliau sedang menjalankan tugas dari sinuhun cerbon.." . Tiba2 dari arah pintu gerbang barat seorang pengawal tampak memapah sosok tubuh dibantu seorang tua berjubah putih. Aki tinggil langsung bergegas menyongsong."ki gedeng Alang-Alang sobat lamaku ada angin apa andika datang kemari, siapa pemuda ini..".ki tinggil sebut nama kyai sangkan dg nama aslinya..". "ki tinggil apakah rd. Wiralodra ada di tempat.." dg singkat diceritakannya maksud dan tujuan kedatangannya. "ah, sayang sekali kalau begitu, terpaksa saya harus membawa putra tumenggung seda krapyak ini ke kesultanan cerbon, tapi apakah pemuda ini masi bisa bertahan..". "maap ki tinggil, apa boleh saya melihat kondisi pemuda ini..". Tiba2 Endang darma ajukan pertanyaan. "silahkan nyai..". Tukas ki tinggil. Endang darma perhatikan tanda hitam pada dahi dan dada sebelah kiri sipemuda. " aji gelap ngampar, sesenti lagi pukulan di dada sebelah kiri bergeser nyawanya tdk bsa tertolong.." gumam nyi endang darma, lalu dari balik pakaian di keluarkannya dua buah benda satu berwarna hijau diletakan dikening, satu berwarna merah di letakan di dada sebelah kiri pemuda yg berwarna hitam kebiruan, dlm sekejap kedua benda mustika itu pancarkan sinar, tiba2 tubuh yg terbujur kaku itu tampak bergetar hebat. "bllaaarrr...!!!" dentuman dahsyat mengguncang bumi, orang2 yg berada mengelilingi pemuda terpental keluar pendopo.
_o0o_
Mendung tebal menggelayut diatas padukuhan cimanuk, didalam pendopo sinar merah dan hijau tampak membuntal tubuh rd.puronegoro, sedang aki tinggil, ki ragil, kiyai Sangkan, dan nyi endang dharma pegang dada masing-masing yg masih terasa sesak akibat terlempar oleh dentuman keras dari dlm tubuh rd.puronegoro. "saya cuma bisa memulihkan aliran darahnya yg kacau, hawa aji gelap ngampar masih menguasai diri pemuda ini..". Ujar nyi endang dharma tersengal-sengal, lalu pungut dua benda mustika yg tergeletak ditanah. "lalu apa yg harus kita lakukan.." sela aki tinggil, "terpaksa aku harus membawanya ke sinuhun cerbon, mudah-mudahanan pemuda ini bisa bertahan..". Lalu ki sidum angkat tubuh rd.puronegoro kepundak kanannya. "para sahabat semua aku pamit, sampaikan salamku pd. Akuwu rd.wiralodra..". Aki tinggil cuma angguk-anggukkan kepala, dilain kejap tubuh renta kyai. sangkan berkelebat sambil mendukung tubuh rd.puronegoro yg pingsan ke arah utara.
---¤---
Nun jauh dipulau andalas kawasan selatan tepatnya kota raja pai lem bang, tersebutlah sebuah partai persilatan yg terdiri dari dua puluh lima orang pangeran dari anak-anak pejabat kerajaan yg pada masa itu sangat disegani dan ditakuti di sesantro kawasan selatan sampai utara, partai "tariang bakilat" itulah nama partainya, seorang pemuda gagah dg ikat kepala lancip didepan bersulam benang emas dg kalung sepasang taring harimau tampak duduk disebuah kursi berukir mewah. " aden belum puas dg cara kerja waang ni, masih banyak partai-partai silat kacangan yg belum kito tundukkan..". "beribu maap angko mudo sutan alam nan kayo." pemuda dg gelang akar bahar di kedua pergelangan tangan angkat bicara. "silahkan badarudin ali..apa yg hendak waang sampaikan..". " ambo dengar pihak kota rajo tdk menyukai keberadaan partai kito, sri bagindo bermaksud membubarkan partai kito angku mudo..". Sutan alam nan kayo kepalkan kedua tangannya. "tak seorangpun dapat membubarkan partai tariang bakilat, tidak juo sri bagindo..". Pemuda dg ikat kepala lancip hantamkan tangan kanannya kemeja kayu di depannya hingga jebol. Sementara itu diluar pondok partai tariang bakilat, puluhan orang dg bersenjatakan perisai dan tombak tampak mengepung rapat, salah seorang dg pakaian bagus turun dari kuda. "angku mudo sutan nan kayo, atas nama kerajaan waang diperintahkan utk menyerahkan diri..!!". Hanya keheningan sebagai jawabannya, sekalilagi perwira kerajaan ini berteriak namun belum hilang gema suaranya, ratusan anak panah berhamburan dari dlm pondok, disusul melesatnya sebuah sinar berwarna biru kearah perwira dan puluhan prajurit kerajaan. _o0o_
Belasan Tahun Sebelumnya.....
Dalam keremangan kabut, sesosok tubuh tampak tertatih, lapat-lapat hampir tersapu deru hembusan angin sesekali terdengar tangisan orok. "anak kecik, hentikan tangismu amak lakukan ni demi keselamatanmu..cep, cep..anak amak..". Entah mengerti dg ucapan orang atau memang karena kecapean, orok yg masih merah dlm bedongan itu hentikan tangisnya, beberapa saat kemudian lima orang penunggang kuda tampak berhenti beberapa langkah diatasnya. "aden yakin, tangisan orok itu hilang di sini..". Seorang laki-laki dg cambang bawuk dg giwang emas mencantel ditelinga sebelah kiri turun dri kudanya. "kalau kito tak temukan orok itu, leher kito jadi taruhannyo.." . "kalau begitu geledah sekali lagi semak belukar dibawah ngarai tu..". Dg bersenjatakan tombak kelima laki-laki bertampang sangar terabas semak belukar dikanan kiri jalan setapak. "datuk sawung galiang, tak dapat kito temukan tu orok beserta orang tua penjaga kuda itu..". "kito takan pulang ka kota rajo, ayo cari ka tempat lain..". Kelimanya lantas naik kekuda masing-masing dlm sekejap deru tapal kuda terdengar menjauh, dari cegukan di balik bongkahan batu yg terlindung semak belukar sesosok tubuh renta tampak sembulkan kepalanya. " anak amak, anak baik kito dah aman, gusti allah, apa dosa anak ini..ibils mana yg merasuki bagindo rajo, hingga tega mau membunuh anak kandungnya sendiri..". Orang tua bercaping bambu itu lantas ayunkan kaki kearah barat, dikejauhan meremang puncak gunung merapi kearah sanalah langkah orang tua bercaping bambu melangkah.
_o0o_
sementara itu didalam istana, baginda raja prawira alam syah marah besar, hari itu juga disebarlah belasan prajurit kerajaan ke sesantro peloksok nagari, gambar seorang tua renta dipampang dimana-mana seratus ringgit sebagai imbalan bagi siapa saja yg dapat menangkap hidup atau mati bilung mangkuto, sang penjaga kuda yg membawa lari orok yg baru dilahirkan oleh salah seorang selir raja. _o0o_ Lereng merapi bagian barat merupakan medan yg sangat sulit untuk didaki, disamping terjal dan curam, disalah satu lereng terdapat satu jalan setapak yg hanya bisa dilalui dg cara berjalan miring merambat tengkurap disisi tebing yg merupakan dinding cadas menjulang tegak lurus keangkasa, sedang jauh dibelakang sana bila salah melangkah dan tergelincir, jurang batu cadas dg bebatuan runcing di dasar jurang siap meluluh lantakan apapun yg terperosok kedalamnya, melalui jalan itulah ki bilung dg mendekap orok merah dlm bedungan melewatinya, dg susah payah dan penuh kepasrahan pada sang maha pencipta selangkah demi selangkah akhirnya orang tua penjaga kuda kerajaan itu selamat dari jalan maut yg dilaluinya, di sebuah gua cadas putih ki bilung hentikan langkahnya, terpaut sembilan langkah didepannya seorang tua berwajah jernih berjubah putih tampak terpejam dlm kekhusukan dzikir, seuntai tasbih batu pualam hijau terlihat berputar ditangan kanannya, tdk mau mengganggu kekhusukan orang yg tengah berzikir, ki bilung lantas dudukkan pantatnya disalah satu batu cadas putih datar, mungkin krn haus atau lapar sang orok mulai merengek pelan tak lama tangisnya pun pecah merobek keheningan subuh nan sunyi, ki bilung coba menenangkan dg mengayun-ayun badan orok tapi malah sang orok menangis lebih kencang dan keras dri sebelumnya. Tiba-tiba suara pelan penuh wibawa terdengar dri samping kananya " aki bilung gerangan apa hingga inyiek, bersusah payah datang kesini, lalu siapa gerangan orok dlm bedunganmu itu..". Orang tua berwajah jernih tak disangka kini telah berdiri satu langkah disamping ki bilung dan dengan sekali usap ubun2 sang orok, bayi merah yg semula menangis melengking2 sontak berhenti dan tertidur kembali dg tentram. "maapkan hamba paduka, bencana besar tengah mengancam kerajaan..". "apa yg terjadi di kerajaan..". "paduka raja prawira alam syah, mau membunuh darah dagingnya sendiri demi sebuah tumbal..". "tumbal, apa maksudmu, dan apakah orok ini adalah anak prawira alam syah..". " benar paduka..". "astagfirulah al azim.., sebenarnya apa yg ada diotak anakku itu, kenapa tega2nya mau membunuh orok tak berdosa, ki bilung kemarikan cucuku itu aku ingin menggendongnya..". Dg penuh kasih raja tua yg kini menjadi pertapa dukung orok merah yg belum pupus tali pusarnya dlm dekapannya. " cucuku gagah, kamu aman bersama kakek.". "maap baginda, tidakah ingin kembali ke kota rata untuk menyadarkan prabu prawira alam syah dri kekeliruannya..". Raja tua itu tarik nafasnya sesaat. "maapkan aku ki bilung, bukannya aku menutup mata dg semua yg terjadi, sumpah telah terucap, duniawi telah lepas dri kehidupanku, biarlah cucuku yg kelak meneruskan daram baktinya menyadarkan ayahandanya, mudah2an gusti Allah meridhoi..". Suasana subuh kembai hening, semburat cahaya keemasan muncul diufuk timur kabut mulai tersibak, pagi yg cerah semburat dipuncak gunung merapi.
_o0o_ Duapuluh tahun tlah berlalu, disatu pedataran padang bunga abadi edelwis, sesosok pemuda gagah dg bertelanjang dada tengah melakukan gerakan-gerakan silat yg sangat cepat, tubuhnya berkelebat jungkir balik beberapa kali diudara dan dg enteng jejakan kedua kakinya diatas rumpun bunga edelwis tanpa menimbulkan suara dan tanpa merusak setangkaipun bunga abadi tsb, seorang tua berwajah kelimis dg jubah putih tampak tersenyum puas. "duapuluh tahun tak terasa, duh gusti Allah..sudah saatnya pemuda cucuku ini mengetahui yg sebenarnya..". Lamunan orang tua berwajah kelimis ini buyar begitu sosok berbadan tegap telah berdiri tiga langkah dihadapannya. "kakek guru, gerangan apa yg merisaukan pikiranmu, hingga sepagi ini dah bermuram durja..". Orang tua dg tasbih batu pualam hijau ditangan kanan tampak tersenyum. "cucuku, sutan kayo duapuluh tahun tlah berjalan sudah saatnyo dirimu mengetahui hal yg sebenarnya..". Pemuda gagah bertelanjang dada tampak kerutkan keningnya. "maap kakek guru, ambo tdk mengerti..". "baiklah sutan kayo cucuku, kakek akan menceritakan ihwal dirimu..". Orang tua berwajah jernih pandang langit luas beberapa saat, ingatannya terpesat kemasa dua puluh tahun silam, kemudian dg perlahan sebuah kisah meluncur dari mulutnya. Selesai bercerita, tanpa diduga pemuda bertelanjang dada tendangkan kaki kanannya bongkahan batu besar disebelah kanannya hingga mental dan meledak diudara. "sutan kayo kendalikan amarahmu..". "kakek guru, aden harus turun gunung, aden pingin tau nasib ibunda di kraton..". "baiklah sutan, sebagai bekal terimalah badik bertuah ini, gunakan utk membela kebenaran..". Dari blik jubah putihnya orang tua berwajah kelimis yg sebenarnya raja tua yg sdh lengser keprabon berikan sebilah badik bergagah emas pd sutan kayo, yg kelak dikemudian hari mendirikan partai "tariang bakilat". Dg merekrut anak2 pembesar kerajaan dan menggegerkan dunia persilatan tanah andalas dg cara menundukan partai-partai yg pada masa itu merebak bak jamur dimusim penghujan. _o0o_
Sepuluh orang prajurit dibagian depan terpental dg tubuh berwarna biru gelap pertanda betapa ganasnya racun pukulan yg dilancarkan sang penyerang, sedangkan sisanya lagi terkapar dg puluhan anak panah pada sekujur tubuhnya. "biadab, menyerang orang dg mendadak..tunjukan batang hidung kalian..". Perwira kerajaan yg selamat dri serangan maut tampak menggenggam sebilah rencong berbadan perak ditangan kanannya, belum kering ucapannya dri bibir, sesosok pemuda tegap dg akar bahar di kedua pergelangan tangan tampak berdiri lima langkah dihadapannya. " badarudin ali, panglima datuk barajo luwuk akan kecewa bila tahu anaknya terlibat dlm partai yg dilarang oleh kerajaan..". Pemuda tegap bergelang akar bahar cuma tersenyum simpul. "mamak lawean, sebagai seorang perwira mana hati nuranimu membiarkan rakyat alit samsaro akibat kesewenangan penguasa..". "angku mudo badarudin ali, bukankah ikut menikmatinya..". " puah..najis, ambo memakan harta haram dri darah rakyat kecik". "jaga ucapanmu angku mudo..". "lalu apa maumu mamak lawean..". Amarah perwira lawean meledak sudah, didahului suara menggembor hebat tubuhnya tampak berkelebat lancarkan tendangan berantai disusul tusukan bilah rencong perak kearah tenggorokan lawan, badarudin ali bukan p emuda sembarangan setelah beberapa jurus berlalu dg cepat, satu tendangan melingkar dari badarudin ali telak mendarat di dada perwira kerajaan disusul jatuhan tumit di kepala bagian belakang, ketika perwira lawean terhuyung, pukulan telapak tangan badarudin ali mendarat di hulu ati sang perwira hingga muntah darah dan tersungkur ketanah. "maap mamak, bukan maksudku menjatuhkan tangan jahat padamu..". Sambil pegang dadanya yg sesak perwira kerajaan ini langsung lentingkan tubuhnya dan dlm sekejap sosoknya tak tampak lagi. Setelah perwira lawean pergi, sesosok pemuda berbadan tegap dg ikat kepala runcing didepan terlihat menepuk bahu kanan badarudin ali.". "sobat, keberadaan kita ditanah andalas ini tdk aman lagi..". "lalu apa rencana angku mudo sutan alam nan kayo selanjutnya..". "kita tingglkan andalas, ambo dengar di pulau jawadwipa banyak terdapat perguruan silat ternama serta pendeka2 tangguh, kito hijrah kesana dan tancapkan pengaruh partai tariang bakilat di pulau itu..". "kalau itu sudah keputusan angku mudo, kami ikut sajo..". "baiklah, tapi sebelumnya ambo akan jiarah di makam ibundo dan sekaligus pamit.."." angku apakah tdk mengundang bahaya, makam ibundo angku masih di wilayah istana.,". "ambo akan hati2, sobat badarudin ali bgaimana dgmu, apa waang tidak pamit dulu pd ibundo waang..". " tidak usah angku, mungkin saat ini ayahanda panglima telah mengerahkan prajurit untuk menangkap ambo..".
Tanpa menunggu lama sosok gagah sutan alam nan kayo telah jauh melesat kearah matahari terbenam.
_o0o_
Menjelang tengah malam sekelebatan bayangan hitam tampak memasuki pekuburan kerabat kerajaan, setelah mengendap-endap disalah satu gundukan tanah merah sosoknya berhenti didepan sana terlihat seorang dara berbaju kuning seperti tengah menunggu kedatangannya. " kinanti, sedang apa adek disiko..". Dara berbaju kuning pandang sebentar wajah gagah dihadapannya. " uda maafkan adek..sebenarnyo..". "sebenarnyo ada apo adek, kenapa malam2 ada disiko..". "adek sebenarnyo selama ini diutus ayahando sawung galiang untuk memata-matai uda dan sekaligus mengajak balik uda badarudin ali ke keraton, tapi adek tau apo yg akan ayahando lakukan, makanyo adek berupayo menemui uda disiko..". "adek seorang diri datang kasiko..". Dara ayu berbaju kuning anggukan kepala. Barusaja sutan alam nan kayo selesai memanjatkan doa buat mendiang ibunya, sontak disekeliling area pekuburan ratusan obor telah mengepungnya, seratus prajurit dg senjata tombak dan perisi tampak membuat pagar betis berlapis, sutan alam nan kayo pandang gadis berbaju kuning yg kini berada diantara para prajurit, seorang lelaki setengah baya dg baju jirah menyeruak diantara lapisan pagar betis prajurit kerajaan. "panglima sawung galiang..kinanti ternyata waang..". Dara ayu baju kuning tampak pucat pasi. " uda ambo..ambo..". "tega sekali adek...". "uda tdk seperti yg uda pikirkan..". Orang tua berbaju jirah maju selangkah sambil hunus bilah pedang yg nampak berkilat tertimpa sinar bulan empat belas hari, sedang sutan alam nan kayo raba bilah badik bertuah dibalik pinggang bajunya. "sutan alam..menyerahlah, mungkin hukuman waang akan lebih ringan..". Sutan alam nan kayo pandang sekeliling, dara ayu kinanti tdk tampak ditempatnya lagi. "gara-gara pengaruh waang anaku badarudin ali, kini jadi seorang buronan, prajurit..tangkap pengacau ini..". Selusin prajurit dg bersenjatakan tombak langsung merangsek ke arah sutan alam nan kayo, sedang lapisan prajurit kedua rentangkan anak panah kearah sang pemuda, sisanya terlihat mengayun-ayunkan jaring siap dilempar kearah pemuda yg sebenarnya anak raja walau terlahir dari seorang selir.
Hujan mulai turun mengguyur bumi, tanah pekuburan tampak mulai becek tergenang air, langit yg semula bening diterangi sinar bulan empat belas hari lenyap dri angkasa digantikan kepekatan malam gelap gulita dan hawa dingin menyucuk tulang. "serang, ringkus pengacau itu..". Secara serentak prajurit kerajaan dibagian depan dg senjata tombak dan perisai bentuk pormasi benteng, sedang prajurit lapis ke tiga dg pedang berkilat sabetkan senjata masing-masing kedepan, dg sigap sutan alam nan kayo cabut badik bertuah dari warangkanya dan sekali kelebatan, tubuhnya tampak hanya bayang-bayang. Lolongan kesakitan terdengar, disusul suara bergedebuk jatuhnya kesepuluh prajurit yg terkapar terkena sabetan badik, prajurit lapis ke dua dg bersenjatakan panah rentangkan busur, dilain kejap puluhan anak panah berapi melesat menghujam sang pemuda. Sutan alam nan kayo rebut salah satu tombak dri tangan prajurit, dg senjata ini dia bentuk perisai pelindung dg cara memutar tombak dg cepat, puluhan anak panah berapi langsung mental dan luruh ketanah, sisanya melesat berbalik menancap ke tubuh para prajurit, mengetahui banyak korban dipihaknya, panglima sawung galiang lentingkan tubuh tinggi besarnya keudara dilain kejap sosoknya sudah menggempur habis-habisan sutan alam nan kayo dg sebilah mandauw yg konon didperolehnya dari seorang pertapa sakti di pulau borneo. Walaupun sutan alam nan kayo memiliki ilmu kanuragan yg hebat diserang secara keroyokan dg pormasi serangan bak air bah, lama-lama pertahanan pemuda ini mulai renggang, hingga pada satu ketika tendangan beruntun panglima sawung galiang membuatnya tersudut. Dan pada saat itulah sebuah jaring melibat tubuhnya dan dalam keadaan terlibat jaring dirasakannya sebuah hantaman benda keras mendarat di kepala bagian belakang yg memaksanya berlutut, setelah itu sutan alam nan kayo tidak ingat apa-apa lagi. "seret pemuda ini ke istana..". Teriak panglima sawung galian lantang, mandauw yg tadi dipakai menghantam belakang kepala sutan alam disarungkan ke warangkanya kembali, sementara hujan semakin deras mengguyur disaat tubuh pemuda yg entah pingsan atau sudah tewas itu diseret kuda menuju istana.
Dalam tutur tanah jawi dikisahkan ketika putra tumenggung gagak singalodra dari bagelen yang bernama rd. Wiralodra membuka lahan dikawasan sugai cimanuk dan memberi nama perdikian itu padukuhan lembah cimanuk, pergolakan dikesultanan cerbon semakin memanas, ditambah rongrongan dari satu komunitas aliran kepercayaan yang sebenarnya masih satu kerabat dengan kesultanan, namun karena rasa ketidak puasan dari satu golongan maka orang-orang tertentu memilih memisahkan diri dan mangkir dari kedaton pakungwati, segolongan orang inilah yang kemudian hari membentuk komunitas kesangyangan dan bermarkas dihutan sinang perbukitan loyang, hal mana membuat sultan cerbon kanjeng sinuhun sunan jati purba atau sunan gunung jati mengutus dutanya pada akuwu lembah cimanuk untuk menyirap keberadaan para pembesar dan kerabat keraton yang mbalelo yang disinyalir bergabung dengan bangsa orang bunian yang berada dihutan tersebut, sebagai rasa tanggung jawabnya karena daerah hutan sinang perbukitan loyang masih berada diwilayang padukuhan sebelah selatan lembah cimanuk maka raden wiralodra hari itu juga berangkat untuk mengemban titah dari sultan cirebon.
"kyai tinggil, selama saya pergi mengemban titah dari sinuhun, segala urusan mengenai padukuhan sepenuhnya saya limpahkan pada kyai." "baik raden, tapi apa tidak lebih baik jika raden membawa pengawal.." "untuk kali ini, biar saya sendiri kyai.." Kyai tinggil angguk-anggukan kepalanya, setelah raden wiralodra mengganti busananya dengan baju ringkas berwarna putih, pemuda gagah ini lesatkan badannya keudara yang dalam sekejap sosoknya raip dari pandangan kyai tinggil. __o0o__
Mentari tepat diubun-ubun, sebuah pedati dengan ditarik dua ekor lembu tampak berjalan perlahan menyusuri kawasan hutan sebelah barat pasir beling, diatas kursi kayu seorang tua kerempeng sesekali lecutkan cemetinya agar laju pedati lebih kencang, daridalam pedati seraut wajah anggun terlihat menyibak tirai pedati "paman ragil, apa perjalanan kita masih jauh.." "masih cukup jauh nyimas..ditikungan bukit karang itu ada sebuah pecantilan, kalau tidak salah namanya suket baja dan padukuhan lembah cimanuk sekitar tiga hari perjalanan dari pecantilan itu.." "paman, lebih baik kita istirahat dulu.." "baik nyimas, kebetulan didepan sana ada telaga kita bisa beristirahat sejenak.." obrolan dua orang ini mendadak terhenti dari arah yang tak terduga mendesing puluhan pisau terbang mengarah pada laju pedati. "traang..!! traang..!!..trrraaaangg.." dengan sigap orang tua kerempeng ini lentingkan badannya diudara puluhan pisau terbang tampak menancap diseluruh dinding pedati, begitu jejakan kembali ketanah dari segala arah melesat lusinan anak panah kearah orang tua ini, dengan kecepatan kilat aki ragil putar cemeti ditangan kanannya, walau hanya cemeti tapi karena sudah dilambari dengan tenaga dalam maka benda itu menjadi lentur dan sekeras baja menangkis setiap lesatan puluhan anak panah, satu menit tlah berlalu aki ragil tampak waspada mengawasi sekitarnya, hanya kesunyian yang dirasakan menggantung diudara.. "hemm..terlalu hening.." gumam aki ragil "ada apa paman ragil.." seraut wajah anggun kembali muncul dari dalam pedati "den ayu..apapun yang terjadi, aki harap tetap didalam pedati.." ketika dirasa sudah aman, orang tua kerempeng ini kembali lecutkan cemeti untuk menjalankan pedati, namun...mendadak sontak suasana hutan yang semula terang perlahan menjadi redup, disusul suara tertawa menggema memekakan gendang telinga. "aji gelap ngampar.."gumam aki ragil disusul dari berbagai arah berloncatan bayangan-bayangan hitam dengan golok terhunus tampak mengepung pedati. "salah sasaran bila kalian merampok kami.." sebagai jawabannya puluhan orang ini langsung menyerbu pedati, melihat gelagat yang kurang baik aki ragil lantas putar cemetinya dengan cepat, tiga orang yang berusaha melompat kedalam pedati terkapar dengan wajah berlumuran darah. melihat kawanya tumbang sisanya kembali lentingkan badannya kedepan. "ssseerrrriiittttt...!!!" sebuah suara berdesing diudara, mendengar suara itu puluhan orang bercadar hentikan gerakannya dan dalam satu gerakan lompatan kebelakang puluhan orang bercadar dengan tiga orang yang terluka kena gebuk aki ragil ikut lenyap hilang dilebatnya belukar. "apa sudah aman paman.." aki ragil cuma anggukan kepalanya, takdisangka sebuah tawa menggema kembali menggetarkan gendang-gendang telinga "gelap ngampar..tingkat tiga..celaka." aki ragil lantas salurkan tenaga inti keseluruh tubuh, namun semakin mengerahkan tenaga dalam..justru dirasakan oleh aki ragil energinya tersedot habis.. "gusti Allah..celaka.." sinar merah panas mencuat dihadapan aki ragil. disaat itulah sebuah bayangan putih berkelebat diantara keduanya "bblllaaarrr..!!" dentuman keras menggema disesantro tempat, didepan sana seorang pemuda gagah tampak putar kedua tangannya searah jarum jam. gema tawa langsung musnah, suasana gelap kembali terang aneh energi aki ragil kembali kedalam tubuhnya. "terimakasih kisanak.." pemuda gagah berbaju putih ringkas ini cuma tersenyum dari dalam pedati muncul satu sosok anggun dengan rambut digelung kebelakang. "kalian hendak kemana.." ujar sang pemuda "saya nyimas Endang dharma, dari pesisir timur blambangan dan ini aki ragil, kami bermaksud kepadukuhan lembah cimanuk.." pemuda ini tatap sesaat paras anggun didepannya "ada urusan apa kalian kepadukuhan itu.." "kesuburan dan kemakmuran daerah baru itu santar tercium harum sampai kenegeri kami.." yang menjawab kali ini aki ragil. "baiklah kisanak dan nyisanak, silahkan teruskan perjalanan kalian padukuhan itu masih jauh darisini.., kelak kita pasti bertemu.." setelah itu pemuda berbaju putih hentakkan kakinya ketanah yang dalam sekejap sosoknya telihat jauh di balik lereng bukit sebelah selatan. "ah..kita sampai lupa menanyakan namanya.." gumam aki ragil "sudahlah paman..lebih baik kita meneruskan perjalanan.." aki ragil lantas lesatkan cemetinya keudara, dan pedati itupun perlahan mulai bergrak meninggalkan debu yang berterbangan.
__o0o__
Mentari sepenggalah ketika raden wiraloradra jejakan kakinya ditepi hutan sinang perbukitan Loyang, suasana alam sekitar sontak berubah hening, bahkan kicau burung dan desiran angin seakan sirap, anehnya walau malam ataupun siang kabut tipis senantiasa melingkupi wilayah hutan ini.
“terlalu hening..” gumam pemuda gagah ini sambil alirkan tenaga inti untuk sekedar berjaga-jaga. Ketika pemuda ini bermaksud meneruskan langkahnya dari arah yang tak terduga melesat satu sinar merah yang ketika berada tiga langkah dihadapannya melebar membentuk satu jaring, secepat kilat akuwu lembah cimanuk ini putar kedua tangannya searah jarum jam, sinar jaring merah tampak terhenti sejengkal dari badannya tapi tanpa diduga oleh raden wiralodra sepasang tangan dirasakan memegang pergelangan kakinya dari bawah dan sebelum menyadari apa yang terjadi tubuh pemuda gagah ini amblas tertarik kedalam tanah.
Delta sungai kapetakan meremang dalam kabut dini hari, satu sosok bayangan terlihat mematung sambil memperhatikan derasnya aliran sungai yang terdengar bergemuruh menerpa batu-batu gunung , satu jam telah berlalu namun sosok yang ternyata seorang pemuda berparas gagah berbaju hitam ringkas tetap berdiri seakan tidak memperdulikan alam sekitarnya yang mulai redup, gemuruh samar terdengar diangkasa rinai hujan mulai menitik membasuh bumi, diawali gemuruh samar diangkasa disusul kilat dan gelegar halilintar membelah jagat, sosok pemuda berparas gagah ini lentingkan tubuhnya keatas bersalto beberapa kali diudara dan dalam sekejap puluhan jurus olah kanuragan diperagakannya, saking cepatnya pemuda ini bergerak yang tampak kini hanya bayang-bayang hitam melesat kesana kemari, memasuki jurus berikutnya entah dari mana datangnya sebilah pedang tipis berdesing digenggaman tangan kanannya.